Sebuah Takdir yang Tak Diharap

Ada tiga hal paling rahasia dalam hidup, yang kejadiannya di luar kuasa manusia; mati, rezeki, dan… tentu saja, jodoh.

Ilustrasi: www.wordsources.info/polygamy.gifKematian adalah sebuah misteri yang sampai sekarang tak seorang pun memiliki kemampuan bahkan untuk sekadar menebak waktu kedatangannya. Seorang sakit bisa panjang umur dan seorang yang tampak sehat bisa tiba-tiba wafat. Ada-ada saja jalan untuk tetap hidup atau harus mati. Seorang yang putus asa pun kerap tak berhasil bunuh diri, mungkin karena ketika bunuh diri dilakukan, malaikat maut sedang sibuk mengurus pencabutan ruh di tempat lain. Dan selamatlah dia.

Rezeki pun begitu. Tak sedikit orang miskin frustasi karena setelah mencoba semua jenis pekerjaan dan usaha, dia tetap tak kunjung berharta. Sampai-sampai akhirnya membuat kesimpulan bahwa takdir menggariskan ia tetap miskin. Sebaliknya banyak cerita orang yang kerjanya tidak jelas, bahkan cenderung malas-malasan, malah kaya raya. Kalau si malas miskin dan si rajin kaya itu sudah biasa. Yang selalu menarik adalah kisah-kisah mengenai kesugihan atau kemiskinan, yang kerap melewati batas-batas logika.

Jodoh, ini tak kalah menarik. Konon, bahkan sebelum terlahir ke dunia, semua kita telah diciptakan secara berpasang-pasangan. Apakah di sebelah rumah atau di belahan bumi lain entah di mana. Tak seorang pun yang ditakdirkan hidup sendiri tanpa pasangan. Lha… bagaimana dengan bujang lapuk yang sampai kematiannya tak juga beroleh jodoh? Mohon maaf, saya harus bilang, boleh jadi, pertemuan dengan pasangannya itu memang ditakdirkan tidak di dunia. Tapi di akhirat hehehe…

Tetapi ihwal jodoh ini, yang lebih menarik sekarang, bukanlah jodoh untuk bujang dan perawan, duda dengan janda, atau seorang pria single dengan wanita single. Perbincangan terhangat saat ini adalah jodoh untuk orang yang sebenarnya sudah dan sedang hidup bersama jodohnya. Singkat kata, jodoh tambahan begitulah. Poligami kalau istilah kerennya. 
Saya, ketika sedang memikirkan soal ini, berujar dengan tutur canda kepada satu-satunya (ya, hanya satu lho…) istri saya di rumah. Saya bilang, insya Allah, saya tidak akan berpoligami. Saya akan setia sehidup semati membesarkan keluarga kita yang bahagia ini. Tapi… nah, ada tapinya. Siapa yang bisa menolak takdir Tuhan? Karena mati, rezeki dan jodoh adalah rahasia Ilahi, maka saya pun, sebagai manusia biasa, tak mungkin sanggup menghindar bila akhirnya, Tuhan menakdirkan saya mendapat jodoh tambahan.

“Wah, itu sih takdir yang diharap-harap…” kata istri saya.

Hahaha… saya tertawa.

“Kalau tak ada takdirnya, diharap dan diusahakan seperti apapun nggak bakalan terkabul. Percaya deh… Sebaliknya, kalau memang ada takdirnya, biar dihindari sekuat tenaga tetap akan terjadi”

“Halah… takdir kok dibikin guyonan.”

***

Begitulah. Tak sedikit orang yang menghindari sakit (supaya tidak segera mati) dengan menjaga kesehatan, diet dan olahraga teratur, tidur yang cukup serta konsumsi suplemen dan vitamin. Ternyata, si sehat ini tetap harus meninggal karena kecelakaan di jalan raya. Hukum sebab-akibat tak berlaku karena kesehatan yang dijaganya habis-habisan itu tak sanggup melawan takdir yang mengharuskannya mati. Artinya, sehat saja ternyata tak cukup sebagai jaminan panjang umur.

Rezeki tak kalah misterius. Dikejar seperti apapun, kalau nasibnya memang kere, ya tetap saja kere. Rumus dan strategi berusaha sudah diterapkan. Pola permodalan dan manajemen keuangan digarap sebaik-baiknya. Menabung digiati demi mengumpulkan harta. Eee… Tetap saja ada urusan yang membuat selimut kemiskinan enggan menjauh. Pendek kata, rajin dan bekerja keras saja tak cukup menjamin seseorang menjadi kaya.

Maka, jodoh pun (mestinya) begitu. Sekeras dan seserius apapun seorang suami bertahan dengan hanya memiliki satu istri, tetap tak bisa lari ketika Tuhan, dengan otoritas dan intervensinya yang tak mungkin dilawan, membukakan jalan dan menuntun menuju poligami. Hingga sang suami, suatu ketika, harus dengan berat hati berkata… “Mau bagaimana lagi? Ini takdir, istriku…”

***

Dan… diskusi dengan istri berlanjut.

“Bahkan orang seberiman Aa Gym pun tak sanggup menolak takdir untuk mendapat jodoh tambahan. Apalagi suamimu yang imannya masih pas-pasan ini.”

“Itu sih akal-akalan sampeyan untuk cari pembenaran…”

“Apapun namanya…”

“Pokoknya enggak… Pilih takdir yang lain saja.”

“Maunya suamimu ini juga begitu. Percayalah. Sedikit pun tak terlintas niat untuk berpoligami. Sueerr… Meskipun…”

“Meskipun apa?”

“Meskipun, Tuhan bisa dengan mudah membolak-balik hati manusia. Kun, maka terjadilah. Sekarang tidak, besok bisa saja berubah. Itu rahasia Ilahi juga, kan…”

“Nah kan… ngakunya tidak, tapi masih dengan catatan. Pokoknya enggak… titik!”

Hahaha… saya, sekali lagi, hanya bisa tertawa. Tentu sambil menebak-nebak takdir macam apa yang bakal terjadi kelak. ***

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

11 Responses

  1. phie2t mengatakan:

    wakakak jadi intinya om win ga nolak takdir tuk poligami yak? hehehe klo istri om win ga ridho gmn tuh? :p

  2. putri mengatakan:

    Kalau takdirNya… istri yang jatuh cinta ama lelaki lain Om? Apa rela? Sama aja toh sakit hatinya? Sama aja toh perempuan juga punya TAKDIR ?

    hehehe..
    Doa bisa jadi kata-kata.. jadi sebaiknya gak usah memikirkan atau berandai-andai dengan takdir 🙂

    Salam buat keluarga…

  3. -f mengatakan:

    jadi kapan undangan kedua ini akan di sebar? *menebak* :d

  4. agusset mengatakan:

    kata dessy ratnasari: “takdir memang kejam”

  5. devie mengatakan:

    calonnya dah nemu ta Om?

  6. dinda mengatakan:

    ya kalau sudah ditentuin sama allah apa boleh buat . nasib seseorang tidak ada yang tau, allah telah menentukan nasib seseorang masing masing, yah om?

  7. adeeeeeee mengatakan:

    biar kada bah aiiii

  8. Kie2nd mengatakan:

    nyentuh banget om… coba kalo tiap orang mikirnya kayak gitu….
    (Gimana jadinya ya…????)

  9. lay...... mengatakan:

    takdir ma nasib sama ga sih???BINGUNG DECH…….kaitannya takdir dengan proses ikhtiar gmn dunk!!!bagi saya takdir itu “hasil” dari usaha seseorang yang hanya berhak ditentukan oleh Allah. Sedang mns hanya “berusaha”..jd jgn mlz berusaha krn “sdh takdir”..heeeeeeeee

  10. yuhendra rahmat putra mengatakan:

    tidak semua takdir yang tidak bisa dirobah..seperti yang anda bilang diatas tentang kematian,kalo itu memang sudah ada aturan dalam alqur’an bahwa semua yang hidup pasti akan mati.Tapi kalau masalah yang lain,seperti yang anda bilang di atas tentang rezeki.Menurut saya pendapat anda salah.sesuai dengan isi kandungan al-qur’an “asalkan manusia berusaha pasti bakalan ada balasannya.Jadi selagi manusia itu tetap berusaha mencari rezki di jalan Allah pasti akan mendapatkannya dan bisa merubah takdir nya sendiri.
    kalau menurut saya pernyataan anda ini membuat orang bisa putus asa
    dan tidak mau berusaha karena dia yakin bahwa takdirnya akan tetap
    seperti ini.


    Terima kasih. Mohon Anda baca lagi dengan baik tulisan saya. Saya tidak menyebut “takdir tak bisa diubah”. — windede

  11. patimura mengatakan:

    “ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum,kalau kaum itu tidak mau merubahnya sendiri”. Kadang kita melupakan kata ALLAH dalam kalimat itu sehingga,jika kita berubah maka nasib juga akan berubah pula,padahal dalam kehidupan ini ada hak prerogatif Gusti ALLAH,tak ada satupun yang lepas dari pengawasan ALLAH.nah..jika kita terlalu menelan mentah2 bahwa nasib berubah jika kita berubah itu berarti secara tidak langsung kita mengakui kalau ALLAH tidak kuasa atas segala hal.Bukanya sahabat Umar pernah berkata “kita berjalan keluar dari takdir yang satu untuk menuju ke lubang takdir yang lain”.Inikan pilihan yang disiapkan ALLAH.Kita memilih atau merubah ya?….

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.