Koneksitas yang Bikin Demam

Demam handphone memang terjadi di mana-mana. Tidak di kampung tidak di kota. Alat komunikasi tanpa kabel ini mungkin telah menjadi benda massal peradaban sekarang. Dimiliki oleh hampir semua orang.

Di rumah, istri saya nyaris tak pernah lagi pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan harian. Ada tukang sayur keliling yang tiap pagi mengantar segala bahan dapur dari ikan sampai sayur segar; sesuai pesanan. Bagaimana memesannya? Setiap malam, menjelang tidur, istri saya rutin SMS-an dengan si tukang sayur; “Sawi ijo 2 ikat, ayam sedang 1, tempe, bwng mrh 1/2, jahe, kelapa parut, iga sapi, tepung terigu…”

Sejak dulu sih tukang sayur keliling sudah ada. Tapi ibu-ibu rumah tangga hanya bisa membeli apa yang dibawa. Itu pun yang paling beruntung adalah mereka yang tinggal di depan jalan masuk perumahan, karena dapat memilih varian lebih banyak. Yang rumahnya di ujung, biasanya kebagian sisa-sisa atau malah kehabisan.

Sekarang, tukang sayur membawa dagangan sesuai order. Di perumahan tempat kami tinggal, hampir semua ibu-ibunya setiap malam mengirim order ke tukang sayur lewat SMS. Saya sampai nyeletuk ke istri, hebat kali si tukang sayur, jadi favorit ibu-ibu satu kompleks.

Tetapi begitulah, teknologi telah mengubah segalanya. Tahun 1996, ketika pertama kali punya HP segede batubata berteknologi AMPS, yang kalau disimpan di saku baju bikin saku melorot, saya serasa jadi orang paling hebat. Waktu itu, jangankan HP, nempel pager di pinggang saja sudah keren abis. Semua mata menengok ke kita kalau pager itu berbunyi. Apalagi pakai HP… nangkring di saku meski baju melorot… pasti te o pe be ge te

Sekarang, orang menggenggam HP ke mana-mana sudah biasa. Di kampung saya malah sering terlihat tukang ojek yang lagi narik penumpang ber-SMS ria sambil mengendarai sepeda motor. Hebat kan? Tangan kanan pegang gas, tangan kiri sibuk mengetik SMS. Dalam situasi begini, kemungkinannya cuma dua; ini orang hapal jalan, atau hapal keypad.

Di area publik seperti mal, rumah makan atau apotek, adalah hal biasa setiap orang seperti beradu hebat. Masing-masing mengeluarkan HP, bahkan meskipun tidak sedang ada telepon atau SMS. Sekadar pencet-pencet keypad. Suatu hari, seorang kawan, entah dilatari maksud apa, menjadi malu sendiri, ketika dia seolah-olah bicara di HP, tetapi pada saat yang sama HP yang tertempel di telinganya itu berdering. Mau bergaya tapi ketahuan bohongnya hehehe.

Dua petugas loket transportasi sungai di Bangkok. Asyik dengan telepon.

Ketika keliling menyusuri sungai Chao Phraya di Bangkok, saya juga geli sendiri melihat dua petugas loket di salah satu pemberhentian sungai itu asyik dengan HP-nya. Entah sedang bicara apa, yang pasti mereka sama-sama sibuk sampai-sampai beberapa penumpang yang beli tiket dilayani dengan cuek; tanpa ada interaksi sekadar senyum atau tatapan mata.

Saya termasuk pengguna HP aktif, yang kadang-kadang, hmmm… atraktif juga. Mungkin karena sudah ikut ketularan apa yang disebut Pakde Totot sebagai Penyakit Sosial Baru. Tetapi, dalam banyak hal, saya merasa tetap memanfaatkan HP secara wajar, sesuai fungsi dan kebutuhan. Lebih dari itu, HP betapa pun adalah pendukung hidup yang penting dalam peradaban manusia hari ini.

Dengan HP pula saya terbantu membereskan kerjaan yang harus diselesaikan segera, sementara saya tidak sedang di kantor. Dengan sambungan GPRS di Communicator, saya bisa online internet di mana pun selama ada sinyal. Di tempat umum seperti bandara dan pusat perbelanjaan di kota-kota besar malah sudah ada wi-fi gratisan, sehingga bisa internetan dengan HP sesuka hati. Jauh lebih praktis ketimbang harus menenteng laptop ke sana kemari.

Ketika komunikasi menjadi mudah tanpa harus dibantu burung merpati pembawa surat, maka dunia adalah sebuah koneksitas yang nyata. Dengan internet kita terhubung bahkan secara private dengan seseorang di belahan bumi lain, real time dalam gambar sekaligus suara. Sesuatu yang pada peradaban terdahulu tak pernah terpikirkan.

Teknologi akan terus memberi kejutan bahkan sekalipun John Horgan meramalkan bahwa ilmu pengetahuan sudah berada di senjakala dan sebentar lagi mati. Meski peradaban manusia belum tentu segera beradaptasi dengan setiap kejutan itu, toh baik saja kalau kita nikmati hidup ini.

Oh iya, atas nama “menikmati hidup” itu… posting ini juga saya ketik dari HP, dan upload dengan GPRS. Mudah-mudahan tidak disebabkan “demam”, karena kebetulan koneksi internet di kantor memang sedang down

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.