Cetak Artikel Ini
Ngintip Arab Berjudi di Jeddah
Ditulis 7/02/07, Kategori General, Laporan Haji.
Banyak cerita mengenai bagaimana bebasnya Jeddah, kota kedua terbesar di Arab Saudi setelah Riyadh. Sebagai kosmopolitan yang didiami banyak ekspatriat dari berbagai negara, Jeddah relatif terbuka dengan budaya luar. Sebutlah, misalnya, tempat-tempat hiburan.
Tentu saja catatan ini bukan hendak mengisahkan soal tempat hiburan itu. Sebab pastilah tak mungkin (dan tak boleh) ada kesempatan untuk berkunjung ke sana. Yang saya ingin kisahkan adalah pengalaman menyaksikan (lebih tepatnya mengintip) sejumlah pemuda Arab berjudi saat saya baru tiba di Bandara King Abdul Azis Jeddah.
Pemuda-pemuda Arab itu adalah pegawai kesehatan bandara, yang salah satu tugasnya memberi semacam vaksinasi kepada penumpang asal kawasan Timur Tengah. Karena kesulitan bahasa, saya tak sempat bertanya mengapa penumpang asal Indonesia seperti kami tak ikut divaksinasi. Waktu itu, yang divaksinasi adalah penumpang asal Afghanistan. Setiap penumpang harus menelan dua tetes cairan.
Sebelum rombongan dari Afghan ini datang, pemuda-pemuda itu tak ada kerjaan. Sambil menunggu waktu, di sebuah ruangan yang hanya berbatas dinding dengan kaca transparan, mereka asyik bermain kartu. Siapapun yang berada di dekat situ pasti bisa melihat asyiknya mereka mengocok kartu remi dan saling tanding kartu entah dengan permainan apa.
Saya yang agak penasaran iseng-iseng memotret aktivitas mereka ini dari balik dinding kaca. Tentu saja sembunyi-sembunyi karena khawatir mereka marah kalau tahu difoto. Sambil main kartu mereka juga minum kopi dan merokok, padahal jelas sekali di ruangan tertutup itu dilarang merokok.
Tadinya saya mengira mereka hanya main kartu biasa. Tetapi setelah saya perhatikan lebih serius, ternyata salah seorang dari pemuda itu mencatat setiap skor akhir permainan. Sesekali tampak juga mereka berdebat mengenai hasil permainan itu. Kalau hanya main kartu biasa, pastilah tak perlu catatan.
Saya terus memperhatikan gerak-gerik mereka, sampai ketika penumpang asal Afghanistan tiba dan mereka mengakhiri permainan. Bubar begitu saja? Tidak, mereka saling berbagi uang. Si pemuda tukang catat tampak seperti menggerutu. Mungkin karena dia kalah.
Begitulah, bahkan di tempat terbuka seperti itu ada sekelompok orang Arab yang berjudi. Konon, meski tidak disediakan tempat judi khusus seperti di Genting Highland Malaysia, perjudian di kota yang berada di sisi Timur Laut Merah ini memang marak. Ini boleh jadi disebabkan oleh pengaruh budaya luar, mengingat Jeddah memang cukup terbuka bagi pendatang.
Meski terbuka dan punya tempat-tempat bebas yang “tersembunyi”, sebagai kota di bawah pemerintahan Arab Saudi, Jeddah tetap menerapkan hukum Islam, termasuk bagi pekerja luar negeri. Salah satunya adalah soal berpakaian. Sudah jadi pemandangan biasa di tempat-tempat umum di Jeddah kita melihat wanita asal Filipina atau Thailand menggunakan jilbab yang sekadar menutup kepala, sementara busananya tampak sekali bukan busana muslimah. ***



judulnya sih tanah suci. tapi tanahnya aja yang suci.
susah kok jadi sempurna. orang suci memang cuma nabi besar SAW!
wehehehe ati2 om win klo org jedahnya mampir ke blog nya om win, bisa2 blog nya om win disegel :p
btw, pit mo ngasih saran gmn klo poto org2 sana nya di blur supaya mereka ga malu2 amat gitu klo ketauan judi
MASYAALLAH!!!!
hehehe…
*senyum senyum*
yg perlu kita pikirkan adalah,
jangan pernah menyamakan islam dengan negara arab.
kata temen2ku sih, itulah kenapa nabi turun di negara arab. karena mereka itu bandel!
kenapa ga di indonesia aja?
lah, dengan 9 wali aja, indonesia bisa jadi islam mayoritas di dunia…
hihihi…
jadi islam ya islam,
negara arab, ya begitu ituuuu…
duh! aku jadi sok tau…
hahahahaha
bowwwwwwww
hemmm,
orang arab hanya tampangnya aja….tau….
mang keliatan alim,,,,tapi nyatanya?
mereka keliatan baik dan so religius…tapi…
mereka juga tak lepas dari wanita(sex, judi dan mabuk (minuman keras).
bahkan mereka paling kuat dengan yang tersebut diatas itu….
Pelapor: “Pak Haji, Pak Haji, anakmu sedang judi!”
Pak Haji: “Astaghfirullah…”
Pelapor: “Tapi dia menang, Pak Haji!”
Pak Haji: “Alhamdulillah…”
ya.. namanya kemaksiatan akan selalu ada di mana2. tapi kita tidak bisa langsung menjastifikasi bahwa disana itu tempat perjudian marak, bahkan kalau mau jujur orang baikkya disana MASYAALLAH baik sekali sodaqohnya gak keitung, nah gimana?? malah mungkin di indonesia jauh2 lbh banyak (sama2 dilarang), tukang becak aja judi,
heehee iya kan so.. yang bagaimanapun mrk nakal tp kan tidak melegalkan & masih sembunyi2 (malu masih ada)
emang bener orang arab kan terkenal paling.
Paling baik sampe paling jelek. Katanya……
kata siapa mereka maen judi,wong mereka lagi maen kartu sambil nunggu buka puasa.mang keliatan uangnya,,,?gak kan.jangan soujon….aya,,,aya,,,wae
apa yang di katakan rekan semuanya di atas benar…. namuan ya itu tadi seharusnya yang namanya tanah suci itu ya mbok jangan di cemari, sebenarnya yang di jaman sekarang ini yang menghancurkan islam itu orang islam sendiri, contoh seperti di atas, meledaknya bom dimana mana (sekarang agak mendingan), perang irak, pokoknya perhatikan lah citra islam rusak bukan orang non islam tapi dari orang islamnya itu sendiri,,
lah wong gimana ora rusak di saudi itu peraturan ketat hanya untuk pendatang kalau untuk warganya yang melanggar peraturan, tau sendiri lah,,,,
padahal perturan syariat islam yang di terapkan sangatlah bagus, di tanah harom segalanya serba haram, bagi pria ngerokok haram bagi wanita membuka wajah haram, dll.
tapi untuk warga pribumi merkosa TKW bilangnya Harum,,,,
(lagian TKW nya sendiri mau di perkosa makanya harum)
Saya setuju kalo ada yang nakal di saudi, tapi setan ada di mana-mana. Yang penting ilegal, jadi paling tidak ada perasaan malu. Kalo masalah sadaqoh, Saya tahu sebagian orang WNI tanpa penghasilan dapat hidup layak dari sodaqoh yang mereka terima, bahkan sampe tua. Coba kalo mereka di sini pasti sudah mati di kolong jembatan tanpa ada yang peduli. Jadi masalah sodaqoh tidak ada istilah diskriminasi bangsa. Untuk hukum Saya sering lihat Qishos (hukum pancung) dilakukan terhadap warga Saudi sendiri, jadi tidak mungkin ada praktik diskriminasi kecuali saat-saat tertentu dengan kekebalan hukum seperti yang terjadi di mana saja dan itu sangat jarang terjadi. dan itu merupakan hal yang wajar
mas judi itu halal asal ga ngambil hak milik org lain dia org juga ngasihnya ikhlas ko.
weleh-weleh kok koyo ngono
semua yang ada disini terlalu banyak komentar!!! pertanyaan: bagaimana dengan anda, islam? sudah kah anda mengerjakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan. Ingat Hidayah hanyalah milik ALLAH. islam tidak membedakan arab atau ‘ajam. tapi siapa yang paling beriman.
terkadang kita pandai melihat kesalahan orang lain, tapi kesalahan sendiri tak nampak.
coba kita bayangkan negeri indonesia, yang jelas sesat saja dibela, oleh kyai lagi.
judi adalah kemaksiatan
membela kesesatan (mungkin sudah kafir) adalah lebih besar kemaksiatan yang dilakukan. apalagi yang melakukan seorang yang dimasyarakat disebut kyai, bisa-bisa semua orang islam yang tidak memiliki tauhid yang kuat akan pindah ke agama yang samar-samar.
perhatikan diri-diri kalian
bertaubatlah kepada ALLAH
perbaiki diri-diri kalian
sebelum kalian memperbaiki orang lain
Asstagfirullah ko bisa-bisanya Ya ..Yah Dunia memang sedang dilanda keanehan..apakah kita sebagai orang yang normal juga mau ikut aneh>>>??/Naudzubillah min Zalik Ya…
http://swadexi.blogspot.com/