Cetak Artikel Ini
Komplotan Moge, Apa Kalian Asosial?
Ditulis 17/02/06, Kategori Budaya, General, Manusia.
Di banyak milis sedang ramai diskusi soal kelakuan pengendara motor gede (moge), yang dinilai kerap arogan di jalan raya. Seolah jalan publik menjadi milik mereka dan karena itu bisa ngebut suka-suka sambil menyuruh (sering juga memaksa) pengguna jalan lain minggir sepinggir-pinggirnya. Soal ini malah jadi berita serius yang cukup di-blow up di detik.com beberapa hari terakhir.
Saya termasuk yang sering gerah dengan komplotan moge ini. Kalau konvoinya sudah lewat, kendaraan lain pasti harus minggir. Bukan saja dengan sirine, tetapi juga memainkan gas motor mereka yang super bising itu. Dalam beberapa hal saya lantas mikir, ini orang-orang kok asosial sekali. Padahal, mereka adalah orang-orang berduit dan sebagian lagi berpendidikan. (Soalnya ’kan ada juga yang berduit tapi bodoh, lantas jadi kampungan hehehe…)
Tapi kalau kita tuduh asosial, maka para pemilik kendaraan mahal ini pasti membantah. Sebab dalam aksinya mereka memang bukan sekadar mengacaukan lalulintas, tetapi juga (kadang-kadang) bikin aksi sosial seperti bagi sembako kepada rakyat miskin. Artinya, kalau di jalan raya tampak arogan, di tempat gelaran aksi sosial itu mereka adalah orang-orang yang berhati lembut.
Saya lebih memandang masalah ini dalam konteks rasa keadilan bagi masyarakat. Orang-orang berduit pengguna motor gede itu, betapa pun, bukanlah kelas istimewa di republik ini. Okelah sebagian dari mereka adalah pejabat dan pengusaha, tapi tetap tak ada hubungannya antara status sosial itu dengan kegiatan hobi mereka. Silakan lakukan hobi, apapun itu. Tapi jangan sampai mengganggu orang lain.
Saya beberapa kali harus berurusan dengan konvoi moge. Di jalan raya, meskipun kadang suka ngebut juga, saya tetap mengukur kenyamanan orang lain dalam berkendara. Nah, suatu hari, di belakang saya sirine meraung tanda ada sesuatu. Tadinya saya mau minggir karena berpikir itu sirine ambulans atau pemadam. Ah, ternyata komplotan moge. Maka, saya tetap melaju di lajur yang adalah hak saya.
Komplotan moge itu marah karena mereka tak bisa menyalip. Lampu dikedip-kedipkan, gas dimainkan dengan kasar dan klakson berbunyi berkali-kali. Saya tetap di lajur saya, tak mau minggir karena jalan lumayan padat. Mereka merapat ke mobil saya, menunjuk-nunjuk, menuding dan ngoceh entah dengan omelan jenis apa. Ketika ada sedikit celah untuk menyalip, mereka bergiliran mencuri jalan. Salah seorang di antaranya memberi hadiah acungan jari tengah. Saya tak melakukan apa-apa. Hanya mengeluarkan kamera dan, sambil tetap mengemudi, memotret kelakuan mereka. Mereka tentu tak melihat saya karena kaca mobil saya lumayan gelap.
Di banyak kesempatan yang lain, saya selalu bersengaja tidak memberi jalan kepada konvoi beginian. Sekadar ingin memberi perlawanan bahwa mereka bukanlah kelompok istimewa, meskipun di dalamnya ada perwira polisi – yang karena itu membuat petugas lalulintas bukan saja tak berani ambil sikap, tapi malah ikut mengatur memberi pengawalan.
Saya juga sering menghalang-halangi jalan untuk rombongan gubernur atau walikota, atau siapapun dengan konvoi mobil pelat merah, ketika mereka hendak mendapat jalan lempang di tengah kemacetan lalulintas. Sebagai pejabat publik menurut saya tidaklah tepat mereka diistimewakan di jalan raya. Justru seharusnya mereka memikirkan bagaimana supaya jalan tidak macet dan warga bisa berkendara dengan nyaman. Bukannya malah dikawal, menyuruh minggir pengguna jalan lain, dan mereka melenggang nyaman meninggalkan sisa kemacetan yang semakin parah.
Saya hanya mau minggir kalau yang ada di belakang dan meminta jalan adalah ambulans atau pemadam, sebab mereka memang perlu ngebut untuk mengejar kedaruratan. Saya juga bersedia minggir kalau pengendara di belakang saya memang lebih laju sementara saya punya kesempatan untuk minggir; jalan tidak macet dan cukup ruang untuk menepi. Saya sedapat mungkin akan menghalang-halangi manusia-manusia arogan yang hendak berlaku semaunya di ruang publik.
Suatu hari, di belakang saya sedang ada konvoi truk tentara yang baru pulang dari apel/upacara (entah peringatan apa saya lupa). Anda tahu sendiri, tentara kita kalau sudah ngumpul begitu juga akan jadi raja yang super arogan. Ngebutnya luar biasa dan ada sepeda motor yang hampir saja terserempet. Sampai di belakang saya, dengan sengaja saya halang-halangi. Mereka mau menyalip dari kanan, saya geser mobil ke kanan. Mau ambil lajur kiri, saya geser ke kiri. Saya diklakson panjaaaang sekali. Sampai akhirnya mereka berhasil menyalip dan puluhan pasukan di bak belakang melempari mobil saya dengan botol air mineral. Hehehehe… untung nggak sampai ditembak!

Yeah, tingkah polah orang-orang di republik ini super lengkap. Pejabat yang hidup bergelimang harta dari duit rakyat itu diperlakukan istimewa, sampai-sampai dulu sempat heboh ada mobil Wapres nyelonong di jalur Bus Way. Orang-orang kaya merasa mereka penduduk kelas satu yang harus diperlakukan VIP di mana pun. Berpamer harta pakai motor gede, muter-muter kota sambil buang-buang BBM.
Hmm… republik ini memang sedang sakit.
Random Posts
23 Responses to “Komplotan Moge, Apa Kalian Asosial?”
- 1 Pingback on Mar 12th, 2007 at 11:06 am



Sayapun Memiliki Pengalaman Seperti Anda.. Saat Saya Pulang Sehabis Jalan Dengan Pacar Saya, Tiba-Tiba Dari Belakang Ada Mobil Mentri Yang Di Kawal Dengan Menggunakan Mobil Blazer Hitam Dan BM Di DepanNya! Ketika Saya Hendak Menyelip Karena Harus Bergegas Ke Rumah Sakit Saya Malah Di Serempet Oleh Mobil Blazer Tersebut Yang Di DalamNya Terdapat Manusia Kekar Namun Tak BerOtak! Mereka Tidak Tahu Siapa Saya, Bila Mereka Mencari Cari Masalah Dengan Saya! Sayapun Tinggal Menelpon Ayah Saya Yang PastiNya Memiliki Jabatan Juga Seperti Mentri Yang Di KawalNya! Mereka Tidak Tahu Bahwa Ayah Saya Seorang Laksamana..
Lain Kali Bila Ada Mentri Yang Di Kawal Seperti Itu Lagi Melintasi Badan Jalan Dan Memboikot Jalan Saya Tak Akan Segan-Segan Untuk Mencatat NopolNya Dan Akan Saya Laporkan Ke Ayah Saya Agar Dapat Di Proses Lebih Lanjut! Mentri Itu Saya Dan Masyarakat LainNya Yang Memberikan Gaji.. Kalo Tak Ada Masyarakat Mereka Bukan Apa-Apa! Jadi HormatiLah Masyarakat, Sebelum Jadi Mentri Aja Melas-Melas Sesudah Jadi Mentri SombongNya Bukan Main! Mentri Anjing..
Saya sering pulang lewat jalur puncak diakhir pekan tuk sekedar pulang kampung dari kepenatan bekerja di Ibukota, tentunya diakhir pekan dimana jalur puncak hampir dapat dipastikan macet,Tapi kenapa ketika yang lewat rombongan moge atau mobil pejabat berplat merah, mereka malah diaksih jalan dan dikawal, Sedang yang lain harus bergantIAN MENGANTRI .Apakah mereka sadar kalo di akherat nanti tu motor ama plat merah ga bakal dibawa saat melewati sirotul mustaqim.Semoga para pemilik moge dan penumpang plat merah diberi sikap yang arif.
maaf buat semua para pengomentar,,saya selaku perwakilan dari MBC menurut saya tidak semua pengendara motor besar atau MOGE itu selalu bertindak arogan ada pula yang lebih bercondong kepada tindakkan sosial ,,mungkin bagi para pengendara MOGE yang bertindak arogan itu disebabkan karena keadaan yang terjadi di jalan raya,seperti macet dan cuaca.apabila cuaca dijalan teramat begitu panas maka secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka lain halnya dengan pengendara mobil,apabila cuaca panas maka mereka tinggal menyalakan pendingin untuk menurunkan suhu tubuh,,jadi apabila pengendara MOGE itu selalu bertindak arogan coba dech untuk mencoba merasakan untuk mengendarai motor dan jangan mengendarai mobil pasti akan terasa bagaimana rasanya,,,
Sebagai penggemar moge, sangat mendukung jikalau moge dapat tertib di jalan, bagi saya pribadi setiap pemilik pengendara itu mempunyai hak masing-masing untuk menggunakan jalan, oleh karena itu alangkah baiknya jikalau para pemilik kendaraan sama-sama menyadari akan hak pengendara lain dengan kata lain tidak saling merugikan antara sesama pengguna jalan:)
Bolehkah kami meminta alamat para bikers moge di wilayah jawa tengah?
Jikalau anda para bikers moge (khususnya berdomisili di wilayah jawa tengah) ingin mengirimkan alamat anda silahkan untuk meng email ke alamat ini:
dear_dedy@yahoo.co.id saya ingin berbagi sherring dengan anda:)
Buat Bang Ariel dan Dedy yang tampan-tampan sekaligus tajir.
Nih, saya kasih bocoran alias salinan surat yang sudah saya kirim ke koran tentang kelakuan liar SEBAGIAN BESAR rekan sejawat Anda, para ‘tuan’ jalanan (diilhami oleh bus yang dijuluki raja jalanan) penggila kendaraan boros energi alias moge. Saya kasih bocorannya sebelum naik cetak.
Rombongan Harley Davidson (HD) yang Arogan
Pada hari Selasa, 14 Agustus 2007, sekitar pukul 17.30, saya sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Prambanan melalui jalan raya Yogya-Solo. Ketika saya sampai di sebelah timur Gerbang AAU, tiba-tiba ada sirene berbunyi. Saya mengurangi laju dan mengarahkan sepeda motor saya ke tepian jalan sesuai prosedur yang berlaku. Saya kira mobil ambulans atau rombongan pejabat yang akan lewat, tapi ternyata rombongan sepeda motor besar HD yang berjalan searah dengan saya, menuju ke arah Solo. Saya tidak tahu persis jumlahnya, namun mencapai puluhan motor.
Yang saya sesalkan adalah sikap berkendara mereka yang sepertinya ugal-ugalan dan tidak tahu sopan santun berkendara. Saya yakin mereka melaju pada kecepatan sekitar 90 – 100 km per jam. Padahal jalan raya Yogya-Solo adalah jalan umum biasa, walaupun terdapat dua lajur pada setiap arahnya, dan ada pembatas jalan di tengah. Sudah menjadi kebiasaan warga, apalagi pada sore yang sejuk dan cerah, maka banyak warga di sekitar jalan itu yang berjalan-jalan naik sepeda atau sepeda motor dengan kecepatan rendah, sambil membawa anak-anaknya. Banyak pula para penglaju bersepeda motor yang akan kembali ke Prambanan, Klaten atau Solo dari Yogyakarta.
Dengan panjang rombongan pertama mencapai sekitar 500 meter, disusul beberapa gelombang rombongan di belakangnya dengan jumlah lebih sedikit, beserta mobil-segala-medan pribadi yang mengiringi dengan laju yang tak kalah cepatnya – mengalahkan kecepatan bus-bus jurusan Solo atau Surabaya yang sudah terkenal ugal-ugalan – cukup membuat pengguna jalan, warga sekitar jalan, dan saya sendiri kaget dan ngeri. Juga menjadi sangat terganggu, karena di samping berkecepatan sangat tinggi dan bunyi mesin yang memekakkan, mereka juga tak sungkan menyalip para pengguna jalan yang lain pada jarak sangat dekat, dan tidak memberi toleransi pada kendaraan yang akan menyeberang. Saya sendiri yang berkendara di tepian jalan, hanya berjarak sejengkal tangan dari pundak saya ketika disalip salah satu motor besar itu. Bahkan seorang ibu yang memboncengkan anaknya yang masih kecil, sampai harus berhenti di tepi jalan dengan wajah khawatir, sambil menenangkan anaknya yang menangis ketakutan, karena ngeri melihat kecepatan dan suara motor-motor besar itu. Saya tidak melihat adanya kawalan Polisi saat itu.
Ketika sampai di sekitar Kalasan, saya melihat ada seorang pengendara-motor-biasa yang mengulurkan kakinya dengan bersikap menendang pada rombongan HD itu. Sepertinya dia mengekspresikan kekesalannya, karena sudah sangat jengkel dengan perilaku mereka. Lalu dibalas dengan reaksi salah seorang yang berada di dalam mobil pengiring rombongan, dengan penampilan plontos ala preman, menjulurkan badannya dari jendela mobil sambil mengacungkan tangannya dengan marah kepadanya. Serta merta dibalas lagi dengan acungan tangan sang pengendara-motor-biasa tadi. Namun rombongan HD itu segera berlalu, sehingga tidak menimbulkan masalah lebih lanjut. Suatu pemandangan yang menggelikan, namun ironis.
Masyarakat SERINGKALI terganggu dan terancam keselamatannya oleh rombongan motor HD ini. Namun masyarakat masih bisa menahan diri dari rasa jengkel dan marah, walaupun tidak ada sepatah kata “permisi” atau “maaf” pun dari para pengendara HD itu. Lucunya, rombongan PULUHAN HD yang ugal-ugalan tadi ternyata sangat sensitif, sehingga menjadi sangat terganggu oleh sikap SATU orang pengendara-motor-biasa yang jengkel tadi. Mengapa rombongan HD itu tidak meniru rombongan pejabat, tentara ataupun mobil ambulans yang bersikap santun di jalan umum?
Inikah sebentuk kontradiksi sekaligus sikap egoisme dan kemanjaan mereka? Di satu sisi mereka tampil gagah dengan mengendarai motor besar beserta segala atributnya yang mahal dan mewah dan kecepatan yang di luar batas di jalan umum. Namun mereka tidak mau jalur mereka terhalangi oleh satu gangguan kecil sekali pun. Mereka juga sepertinya haus pengakuan diri. Menganggap diri sebagai kalangan berpunya dan dari kelompok ekslusif yang ‘lebih tinggi’ dan terpisah jarak dari rakyat kebanyakan. Oleh karena itu orang lain harus wajib mengalah dan terkalahkan untuk menyediakan jalan demi melampiaskan nafsu egois mereka. Menganggap jalan umum adalah “milikku dan kelompokku saja, sedangkan orang lain hanya numpang”. Termasuk nafsu mewujudkan impian kekanak-kanakan mereka yang tak terpuaskan : mendatangkan suasana koboi amerika sambil mempertunjukkan perilaku premanisme dan kekerasan di ruang publik ! Dan bisa jadi acara bakti sosial yang sering mereka lakukan, selain untuk pamer, juga menjadi alat pemakluman atau tameng pelindung liarnya mereka di jalan umum. Sungguh ini menjadi sebuah parade manusia purba yang tidak sehat di jaman modern. Apalagi perilaku ala orde baru yang barbar itu tak pantas lagi dilakukan di masa reformasi ini.
Tentulah akan sangat kecewa, para pembuat sepeda motor HD di seberang lautan sana. Karya yang sedemikian indah, elegan dan mutakhirnya, menjadi ternoda kemasyhurannya oleh ulah pengendaranya yang liar dan membahayakan orang lain di sini. Di Indonesia. Tentu kita juga tidak ingin mendengar mereka berkata, “Hmmm, those are habit of riders, from a country which cannot built their own motorcycle yet.” (Begitu rupanya perilaku pengendara dari negeri yang belum bisa membuat sepeda motornya sendiri). ?!?
Pak Kapolri, silakan Anda menindaklanjutinya sebelum menimbulkan korban atau hal-hal buruk lainnya di tempat lain di waktu mendatang. Bagaimana tanggapan Anda, Bang Indro Warkop, atau Mas Thukul Arwana yang punya HD baru? Saya yakin Anda berdua adalah tetap pengendara HD terhormat, yang selalu mematuhi peraturan di jalan umum.
Terima kasih banyak, Mas Erwin.
terus terang,saya sangat menggemari moge,tapi belum sempat saya wujud kan untuk memiliki motor itu sampai sekarang,mungkin belum.ada beberapa sisi yang saya sayang kan atas tindakan beberapa club motor besar itu,terutama yang seperti ada semua sesal kan.ini juga bedasarkan pengalaman saya,waktu itu saya sedang perjalanan pulang menuju kediri dari malang.Dari kawasan dinoyo yang saat itu sudah macet karena hari libur,tiba-tiba polisi menghentikan kendaraan di jalur saya.beberapa saat kemudian dari arah berlawanan saya,terdengar suara sirene dan dentuman suara motor gede.kesan pertama melihat itu (sebagai penggemar yang belum kesampaian) saya ternganga di buat nya iri.tapi rasa itu tak lama setelah saya melihat,salah satu dari mereka mendorong seorang pengendara motor biasa yang menurut saya yang melihat itu motor biasa tadi sudah cukup minggir(padahal jalan tadi macet),hingga terseok hampir jatuh.untung pengendara yang super baik hati tadi cuma tersenyum dan menghentikan motor nya.saya saja yang melihat kejadian tadi ingin sekali membakar motor seorang nya sekalian kalau perlu.contoh donk HDCI surabaya yang menurut saya cukup tertib meski kadang sedikit ugal2an juga,mereka selalu mengacung kan jempol dan tersenyum ketika mendahului mobil di jalan yang lumayan padat.
saya ikut prihatin kalo temen temen disini sering berhadapan dengan MOGE ers jujur saya katakan sebenarnya kami pun (Mogers) merasakan apa yang temen temen rasakan tapi bukannya kami para mogers tidak pernah mengalami kejadian yang sama ketika kami mengendarai mobil pun sering berhadapan dengan temen temen pengendara motor kecil yang berkelakuan serupa tapi dengan lapang hati kami memberi jalan kepada mereka karena semacet apapun kita kalo didalam mobil banyak kenyamanan yang masih bisa kita dapatkan dibandingkan dengan mereka pengendara motor baik gede maupun kecil or angkutan umum yang suka seradak seruduk……semua itu cuma sebentar kok apa lagi moge satu bulan belum tentu sekali kita ketemu mereka jalan keliling kota or luar kota apa salahnya kita beri mereka kesempatan menikmati hobi mereka mudah mudahan suatu saat kita juga bisa melakukan hobi kita tanpa melukai orang lain……..
Buat Para Bikers Yang dapat Makian Yang sabar yah sebenarnya kualitas manusia ada pada kesabaran dalam menghadapi masalah …..
Buat yang tidak setuju dengan tingkah laku sebagian kecil Bikers yang kurang sopan sebaiknya interopeksi diri dulu baru maki maki, di indonesia ini dari seluruh pemilik kendaraan bermotor saya berani bertaruh kalo cuma kurang dari 50 % yang mengerti aturan dijalan raya…. kita para pengendara motor Besar sebenarnya menggunakan sirene or strobo hanya untuk keamanan semata agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan ….
kecelakaan di jalan raya yang disebabkan oleh pengendara Moge sangat lah kecil dibanding dengan yang lainnya itu salah satu bukti bahwa sirene dan strobo bisa meminimalkan kejadian yang tidak di inginkan oleh kita semua ……
mohon dijadikan renungan terima kasih ……..
TOBATTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT PAKKKKKKKK IBUUUUUUUUUU, AKU GA LAGI LAGI DEH NGEBUT DIJALAN, DAN URAKAN APA LAGI BERGAJULAN DI JALAN YANG PUNYA HAKNYA KAUM FAKIR MISKIN……………
AMPUUUUUUUUUUUNNNNNNNNN. …. KALO SAODARA2 KAUM FAKIR INGIN MEMINJAM MOTORKU INI BOLEH KOK DAN AKAN SAYA PINJAMKAN TANPA PUNGUTAN APAPUN ALIAS GERATIS KARNA MOTOR INI PUN ADA HAK ANDA JUGA………! JADI MAAFKAN ATAS KEHILAFAN KAMI DAN TEMAN2 KAMI DI JALAN, DAN KAMI AKAN MENGGALAKKAN LANGIT HIJAU DENGAN MNGGUNKAN TRANPORTASI SEPEDA YANG BEBAS POLUSI…!
RAWE-RAWE RASTAS MALANG- MALANG PUTUNG , BERSATU KITA TEGUH DAN BERCERAI BERAI KITA KEBLANGSAK…DAN SEKALI LAGI KAMI MENGHIMBAU KEPADA SODARA SEBANGSA DAN SETANAH AIR UNTUK LEBIH MEMPERHATIKAN KEDAULATAN BANGSA DAN TINGKATKAN PERSATUA DAN KESATUAN KEMBALI JGN TERJADI DISINTEGRASI BANGSA….BISA KIAMAT MEMANG SUDAH DEKAT.! TERIMAKASIH
HUAHUAHEUHAEUHEAUHAUHEAUAAA…..
ada juga yang senada dengan saya isi blog nya…
http://digitalmbul.com/blogs/2007/09/27/blokir-jalan/
http://digitalmbul.com/blogs/2007/10/08/inikah-kegiatan-bakti-sosial/
sampai-sampai saya harus mengeluarkan statement :
http://digitalmbul.com/blogs/2007/10/09/klarifikasi/
silahkan dikunjungi..pak…
sebelumnya perkenalkan, saya Rio Octaviano, dari klub mobil juga motor..hehehe…
tapi saya lebih banyak beraktivitas di Forum Safety Riding Jakarta, dengan beranggotakan 70 perwakilan klub motor di Jakarta…yang menjadi wadah pemerhati kehidupan sosial dalam berkendara di jalan.
Dan memang, saya sangat vokal sekali bila sudah bersinggungan dengan yang namanya arogansi, entah itu di bungkus dengan kertas emas sekalipun…
Banyak sekali yang masih berpikiran, bahwa aktivitas memblokir jalan demi kepentingan kelompok itu berguna..mungkin buat eksistensi…
tapi apa daya, pak???
bila bapak baca tulisan saya, PATWAL yang notabene resmi dari POLRI, bisa di bayar, untuk melancarkan perjalanan..mungkin bila bapak punya uang lebih, dari kantor bapak, mao kencing di rumah, tinggal bayar 1 juta s/d 3 juta, bapak sudah bisa dapat voorijder…resmi dari POLRI…jadi gak perlu kuatir akan melanggar PP 43 atau 44….
Sistem kita sudah carut marut pak..sudah teramat berantakan, instansi-instansi yang mengurusi lalu lintas ibukota, sedang sibuk berseteru di atas sana….
Maka dari itu, kami dalam FSRJ, memulainya semua dari diri sendiri….dan kebetulan..kami mendapat kesempatan untuk menyuarakan aksi kami…tunggu saja..hehehe….
Walaupun tindakan kami ini, bukan sedikit mendapat tentangan….walaupun itu dari “lingkungan” kaum otomotif sendiri….
Doakan kami pak…doakan kami dapat merubah budaya RUSAK ini….
oiya pak..satu lagi…
motor saya juga termasuk besar looh…hehehehe….
Mungkin ada brothers dari moge…
masalah dari dilema ini adalah, kepedulian sosial dalam bermasyarakat…
Banyak dari kami bikers, yang tadinya menggunakan strobo, sirine, atau rotator, sudah dengan ikhlas mencopotnya….karena..mungkin udah di “paksa”…dan AROGANSI sudah tidak jaman lagi di kalangan kami….
Ketika rolling atau touring, kami lebih memilih berhenti ketika lampu merah menyala, ketika harus menyalip, kami memilih “menghormati” jalur yang kami salip tersebut….
Ketika lalu lintas tidak bersahabat untuk aktivitas group ride, kami memilih untuk “memecah” barisan kami, daripada menghalau lalu lintas….toh..di depan kami dapat berkumpul algi, dengan bantuan radio komunikasi tentunya….
Mungkin mulai dari memperbaiki sifat kita sendiri…
saya sendiri?? saya memulai dengan mencopot flasher lampu sign, dan juga stroblight…*cuman sempet kepasang 1 bulan, mau coba2*
RUGI? IYA…tapi puas….
SETUBUHHHHH EH…. SETUJUUUUUUU
hidup moge
terus terang saya lom pernah ngalamin hal kaya gini……
tapi yang jelas saya sangat bangga dengan adanya moge, yang mana patut kita contoh perilaku mereka yang sangat sosial.
oke ga perlu basa basi, saya asalah fans berat moge, cuman saya lom ada tmn atau kenalan. but para moge i love u
memang sering juga konvoi moge seenakknya sendiri. tapi di kota saya ada club moge yang memiliki visi dan misi untuk tertib di jalan serta para anggotanya dilarang ugal-ugalan. bahkan club moge yg satu ini ingin menjadi contoh pada masyarakat untuk tertib lalu lintas. tidak semua para pengendara moge selalu ugal-ugalan.
Moga2 mereka insfa ya, mas..
Kan orang lain juga bayar pajak jalan. hehehe..
Salam kenal!
gw rasa..ga’ semua moge kaya gt (urakan….ga’ tau aturan de..el..el..yang norax2, gw yakin dihati kecil mereka sendiri kalo disuruh jujur mereka pada ga’ mau kaya gitu….gw rasa yang harus disalahin voorijdernya…aja..kenapa harus ada dikecepatan kaya’ begono….mereka harusnya dapet pelajaran tambahan gimana caranya jadi voorijder nyang bae…n’ bener….bro dari FSRJ, tolong donk luangin waktu dikit buat…kasi materi sama mereka…kasian pan punya duit..tapi ga’ ngerti apa2….otre..bravo rider Indonesia..nyang udah2 biarin aja nyang penting tetep kompak yach…
lsg aja, pd tgl ini kira2 jam 1 siang, saya dari jogja menuju bandung, ga tau ada acara apa, ko byk skali HD maupun moge menuju ke jawa tengah, intinya ada sebuah rombongan kira2 5-6 HD dibelakangnya tyt Fortuner dan land cruiser, kendaraan yang saya naiki nyungsruk ke semak2, gara2 ada rombongan td, pas belokan membunyikan sirene, karena saya kaget, stlah itu mereka pergi seperti ga da kejadian apa2, TERIMAKASIH, (dikota :alim, ngikutin aturan lalin, memperbaiki image Luar kota :sok2an, salut buat gangster yg ga munafik spr HD rider) tp yg saya liat, ada rombongan motor classic, mrk rapi dlm rombongan, ga ugal2an, nyalipnya bersih, ga perlu pake sirene
Gara2 ada konvoy MOGE beberapa hari ini keliling jawa, dan menelan korban pengendaranya sampai meninggal.. mungkin ini adalah peringatan dr Tuhan YME bahwa tidak sepatutnya kita sombong , arogan, dengan alasan apapun. karena gerah panas atau punya sesuatu yang lebih.
Semoga menjadi PERINGATAN buat kita semua agar jangan AROGAN.
Kebetulan di singapore tempat saya mencari sesuap nasi.. tidak pernah saya menjumpai rombongan pejabat yang minta diistimewakan, kecuali perdana menteri atau presiden, dan ambulan plus pemadam kebakaran.
sebaiknya kasih jalan aja mas bro…
sepertinya anda susah melihat orang ingin mendahului kendaraan anda,
memang benar anda sudah bayar pajak atas kendaraan anda, tapi mereka juga membayar pajak atas kendaraan mereka, yang kelihatan disini adalah anda kurang memiliki rasa legowo, sehingga saya yang membaca tulisan anda juga panas terhadap para mogers, akan tetapi setelah saya pikir untuk apa sih menghalang-halangi konvoi itu. kalau mereka jatuh tersenggol mobil bagaimana? apa mau tanggungjawab.? jangan merasa sok bener mas bro. setidaknya anda legowo aja, mereka itu saudara sebangsa anda juga.
mungkin pengendara motor besar menjadi arogan karena cuaca yang panas,jalan yang crowded,dan motor yang sangat berat.
Karena alasan itu,mungkin lebih baik dibuatkan peraturan kalau moge hanya boleh dijalankan lewat dari tengah malam sampai jam 4 pagi saja!itung2 nanti pas ramadhan sekalian bagi2 nasi bungkus buat saur.kan berjiwa sosialis!!!!
ayo……. perang melawan moge di jalan raya…..
salah jika kita menyalahkan kelompok moge..
coba introspeksi masing2..
mereka dengan rombongan yang mungkin lebih dari 20-30 mtor. iring2an itu adalah satu kesatuan yg g bisa pisah, kalau sempat terpisah atau yang paling depan jatuh, maka mereka yg dibelakangnya juga akan jatuh..
jadi, sapa yang arogan??
anda yang tidak memberi jalan karena merasa punya hak?? atau rombongan yang butuh jalan untuk iring2an mereka dan menjaga agar anggota mreka tetap aman???
lagi pula mereka tidak merusak mobil anda kan?? yang notabene makan jalan, walaupun isinya hanya satu orang!!!
apa salahnya anda naek bus atau angkutan kota.
berarti sama2 menghabiskan BBM kan??
sakitnya bangsa ini juga komplit karena perangai anda!!
merasa benar dan menulis di milis kayak gini. kalau berani, stop mereka dan bicarakan baik2.
supaya anda paham dan mereka juga bisa dapat pengertian dari anda.
aman kan???