Biarkan Waktu Bekerja

Waktu berlalu. Seperti halnya bumi yang terus berputar, kita pun menua. Sebagian dari kemarin menjadi sejarah. Sebagiannya lagi menguap hilang dan terlupakan. Dalam banyak kesempatan, kita tentu saja melewati semua perjalanan waktu itu apa adanya, tanpa sebuah perenungan mengenai betapa sebenarnya setiap detik yang lewat sedang mengubah banyak hal dalam hidup kita.
Saya berhasrat membincangkan “hidup yang berubah” ini, ketika lagi-lagi memotreti dua jagoan saya yang rasanya tiba-tiba saja sudah besar. Lucu juga membayangkan bahwa empat tahun yang lalu mereka bahkan belum ada. Sebuah keajaiban yang sampai hari ini tiada henti saya syukuri.
Belakangan ini tingkah Safa dan Afif memang semakin menggemaskan. Mereka sedang sama-sama belajar bicara. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai dan semakin bersemangat pula mereka berlatih merangkai kalimat. Mirip teka-teki silang, tak jarang saya dan istri harus berkerut kening menerjemahkan ucapan yang mereka maksud.
Safa memang hanya lebih tua satu tahun dari Afif. Karena itu perkembangan pertumbuhan mereka nyaris seperti sepasang anak kembar. Apalagi kami tinggal di kompleks perumahan di mana hubungan sosial antar-tetangga bukanlah urusan penting. Setiap orangtua harus memikirkan sendiri perkembangan anak-anaknya. Maka, dunia lebih sering menjadi milik Safa dan Afif berdua.
Mereka diajarkan memanggil saya dengan sebutan Abah. Tetapi demi sebuah kehangatan diajarkan pula merangkai sebutan itu dengan nama saya, sehingga menjadi Abah Win. Belakangan, Afif merasa nyaman dengan hanya memanggil saya Win saja. Dan Safa mulai ikut-ikutan. Saya senang, meskipun secara kultur memang dianggap tidak sopan. Toh, hanya sebuah panggilan.
Pengalaman membuat saya sadar bahwa pada saatnya kelak, waktu akan merenggut semua kebahagiaan saya dengan anak-anak. Seperti halnya dua orangtua saya yang sekarang hanya bisa bertemu anaknya ini beberapa bulan sekali. Atau banyak orangtua lain yang bahkan selama bertahun-tahun harus memendam kerinduan kepada anak yang pergi jauh dan tak pernah jelas kapan kembali.
Waktu memang membuat segala hal berubah. Kita tak mungkin memiliki, untuk tidak menyebut menguasai, anak-anak kita dalam setiap waktu mereka. Ada saat di mana mereka harus hidup dalam dunianya sendiri, yang tak jarang bahkan tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebuah kesadaran yang patut diyakini para orangtua bahwa pada dasarnya setiap manusia, termasuk anak-anak yang mereka lahirkan, adalah individu yang berhak memutuskan sendiri hidupnya.
Maka, biarkan waktu bekerja, mengubah segala hal dalam hidup kita. ***
