Sebuah Takdir yang Tak Diharap
Ada tiga hal paling rahasia dalam hidup, yang kejadiannya di luar kuasa manusia; mati, rezeki, dan… tentu saja, jodoh.
Kematian adalah sebuah misteri yang sampai sekarang tak seorang pun memiliki kemampuan bahkan untuk sekadar menebak waktu kedatangannya. Seorang sakit bisa panjang umur dan seorang yang tampak sehat bisa tiba-tiba wafat. Ada-ada saja jalan untuk tetap hidup atau harus mati. Seorang yang putus asa pun kerap tak berhasil bunuh diri, mungkin karena ketika bunuh diri dilakukan, malaikat maut sedang sibuk mengurus pencabutan ruh di tempat lain. Dan selamatlah dia.
Rezeki pun begitu. Tak sedikit orang miskin frustasi karena setelah mencoba semua jenis pekerjaan dan usaha, dia tetap tak kunjung berharta. Sampai-sampai akhirnya membuat kesimpulan bahwa takdir menggariskan ia tetap miskin. Sebaliknya banyak cerita orang yang kerjanya tidak jelas, bahkan cenderung malas-malasan, malah kaya raya. Kalau si malas miskin dan si rajin kaya itu sudah biasa. Yang selalu menarik adalah kisah-kisah mengenai kesugihan atau kemiskinan, yang kerap melewati batas-batas logika.
Jodoh, ini tak kalah menarik. Konon, bahkan sebelum terlahir ke dunia, semua kita telah diciptakan secara berpasang-pasangan. Apakah di sebelah rumah atau di belahan bumi lain entah di mana. Tak seorang pun yang ditakdirkan hidup sendiri tanpa pasangan. Lha… bagaimana dengan bujang lapuk yang sampai kematiannya tak juga beroleh jodoh? Mohon maaf, saya harus bilang, boleh jadi, pertemuan dengan pasangannya itu memang ditakdirkan tidak di dunia. Tapi di akhirat hehehe…
Tetapi ihwal jodoh ini, yang lebih menarik sekarang, bukanlah jodoh untuk bujang dan perawan, duda dengan janda, atau seorang pria single dengan wanita single. Perbincangan terhangat saat ini adalah jodoh untuk orang yang sebenarnya sudah dan sedang hidup bersama jodohnya. Singkat kata, jodoh tambahan begitulah. Poligami kalau istilah kerennya.
Saya, ketika sedang memikirkan soal ini, berujar dengan tutur canda kepada satu-satunya (ya, hanya satu lho…) istri saya di rumah. Saya bilang, insya Allah, saya tidak akan berpoligami. Saya akan setia sehidup semati membesarkan keluarga kita yang bahagia ini. Tapi… nah, ada tapinya. Siapa yang bisa menolak takdir Tuhan? Karena mati, rezeki dan jodoh adalah rahasia Ilahi, maka saya pun, sebagai manusia biasa, tak mungkin sanggup menghindar bila akhirnya, Tuhan menakdirkan saya mendapat jodoh tambahan.
“Wah, itu sih takdir yang diharap-harap…” kata istri saya.
Hahaha… saya tertawa.
“Kalau tak ada takdirnya, diharap dan diusahakan seperti apapun nggak bakalan terkabul. Percaya deh… Sebaliknya, kalau memang ada takdirnya, biar dihindari sekuat tenaga tetap akan terjadi”
“Halah… takdir kok dibikin guyonan.”
Begitulah. Tak sedikit orang yang menghindari sakit (supaya tidak segera mati) dengan menjaga kesehatan, diet dan olahraga teratur, tidur yang cukup serta konsumsi suplemen dan vitamin. Ternyata, si sehat ini tetap harus meninggal karena kecelakaan di jalan raya. Hukum sebab-akibat tak berlaku karena kesehatan yang dijaganya habis-habisan itu tak sanggup melawan takdir yang mengharuskannya mati. Artinya, sehat saja ternyata tak cukup sebagai jaminan panjang umur.
Rezeki tak kalah misterius. Dikejar seperti apapun, kalau nasibnya memang kere, ya tetap saja kere. Rumus dan strategi berusaha sudah diterapkan. Pola permodalan dan manajemen keuangan digarap sebaik-baiknya. Menabung digiati demi mengumpulkan harta. Eee… Tetap saja ada urusan yang membuat selimut kemiskinan enggan menjauh. Pendek kata, rajin dan bekerja keras saja tak cukup menjamin seseorang menjadi kaya.
Maka, jodoh pun (mestinya) begitu. Sekeras dan seserius apapun seorang suami bertahan dengan hanya memiliki satu istri, tetap tak bisa lari ketika Tuhan, dengan otoritas dan intervensinya yang tak mungkin dilawan, membukakan jalan dan menuntun menuju poligami. Hingga sang suami, suatu ketika, harus dengan berat hati berkata… “Mau bagaimana lagi? Ini takdir, istriku…”
Dan… diskusi dengan istri berlanjut.
“Bahkan orang seberiman Aa Gym pun tak sanggup menolak takdir untuk mendapat jodoh tambahan. Apalagi suamimu yang imannya masih pas-pasan ini.”
“Itu sih akal-akalan sampeyan untuk cari pembenaran…”
“Apapun namanya…”
“Pokoknya enggak… Pilih takdir yang lain saja.”
“Maunya suamimu ini juga begitu. Percayalah. Sedikit pun tak terlintas niat untuk berpoligami. Sueerr… Meskipun…”
“Meskipun apa?”
“Meskipun, Tuhan bisa dengan mudah membolak-balik hati manusia. Kun, maka terjadilah. Sekarang tidak, besok bisa saja berubah. Itu rahasia Ilahi juga, kan…”
“Nah kan… ngakunya tidak, tapi masih dengan catatan. Pokoknya enggak… titik!”
Hahaha… saya, sekali lagi, hanya bisa tertawa. Tentu sambil menebak-nebak takdir macam apa yang bakal terjadi kelak. ***
