Menitip Nyawa di Seutas Tali

Naik cable car dari Gothong Jaya menuju Genting Highland.

Betapa pun secara teknologi cable car merupakan alat transportasi yang aman, setiap manusia pastilah punya rasa takut. Bukankah yang disebut “berani” adalah melakukan apa yang kita takuti? Kalau ada orang bilang dirinya berani, maka sesungguhnya dia hanya sedang melawan rasa takut.

Saya pertama kali naik cable car tahun 2003 dalam trip ke Xiamen, China, ketika naik ke puncak Sunlight Rock. Seingat saya jaraknya tak terlalu jauh, mungkin lebih kurang 15 menit. Pengalaman kedua naik cable car di Tenggarong, Kutai Kertanegara, dari seberang Sungai Mahakam menuju Pulau Kumala, yang lebih singkat, tak sampai 10 menit. Pengalaman ketiga dan paling mendebarkan saya rasakan saat naik cable car dari Gothong Jaya menuju puncak bukit Ulu Kali di Genting Highland. Kali ini, jarak yang ditempuh hampir 4 kilometer dengan kondisi terus mendaki.

Sejauh yang saya tahu memang belum terdengar ada penumpang cable car yang celaka, entah karena talinya putus atau keretanya terjatuh. Namun, berada di dalam kotak yang menggantung di seutas tali, dengan sesekali guncangan, lumayan membakar adrenalin. Apalagi bila memikirkan bagaimana bentangan tali (cable) yang menjadi cantolan kereta itu mirip tali jemuran; kalau putus di satu titik, maka semua kereta akan ikut melorot berjatuhan di jurang-jurang.

Toh, di dalam cable car dari Gothong ke Genting, saya dan tiga kawan lain justru mendiskusikan bagaimana kalau sampai terjadi insiden. Saya bilang, di bawah kita, bukan cuma hutan belantara, tapi juga boleh jadi ada binatang buas, yang siap menyambut kalau kereta gantung ini jatuh. Hiiii… Di tengah obrolan panas dengan andai-andai terjadi kecelakaan itu, tiba-tiba dari arah berlawanan lewat cable car yang sudah tinggal rangka saja. Body luarnya entah ke mana. Saya langsung nyeletuk, wah… jangan-jangan… jangan-jangan…

Tawa pun pecah. Syukurnya, tak satu pun dari kami mengidap penyakit takut ketinggian. Semua tampak enjoy saja. Meskipun setiap kali melewati tiang penghubung, cable car terguncang lebih hebat. Saya juga sempat mencoba loncat-loncat, untuk menguji seberapa kuat tali yang sedang kami gandoli. Guncangan dan ayunan akibat loncatan itu membuat kawan lain meminta saya berhenti berlaku iseng hehehe…

Kereta gantung bukan lagi transportasi aneh, meskipun karena jarang, tetap menjadi daya tarik di objek-objek wisata. Apalagi memang cable car diciptakan bukan sekadar untuk wisata, tetapi memang berfungsi memudahkan transportasi. Bayangkanlah, seperti ke Genting, kita bisa menuju puncak lewat darat sejauh 15 kilometer, melalui jalan berkelok dan penuh jurang di kiri-kanan. Pakai cable car jarak itu dipotong hingga menjadi hanya 4 kilometer, dengan tingkat keamanan yang lebih terjamin.

Beruntunglah manusia, karena dengan kemampuan berpikirnya, hidup menjadi lebih mudah

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

2 tanggapan untuk “Menitip Nyawa di Seutas Tali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *