Komplotan Moge, Apa Kalian Asosial?

Di banyak milis sedang ramai diskusi soal kelakuan pengendara motor gede (moge), yang dinilai kerap arogan di jalan raya. Seolah jalan publik menjadi milik mereka dan karena itu bisa ngebut suka-suka sambil menyuruh (sering juga memaksa) pengguna jalan lain minggir sepinggir-pinggirnya. Soal ini malah jadi berita serius yang cukup di-blow up di detik.com beberapa hari terakhir.

Saya termasuk yang sering gerah dengan komplotan moge ini. Kalau konvoinya sudah lewat, kendaraan lain pasti harus minggir. Bukan saja dengan sirine, tetapi juga memainkan gas motor mereka yang super bising itu. Dalam beberapa hal saya lantas mikir, ini orang-orang kok asosial sekali. Padahal, mereka adalah orang-orang berduit dan sebagian lagi berpendidikan. (Soalnya ’kan ada juga yang berduit tapi bodoh, lantas jadi kampungan hehehe…)

Tapi kalau kita tuduh asosial, maka para pemilik kendaraan mahal ini pasti membantah. Sebab dalam aksinya mereka memang bukan sekadar mengacaukan lalulintas, tetapi juga (kadang-kadang) bikin aksi sosial seperti bagi sembako kepada rakyat miskin. Artinya, kalau di jalan raya tampak arogan, di tempat gelaran aksi sosial itu mereka adalah orang-orang yang berhati lembut.

Saya lebih memandang masalah ini dalam konteks rasa keadilan bagi masyarakat. Orang-orang berduit pengguna motor gede itu, betapa pun, bukanlah kelas istimewa di republik ini. Okelah sebagian dari mereka adalah pejabat dan pengusaha, tapi tetap tak ada hubungannya antara status sosial itu dengan kegiatan hobi mereka. Silakan lakukan hobi, apapun itu. Tapi jangan sampai mengganggu orang lain.

Saya beberapa kali harus berurusan dengan konvoi moge. Di jalan raya, meskipun kadang suka ngebut juga, saya tetap mengukur kenyamanan orang lain dalam berkendara. Nah, suatu hari, di belakang saya sirine meraung tanda ada sesuatu. Tadinya saya mau minggir karena berpikir itu sirine ambulans atau pemadam. Ah, ternyata komplotan moge. Maka, saya tetap melaju di lajur yang adalah hak saya.

Komplotan moge itu marah karena mereka tak bisa menyalip. Lampu dikedip-kedipkan, gas dimainkan dengan kasar dan klakson berbunyi berkali-kali. Saya tetap di lajur saya, tak mau minggir karena jalan lumayan padat. Mereka merapat ke mobil saya, menunjuk-nunjuk, menuding dan ngoceh entah dengan omelan jenis apa. Ketika ada sedikit celah untuk menyalip, mereka bergiliran mencuri jalan. Salah seorang di antaranya memberi hadiah acungan jari tengah. Saya tak melakukan apa-apa. Hanya mengeluarkan kamera dan, sambil tetap mengemudi, memotret kelakuan mereka. Mereka tentu tak melihat saya karena kaca mobil saya lumayan gelap.

Di banyak kesempatan yang lain, saya selalu bersengaja tidak memberi jalan kepada konvoi beginian. Sekadar ingin memberi perlawanan bahwa mereka bukanlah kelompok istimewa, meskipun di dalamnya ada perwira polisi – yang karena itu membuat petugas lalulintas bukan saja tak berani ambil sikap, tapi malah ikut mengatur memberi pengawalan.

Saya juga sering menghalang-halangi jalan untuk rombongan gubernur atau walikota, atau siapapun dengan konvoi mobil pelat merah, ketika mereka hendak mendapat jalan lempang di tengah kemacetan lalulintas. Sebagai pejabat publik menurut saya tidaklah tepat mereka diistimewakan di jalan raya. Justru seharusnya mereka memikirkan bagaimana supaya jalan tidak macet dan warga bisa berkendara dengan nyaman. Bukannya malah dikawal, menyuruh minggir pengguna jalan lain, dan mereka melenggang nyaman meninggalkan sisa kemacetan yang semakin parah.

Saya hanya mau minggir kalau yang ada di belakang dan meminta jalan adalah ambulans atau pemadam, sebab mereka memang perlu ngebut untuk mengejar kedaruratan. Saya juga bersedia minggir kalau pengendara di belakang saya memang lebih laju sementara saya punya kesempatan untuk minggir; jalan tidak macet dan cukup ruang untuk menepi. Saya sedapat mungkin akan menghalang-halangi manusia-manusia arogan yang hendak berlaku semaunya di ruang publik.

Suatu hari, di belakang saya sedang ada konvoi truk tentara yang baru pulang dari apel/upacara (entah peringatan apa saya lupa). Anda tahu sendiri, tentara kita kalau sudah ngumpul begitu juga akan jadi raja yang super arogan. Ngebutnya luar biasa dan ada sepeda motor yang hampir saja terserempet. Sampai di belakang saya, dengan sengaja saya halang-halangi. Mereka mau menyalip dari kanan, saya geser mobil ke kanan. Mau ambil lajur kiri, saya geser ke kiri. Saya diklakson panjaaaang sekali. Sampai akhirnya mereka berhasil menyalip dan puluhan pasukan di bak belakang melempari mobil saya dengan botol air mineral. Hehehehe… untung nggak sampai ditembak!

Yeah, tingkah polah orang-orang di republik ini super lengkap. Pejabat yang hidup bergelimang harta dari duit rakyat itu diperlakukan istimewa, sampai-sampai dulu sempat heboh ada mobil Wapres nyelonong di jalur Bus Way. Orang-orang kaya merasa mereka penduduk kelas satu yang harus diperlakukan VIP di mana pun. Berpamer harta pakai motor gede, muter-muter kota sambil buang-buang BBM.

Hmm… republik ini memang sedang sakit.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...

63 tanggapan untuk “Komplotan Moge, Apa Kalian Asosial?

  • Pingback: contoh ketertiban ala motor gede « gumun + tergumun-gumun = gumunan

  • 5 Mei 2007 pada 3:39 pm
    Permalink

    Sayapun Memiliki Pengalaman Seperti Anda.. Saat Saya Pulang Sehabis Jalan Dengan Pacar Saya, Tiba-Tiba Dari Belakang Ada Mobil Mentri Yang Di Kawal Dengan Menggunakan Mobil Blazer Hitam Dan BM Di DepanNya! Ketika Saya Hendak Menyelip Karena Harus Bergegas Ke Rumah Sakit Saya Malah Di Serempet Oleh Mobil Blazer Tersebut Yang Di DalamNya Terdapat Manusia Kekar Namun Tak BerOtak! Mereka Tidak Tahu Siapa Saya, Bila Mereka Mencari Cari Masalah Dengan Saya! Sayapun Tinggal Menelpon Ayah Saya Yang PastiNya Memiliki Jabatan Juga Seperti Mentri Yang Di KawalNya! Mereka Tidak Tahu Bahwa Ayah Saya Seorang Laksamana..

    Lain Kali Bila Ada Mentri Yang Di Kawal Seperti Itu Lagi Melintasi Badan Jalan Dan Memboikot Jalan Saya Tak Akan Segan-Segan Untuk Mencatat NopolNya Dan Akan Saya Laporkan Ke Ayah Saya Agar Dapat Di Proses Lebih Lanjut! Mentri Itu Saya Dan Masyarakat LainNya Yang Memberikan Gaji.. Kalo Tak Ada Masyarakat Mereka Bukan Apa-Apa! Jadi HormatiLah Masyarakat, Sebelum Jadi Mentri Aja Melas-Melas Sesudah Jadi Mentri SombongNya Bukan Main! Mentri Anjing..

    Balas
  • 13 Juni 2007 pada 2:57 pm
    Permalink

    Saya sering pulang lewat jalur puncak diakhir pekan tuk sekedar pulang kampung dari kepenatan bekerja di Ibukota, tentunya diakhir pekan dimana jalur puncak hampir dapat dipastikan macet,Tapi kenapa ketika yang lewat rombongan moge atau mobil pejabat berplat merah, mereka malah diaksih jalan dan dikawal, Sedang yang lain harus bergantIAN MENGANTRI .Apakah mereka sadar kalo di akherat nanti tu motor ama plat merah ga bakal dibawa saat melewati sirotul mustaqim.Semoga para pemilik moge dan penumpang plat merah diberi sikap yang arif.

    Balas
  • 14 Agustus 2007 pada 9:28 pm
    Permalink

    maaf buat semua para pengomentar,,saya selaku perwakilan dari MBC menurut saya tidak semua pengendara motor besar atau MOGE itu selalu bertindak arogan ada pula yang lebih bercondong kepada tindakkan sosial ,,mungkin bagi para pengendara MOGE yang bertindak arogan itu disebabkan karena keadaan yang terjadi di jalan raya,seperti macet dan cuaca.apabila cuaca dijalan teramat begitu panas maka secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka lain halnya dengan pengendara mobil,apabila cuaca panas maka mereka tinggal menyalakan pendingin untuk menurunkan suhu tubuh,,jadi apabila pengendara MOGE itu selalu bertindak arogan coba dech untuk mencoba merasakan untuk mengendarai motor dan jangan mengendarai mobil pasti akan terasa bagaimana rasanya,,,

    Balas
    • 19 September 2013 pada 12:58 pm
      Permalink

      Koq malah kita yang disuruh mikir? Kenapa Anda tidak mikir kita? Kita juga pakai motor Bos! Panas-panasan juga…. Stres!

      Balas
    • 11 Mei 2014 pada 12:32 pm
      Permalink

      @ariel : maaf nih bos, pernah mikir g di indonesia lebih banyak mobil at motornya…? jd alasan ente seperti diatas itu g bisa diterima, sy sendiri utk brkt kerja PP 2 jam perjalanan itu tiap hari hujan panas tetep dijalani, jd shrnya klo ada moge2 yg bertindak arogan hrsnya kami yg g terima, kami melakukan prjalan utk mencari uang demi anak istri, lah anda dan komunitas anda hanya utk pamer kekayaan dan menghambur2kan uang saja.

      Balas
    • 4 Juli 2014 pada 9:47 pm
      Permalink

      Betul, tidak semua pengguna moge arogan dan sombong. Tapi saya tidak setuju dengan pemikiran Ariel mengenai cuaca yg mempengaruhi psikologi pengendara. Itu hanyalah omong kosong dan mencari cari alasan yg kurang tepat. Saya pengendara moge, kl terkena macet ya bersabar saja, ikutan ngantri tidak peduli cuaca panas. Dimanapun saya mengendarai moge, selalu mencoba untuk berhati hati, menghormati dan menghargai pengendara lain. Apabila saya rasa aman, saya geber sepeda saya, walau cuman sebentar (pinginnya ya geber yg lama), karena itu jalanan umum. Begitu juga di sentul race track, orang2 juga saling menghargai dan menghormati. Pengendara sepeda montor, kecil dan besar, mengahadapi resiko yg sama. Kl tidak mau panas, ya jangan beli moge. Sesama pengguna moge, saya berusaha berkendara agar kita tidak dibilang sok kaya dan arogan dimata masyarakat Indonesia. Ride safe! =)

      Balas
    • 21 Januari 2015 pada 12:54 pm
      Permalink

      OTAK LOE ADA DI DENGKUL YA BANGSAT… KLO NAJIS MACAM LOE LEWAT DI KAMPUNG GW LAGI, GUA SIAPIN ANAK2 NGUMPULIN TAIK BUAT NIMPUKIN KALIAN, GAK PEDULI ADA JENDRAL POLISI YANG IKUT ROMBONGAN NAJIS GENG MOGE INI

      Balas
    • 5 Juni 2015 pada 1:44 am
      Permalink

      Broo,, indonesia tuh anak tropis,, yg punya motor bukan lu doang,, walau motor lu lebih mahal dari motor gw,, tapi kita ngerasain panas yg sama.. Gw pikir arogannya anak moge karna orangnya kuat” tapi ternyata lemah” juga ya fisiknya, pantes klo bawa moge sendirian lu gak tengil di jalan.. kepanasan aja lu protes am sesama, inget bro kita ngerasain panas yg sama, lebar jalan kita sama, status kita sama, gak ada alasan lu merasa punya hak yg berbeda… Klo lu gak suka sama komen gw, gw siap kok bantu lu untuk lebih menghargai sesama di jalanan…

      Balas
    • 17 Agustus 2015 pada 12:27 pm
      Permalink

      Maaf Om Ariel. Memang saya tidak mempunyai Moge karena blm mempunyai uang yg cukup buat beli moge, prioritas masih sembako. Tetapi sehari2 saya bekerja menggunakan sepeda motor dan merasakan panasnya kemacetan Jakarta. Tetapi alhamdulillah saya masih bisa mengontrol emosi, kadang juga saya bawa minum utk mendinginkan badan. Jadi anggapan anda mengenai berkendara dengan motor membuat perubahan perilaku itu salah besar. Jadi jangan berlindung dibalik kondisi. Tetapi aturanlah yang berlaku apapun kondisinya. Kalo mobil bisa menggunakan AC sebagai pendingin kenapa anda membeli moge? Belilah mobil toh harga satu moge bisa buat beli satu mobil. Janganlah menganggap diri anda perlu dimaklumi krn menggunakan moge, pengguna jalan lain juga perlu dimaklumi berdasarkan aturan yg berlaku. Kalo moge di posisi yg benar silahkan memaki2 yg salah tetapi jika anda yg salah janganlah memaki2 dengan berlindung dibalik kondisi panasnya jalan.

      Balas
  • 21 Agustus 2007 pada 3:31 am
    Permalink

    Sebagai penggemar moge, sangat mendukung jikalau moge dapat tertib di jalan, bagi saya pribadi setiap pemilik pengendara itu mempunyai hak masing-masing untuk menggunakan jalan, oleh karena itu alangkah baiknya jikalau para pemilik kendaraan sama-sama menyadari akan hak pengendara lain dengan kata lain tidak saling merugikan antara sesama pengguna jalan:)
    Bolehkah kami meminta alamat para bikers moge di wilayah jawa tengah?
    Jikalau anda para bikers moge (khususnya berdomisili di wilayah jawa tengah) ingin mengirimkan alamat anda silahkan untuk meng email ke alamat ini:
    dear_dedy@yahoo.co.id saya ingin berbagi sherring dengan anda:)

    Balas
  • 7 September 2007 pada 8:21 pm
    Permalink

    Buat Bang Ariel dan Dedy yang tampan-tampan sekaligus tajir.
    Nih, saya kasih bocoran alias salinan surat yang sudah saya kirim ke koran tentang kelakuan liar SEBAGIAN BESAR rekan sejawat Anda, para ‘tuan’ jalanan (diilhami oleh bus yang dijuluki raja jalanan) penggila kendaraan boros energi alias moge. Saya kasih bocorannya sebelum naik cetak.

    Rombongan Harley Davidson (HD) yang Arogan

    Pada hari Selasa, 14 Agustus 2007, sekitar pukul 17.30, saya sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Prambanan melalui jalan raya Yogya-Solo. Ketika saya sampai di sebelah timur Gerbang AAU, tiba-tiba ada sirene berbunyi. Saya mengurangi laju dan mengarahkan sepeda motor saya ke tepian jalan sesuai prosedur yang berlaku. Saya kira mobil ambulans atau rombongan pejabat yang akan lewat, tapi ternyata rombongan sepeda motor besar HD yang berjalan searah dengan saya, menuju ke arah Solo. Saya tidak tahu persis jumlahnya, namun mencapai puluhan motor.
    Yang saya sesalkan adalah sikap berkendara mereka yang sepertinya ugal-ugalan dan tidak tahu sopan santun berkendara. Saya yakin mereka melaju pada kecepatan sekitar 90 – 100 km per jam. Padahal jalan raya Yogya-Solo adalah jalan umum biasa, walaupun terdapat dua lajur pada setiap arahnya, dan ada pembatas jalan di tengah. Sudah menjadi kebiasaan warga, apalagi pada sore yang sejuk dan cerah, maka banyak warga di sekitar jalan itu yang berjalan-jalan naik sepeda atau sepeda motor dengan kecepatan rendah, sambil membawa anak-anaknya. Banyak pula para penglaju bersepeda motor yang akan kembali ke Prambanan, Klaten atau Solo dari Yogyakarta.
    Dengan panjang rombongan pertama mencapai sekitar 500 meter, disusul beberapa gelombang rombongan di belakangnya dengan jumlah lebih sedikit, beserta mobil-segala-medan pribadi yang mengiringi dengan laju yang tak kalah cepatnya – mengalahkan kecepatan bus-bus jurusan Solo atau Surabaya yang sudah terkenal ugal-ugalan – cukup membuat pengguna jalan, warga sekitar jalan, dan saya sendiri kaget dan ngeri. Juga menjadi sangat terganggu, karena di samping berkecepatan sangat tinggi dan bunyi mesin yang memekakkan, mereka juga tak sungkan menyalip para pengguna jalan yang lain pada jarak sangat dekat, dan tidak memberi toleransi pada kendaraan yang akan menyeberang. Saya sendiri yang berkendara di tepian jalan, hanya berjarak sejengkal tangan dari pundak saya ketika disalip salah satu motor besar itu. Bahkan seorang ibu yang memboncengkan anaknya yang masih kecil, sampai harus berhenti di tepi jalan dengan wajah khawatir, sambil menenangkan anaknya yang menangis ketakutan, karena ngeri melihat kecepatan dan suara motor-motor besar itu. Saya tidak melihat adanya kawalan Polisi saat itu.
    Ketika sampai di sekitar Kalasan, saya melihat ada seorang pengendara-motor-biasa yang mengulurkan kakinya dengan bersikap menendang pada rombongan HD itu. Sepertinya dia mengekspresikan kekesalannya, karena sudah sangat jengkel dengan perilaku mereka. Lalu dibalas dengan reaksi salah seorang yang berada di dalam mobil pengiring rombongan, dengan penampilan plontos ala preman, menjulurkan badannya dari jendela mobil sambil mengacungkan tangannya dengan marah kepadanya. Serta merta dibalas lagi dengan acungan tangan sang pengendara-motor-biasa tadi. Namun rombongan HD itu segera berlalu, sehingga tidak menimbulkan masalah lebih lanjut. Suatu pemandangan yang menggelikan, namun ironis.
    Masyarakat SERINGKALI terganggu dan terancam keselamatannya oleh rombongan motor HD ini. Namun masyarakat masih bisa menahan diri dari rasa jengkel dan marah, walaupun tidak ada sepatah kata “permisi” atau “maaf” pun dari para pengendara HD itu. Lucunya, rombongan PULUHAN HD yang ugal-ugalan tadi ternyata sangat sensitif, sehingga menjadi sangat terganggu oleh sikap SATU orang pengendara-motor-biasa yang jengkel tadi. Mengapa rombongan HD itu tidak meniru rombongan pejabat, tentara ataupun mobil ambulans yang bersikap santun di jalan umum?
    Inikah sebentuk kontradiksi sekaligus sikap egoisme dan kemanjaan mereka? Di satu sisi mereka tampil gagah dengan mengendarai motor besar beserta segala atributnya yang mahal dan mewah dan kecepatan yang di luar batas di jalan umum. Namun mereka tidak mau jalur mereka terhalangi oleh satu gangguan kecil sekali pun. Mereka juga sepertinya haus pengakuan diri. Menganggap diri sebagai kalangan berpunya dan dari kelompok ekslusif yang ‘lebih tinggi’ dan terpisah jarak dari rakyat kebanyakan. Oleh karena itu orang lain harus wajib mengalah dan terkalahkan untuk menyediakan jalan demi melampiaskan nafsu egois mereka. Menganggap jalan umum adalah “milikku dan kelompokku saja, sedangkan orang lain hanya numpang”. Termasuk nafsu mewujudkan impian kekanak-kanakan mereka yang tak terpuaskan : mendatangkan suasana koboi amerika sambil mempertunjukkan perilaku premanisme dan kekerasan di ruang publik ! Dan bisa jadi acara bakti sosial yang sering mereka lakukan, selain untuk pamer, juga menjadi alat pemakluman atau tameng pelindung liarnya mereka di jalan umum. Sungguh ini menjadi sebuah parade manusia purba yang tidak sehat di jaman modern. Apalagi perilaku ala orde baru yang barbar itu tak pantas lagi dilakukan di masa reformasi ini.
    Tentulah akan sangat kecewa, para pembuat sepeda motor HD di seberang lautan sana. Karya yang sedemikian indah, elegan dan mutakhirnya, menjadi ternoda kemasyhurannya oleh ulah pengendaranya yang liar dan membahayakan orang lain di sini. Di Indonesia. Tentu kita juga tidak ingin mendengar mereka berkata, “Hmmm, those are habit of riders, from a country which cannot built their own motorcycle yet.” (Begitu rupanya perilaku pengendara dari negeri yang belum bisa membuat sepeda motornya sendiri). ?!?
    Pak Kapolri, silakan Anda menindaklanjutinya sebelum menimbulkan korban atau hal-hal buruk lainnya di tempat lain di waktu mendatang. Bagaimana tanggapan Anda, Bang Indro Warkop, atau Mas Thukul Arwana yang punya HD baru? Saya yakin Anda berdua adalah tetap pengendara HD terhormat, yang selalu mematuhi peraturan di jalan umum.

    Terima kasih banyak, Mas Erwin.

    Balas
  • 15 Oktober 2007 pada 3:59 pm
    Permalink

    terus terang,saya sangat menggemari moge,tapi belum sempat saya wujud kan untuk memiliki motor itu sampai sekarang,mungkin belum.ada beberapa sisi yang saya sayang kan atas tindakan beberapa club motor besar itu,terutama yang seperti ada semua sesal kan.ini juga bedasarkan pengalaman saya,waktu itu saya sedang perjalanan pulang menuju kediri dari malang.Dari kawasan dinoyo yang saat itu sudah macet karena hari libur,tiba-tiba polisi menghentikan kendaraan di jalur saya.beberapa saat kemudian dari arah berlawanan saya,terdengar suara sirene dan dentuman suara motor gede.kesan pertama melihat itu (sebagai penggemar yang belum kesampaian) saya ternganga di buat nya iri.tapi rasa itu tak lama setelah saya melihat,salah satu dari mereka mendorong seorang pengendara motor biasa yang menurut saya yang melihat itu motor biasa tadi sudah cukup minggir(padahal jalan tadi macet),hingga terseok hampir jatuh.untung pengendara yang super baik hati tadi cuma tersenyum dan menghentikan motor nya.saya saja yang melihat kejadian tadi ingin sekali membakar motor seorang nya sekalian kalau perlu.contoh donk HDCI surabaya yang menurut saya cukup tertib meski kadang sedikit ugal2an juga,mereka selalu mengacung kan jempol dan tersenyum ketika mendahului mobil di jalan yang lumayan padat.

    Balas
  • 26 November 2007 pada 3:36 pm
    Permalink

    saya ikut prihatin kalo temen temen disini sering berhadapan dengan MOGE ers jujur saya katakan sebenarnya kami pun (Mogers) merasakan apa yang temen temen rasakan tapi bukannya kami para mogers tidak pernah mengalami kejadian yang sama ketika kami mengendarai mobil pun sering berhadapan dengan temen temen pengendara motor kecil yang berkelakuan serupa tapi dengan lapang hati kami memberi jalan kepada mereka karena semacet apapun kita kalo didalam mobil banyak kenyamanan yang masih bisa kita dapatkan dibandingkan dengan mereka pengendara motor baik gede maupun kecil or angkutan umum yang suka seradak seruduk……semua itu cuma sebentar kok apa lagi moge satu bulan belum tentu sekali kita ketemu mereka jalan keliling kota or luar kota apa salahnya kita beri mereka kesempatan menikmati hobi mereka mudah mudahan suatu saat kita juga bisa melakukan hobi kita tanpa melukai orang lain……..

    Balas
  • 26 November 2007 pada 3:39 pm
    Permalink

    Buat Para Bikers Yang dapat Makian Yang sabar yah sebenarnya kualitas manusia ada pada kesabaran dalam menghadapi masalah …..
    Buat yang tidak setuju dengan tingkah laku sebagian kecil Bikers yang kurang sopan sebaiknya interopeksi diri dulu baru maki maki, di indonesia ini dari seluruh pemilik kendaraan bermotor saya berani bertaruh kalo cuma kurang dari 50 % yang mengerti aturan dijalan raya…. kita para pengendara motor Besar sebenarnya menggunakan sirene or strobo hanya untuk keamanan semata agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan ….
    kecelakaan di jalan raya yang disebabkan oleh pengendara Moge sangat lah kecil dibanding dengan yang lainnya itu salah satu bukti bahwa sirene dan strobo bisa meminimalkan kejadian yang tidak di inginkan oleh kita semua ……
    mohon dijadikan renungan terima kasih ……..

    Balas
  • 27 November 2007 pada 12:04 pm
    Permalink

    TOBATTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT PAKKKKKKKK IBUUUUUUUUUU, AKU GA LAGI LAGI DEH NGEBUT DIJALAN, DAN URAKAN APA LAGI BERGAJULAN DI JALAN YANG PUNYA HAKNYA KAUM FAKIR MISKIN……………
    AMPUUUUUUUUUUUNNNNNNNNN. …. KALO SAODARA2 KAUM FAKIR INGIN MEMINJAM MOTORKU INI BOLEH KOK DAN AKAN SAYA PINJAMKAN TANPA PUNGUTAN APAPUN ALIAS GERATIS KARNA MOTOR INI PUN ADA HAK ANDA JUGA………! JADI MAAFKAN ATAS KEHILAFAN KAMI DAN TEMAN2 KAMI DI JALAN, DAN KAMI AKAN MENGGALAKKAN LANGIT HIJAU DENGAN MNGGUNKAN TRANPORTASI SEPEDA YANG BEBAS POLUSI…!
    RAWE-RAWE RASTAS MALANG- MALANG PUTUNG , BERSATU KITA TEGUH DAN BERCERAI BERAI KITA KEBLANGSAK…DAN SEKALI LAGI KAMI MENGHIMBAU KEPADA SODARA SEBANGSA DAN SETANAH AIR UNTUK LEBIH MEMPERHATIKAN KEDAULATAN BANGSA DAN TINGKATKAN PERSATUA DAN KESATUAN KEMBALI JGN TERJADI DISINTEGRASI BANGSA….BISA KIAMAT MEMANG SUDAH DEKAT.! TERIMAKASIH

    Balas
  • 27 November 2007 pada 5:55 pm
    Permalink

    oiya pak..satu lagi…
    motor saya juga termasuk besar looh…hehehehe….

    Mungkin ada brothers dari moge…
    masalah dari dilema ini adalah, kepedulian sosial dalam bermasyarakat…

    Banyak dari kami bikers, yang tadinya menggunakan strobo, sirine, atau rotator, sudah dengan ikhlas mencopotnya….karena..mungkin udah di “paksa”…dan AROGANSI sudah tidak jaman lagi di kalangan kami….

    Ketika rolling atau touring, kami lebih memilih berhenti ketika lampu merah menyala, ketika harus menyalip, kami memilih “menghormati” jalur yang kami salip tersebut….
    Ketika lalu lintas tidak bersahabat untuk aktivitas group ride, kami memilih untuk “memecah” barisan kami, daripada menghalau lalu lintas….toh..di depan kami dapat berkumpul algi, dengan bantuan radio komunikasi tentunya….

    Mungkin mulai dari memperbaiki sifat kita sendiri…
    saya sendiri?? saya memulai dengan mencopot flasher lampu sign, dan juga stroblight…*cuman sempet kepasang 1 bulan, mau coba2*
    RUGI? IYA…tapi puas….

    Balas
  • 27 November 2007 pada 5:46 pm
    Permalink

    HUAHUAHEUHAEUHEAUHAUHEAUAAA…..
    ada juga yang senada dengan saya isi blog nya…

    http://digitalmbul.com/blogs/2007/09/27/blokir-jalan/
    http://digitalmbul.com/blogs/2007/10/08/inikah-kegiatan-bakti-sosial/
    sampai-sampai saya harus mengeluarkan statement :
    http://digitalmbul.com/blogs/2007/10/09/klarifikasi/
    silahkan dikunjungi..pak…

    sebelumnya perkenalkan, saya Rio Octaviano, dari klub mobil juga motor..hehehe…
    tapi saya lebih banyak beraktivitas di Forum Safety Riding Jakarta, dengan beranggotakan 70 perwakilan klub motor di Jakarta…yang menjadi wadah pemerhati kehidupan sosial dalam berkendara di jalan.

    Dan memang, saya sangat vokal sekali bila sudah bersinggungan dengan yang namanya arogansi, entah itu di bungkus dengan kertas emas sekalipun…
    Banyak sekali yang masih berpikiran, bahwa aktivitas memblokir jalan demi kepentingan kelompok itu berguna..mungkin buat eksistensi…
    tapi apa daya, pak???
    bila bapak baca tulisan saya, PATWAL yang notabene resmi dari POLRI, bisa di bayar, untuk melancarkan perjalanan..mungkin bila bapak punya uang lebih, dari kantor bapak, mao kencing di rumah, tinggal bayar 1 juta s/d 3 juta, bapak sudah bisa dapat voorijder…resmi dari POLRI…jadi gak perlu kuatir akan melanggar PP 43 atau 44….
    Sistem kita sudah carut marut pak..sudah teramat berantakan, instansi-instansi yang mengurusi lalu lintas ibukota, sedang sibuk berseteru di atas sana….

    Maka dari itu, kami dalam FSRJ, memulainya semua dari diri sendiri….dan kebetulan..kami mendapat kesempatan untuk menyuarakan aksi kami…tunggu saja..hehehe….
    Walaupun tindakan kami ini, bukan sedikit mendapat tentangan….walaupun itu dari “lingkungan” kaum otomotif sendiri….

    Doakan kami pak…doakan kami dapat merubah budaya RUSAK ini….

    Salut Bung Rio, saya yakin selalu ada orang yang memikirkan kebaikan seperti Anda. | windede

    Balas
    • 9 Oktober 2016 pada 11:48 am
      Permalink

      Hello Nice blog. Would you like to invitee submit in mine at some point? If so make sure you let me know by means of e mail or just answer this kind of comment because My partner and my spouse and i actually signed up for annmenceounts and will know should you.

      Balas
  • 23 Desember 2007 pada 7:48 pm
    Permalink

    hidup moge
    terus terang saya lom pernah ngalamin hal kaya gini……
    tapi yang jelas saya sangat bangga dengan adanya moge, yang mana patut kita contoh perilaku mereka yang sangat sosial.
    oke ga perlu basa basi, saya asalah fans berat moge, cuman saya lom ada tmn atau kenalan. but para moge i love u

    Balas
  • 25 Januari 2008 pada 12:52 pm
    Permalink

    memang sering juga konvoi moge seenakknya sendiri. tapi di kota saya ada club moge yang memiliki visi dan misi untuk tertib di jalan serta para anggotanya dilarang ugal-ugalan. bahkan club moge yg satu ini ingin menjadi contoh pada masyarakat untuk tertib lalu lintas. tidak semua para pengendara moge selalu ugal-ugalan.

    Balas
  • 27 Februari 2008 pada 11:39 pm
    Permalink

    Moga2 mereka insfa ya, mas..
    Kan orang lain juga bayar pajak jalan. hehehe..
    Salam kenal!

    Balas
  • 11 April 2008 pada 1:54 pm
    Permalink

    gw rasa..ga’ semua moge kaya gt (urakan….ga’ tau aturan de..el..el..yang norax2, gw yakin dihati kecil mereka sendiri kalo disuruh jujur mereka pada ga’ mau kaya gitu….gw rasa yang harus disalahin voorijdernya…aja..kenapa harus ada dikecepatan kaya’ begono….mereka harusnya dapet pelajaran tambahan gimana caranya jadi voorijder nyang bae…n’ bener….bro dari FSRJ, tolong donk luangin waktu dikit buat…kasi materi sama mereka…kasian pan punya duit..tapi ga’ ngerti apa2….otre..bravo rider Indonesia..nyang udah2 biarin aja nyang penting tetep kompak yach…

    Balas
  • 16 Mei 2008 pada 10:59 pm
    Permalink

    lsg aja, pd tgl ini kira2 jam 1 siang, saya dari jogja menuju bandung, ga tau ada acara apa, ko byk skali HD maupun moge menuju ke jawa tengah, intinya ada sebuah rombongan kira2 5-6 HD dibelakangnya tyt Fortuner dan land cruiser, kendaraan yang saya naiki nyungsruk ke semak2, gara2 ada rombongan td, pas belokan membunyikan sirene, karena saya kaget, stlah itu mereka pergi seperti ga da kejadian apa2, TERIMAKASIH, (dikota :alim, ngikutin aturan lalin, memperbaiki image Luar kota :sok2an, salut buat gangster yg ga munafik spr HD rider) tp yg saya liat, ada rombongan motor classic, mrk rapi dlm rombongan, ga ugal2an, nyalipnya bersih, ga perlu pake sirene

    Balas
  • 18 Mei 2008 pada 7:50 pm
    Permalink

    Gara2 ada konvoy MOGE beberapa hari ini keliling jawa, dan menelan korban pengendaranya sampai meninggal.. mungkin ini adalah peringatan dr Tuhan YME bahwa tidak sepatutnya kita sombong , arogan, dengan alasan apapun. karena gerah panas atau punya sesuatu yang lebih.

    Semoga menjadi PERINGATAN buat kita semua agar jangan AROGAN.
    Kebetulan di singapore tempat saya mencari sesuap nasi.. tidak pernah saya menjumpai rombongan pejabat yang minta diistimewakan, kecuali perdana menteri atau presiden, dan ambulan plus pemadam kebakaran.

    Balas
  • 20 Mei 2008 pada 7:48 pm
    Permalink

    sebaiknya kasih jalan aja mas bro…
    sepertinya anda susah melihat orang ingin mendahului kendaraan anda,
    memang benar anda sudah bayar pajak atas kendaraan anda, tapi mereka juga membayar pajak atas kendaraan mereka, yang kelihatan disini adalah anda kurang memiliki rasa legowo, sehingga saya yang membaca tulisan anda juga panas terhadap para mogers, akan tetapi setelah saya pikir untuk apa sih menghalang-halangi konvoi itu. kalau mereka jatuh tersenggol mobil bagaimana? apa mau tanggungjawab.? jangan merasa sok bener mas bro. setidaknya anda legowo aja, mereka itu saudara sebangsa anda juga.

    Terima kasih Bung Brekele telah mengingatkan saya. Anda benar, mungkin saya tidak legowo. Tetapi itu terjadi bukan tanpa sebab. Panjang pengalaman saya diperlakukan tidak menyenangkan oleh para moge yang arogan itu (mudah-mudahan tidak semua berlaku seperti itu). | windede

    Balas
  • 9 Juli 2008 pada 12:18 am
    Permalink

    mungkin pengendara motor besar menjadi arogan karena cuaca yang panas,jalan yang crowded,dan motor yang sangat berat.
    Karena alasan itu,mungkin lebih baik dibuatkan peraturan kalau moge hanya boleh dijalankan lewat dari tengah malam sampai jam 4 pagi saja!itung2 nanti pas ramadhan sekalian bagi2 nasi bungkus buat saur.kan berjiwa sosialis!!!!

    Saya setuju sekali pendapat Bung Nicko. Silakan konvoi sesuka hati di saat jalanan sepi. Subuh mungkin waktu yang paling tepat. Saya kira itu lebih bijak, sebab jalanan umum lebih diperlukan masyarakat yang hendak beraktivitas daripada orang-orang arogan yang kerjanya keluyuran karena kebanyakan itu… | windede

    Balas
  • 26 Juli 2008 pada 12:12 am
    Permalink

    ayo……. perang melawan moge di jalan raya…..

    Balas
  • 31 Juli 2008 pada 8:47 pm
    Permalink

    salah jika kita menyalahkan kelompok moge..

    coba introspeksi masing2..

    mereka dengan rombongan yang mungkin lebih dari 20-30 mtor. iring2an itu adalah satu kesatuan yg g bisa pisah, kalau sempat terpisah atau yang paling depan jatuh, maka mereka yg dibelakangnya juga akan jatuh..

    jadi, sapa yang arogan??

    anda yang tidak memberi jalan karena merasa punya hak?? atau rombongan yang butuh jalan untuk iring2an mereka dan menjaga agar anggota mreka tetap aman???

    lagi pula mereka tidak merusak mobil anda kan?? yang notabene makan jalan, walaupun isinya hanya satu orang!!!

    apa salahnya anda naek bus atau angkutan kota.

    berarti sama2 menghabiskan BBM kan??

    sakitnya bangsa ini juga komplit karena perangai anda!!

    merasa benar dan menulis di milis kayak gini. kalau berani, stop mereka dan bicarakan baik2.

    supaya anda paham dan mereka juga bisa dapat pengertian dari anda.

    aman kan???

    Bung Edo, terima kasih komentar Anda. Saya pasti akan introspeksi. Saya hanya mau bilang: jalan raya adalah milik umum dan mestinya tidak ada privilege termasuk bagi orang-orang kaya yang konvoi keluyuran dengan moge mereka. Anda perlu bertanya dulu kepada saya di mana lokasi yang saya maksud dalam tulisan ini, supaya Anda tahu bahwa di kampung saya tak ada bus kota, dan saya di mobil bersama keluarga (istri dan anak-anak). Menghentikan mereka? Itu cari penyakit, orang-orang arogan ini bisa menggedor-gedor mobil kok. Terakhir, semoga ke depan Anda bisa bedakan “milis” dengan “blog”. | windede

    Balas
  • 21 September 2008 pada 4:40 am
    Permalink

    Apapun alasannnya dan tidakusah membenarkan diri sendiri, kalau namanya perjalanan rombongan harus didahulukan. Toh hanya sebentar. karena apa, ya karena rombongan tidak mungkin dipisahkan atau dipecah-pecah. Coba kalau saudara jalan rombongan, tentu tidak mau terpisahkan dengan rombongan anda. Jadi sederhana saja, mengalah sedikit untuk yang berjalan rombongan, itu sikap yang terpuji. Tidak usah bicara hak sendiri, tapi mengertilah sedikit hak rombongan. termasuk saudara apabila nantinya berjalan berombongan. BEGITU

    Balas
  • 21 September 2008 pada 4:51 am
    Permalink

    oh ya. jangan dimasalahkan rombongan itu rombongan apa. karena rombongan kalau berjalan mestinya ya melalaui jalan yang ada. Jadi kalau dihalangi jalannya rombongan, rasanya tidak bijaksana. Apalagi kecepatan mereka relatip lebih dari kecepatan kita. Ya sedikit berbagilah. Kalau rombongan itu berjalan pelan lebih pelan dari kita, saya rasa mereka juga rela kok didahului oleh kita. Misalnya rombongan jalan kaki iring-iringan Jenasah. Saling memberi itu baru warganegara yang baik. BEGITU

    Balas
  • 21 September 2008 pada 9:04 am
    Permalink

    Bagaimana nanti kalau anda sendiri ikut rombongan kampanye pemilu partai anda atau partai orangtua anda ? Jalan keluarnya SABAR,LEGOWO,beri kesempatan rombongan berlalu dan kita kembali melanjutkan perjalanan seolah habis nonton pawai saja. BEGITU

    Balas
  • 13 Oktober 2008 pada 10:08 am
    Permalink

    Hehehehe,
    Nggak dijalan nggak waktu nulis comment, para biker (Americaaans WannaBe) ini tetap saja arogan yaaa, hahahahaha…..

    Kalau alasannya naik motor lebih panas, lebih gerah…
    Jangan naik motor dong…. Naik mobil aja….
    Kalian naik motor kan butuhnya cuman mau pamer aja, kalau pamer nggak papa, tapi jangan nyusahin orang yeee..!!!

    Terus kalau yang naik mobil harus bertenggang rasa dengan kalian yang naik motor, kenapa kalian nggak bertenggang rasa dengan sesama motor?
    Apa pengendara motor Jepang martabatnya lebih rendah dibanding para American WannaBe….????
    Malah saya berkali kali melihat para biker nyaris mencelakai pengendara sepeda, pengguna jalan yang sudah tua (kakek kakek pengendara Vespa, sampai vespanya ditendangi segala), pejalan kaki yang dimaki : ASU… (anjing)….

    Kalau mau dibandingin sama para pengendara motor yang lain, yang katanya banyak bikin kecelakaan, maka saya akan bilang begini:

    1. Karena pengendara motor lain malu kalau mesti pake strobo atau sirene.

    2. Secara ekonomi, mayoritas dari mereka lebih lemah, pendidikannya biasanya juga lebih rendah dari para biker. Nah, kalau kelakuan yang pendidikannya lebih tinggi cuma setara dengan kelakuan mereka yang pendidikannya lebih rendah, kan PARAH tuh mentalitasnya…. hehehe

    3. Kalau para biker mau dibandingin sama pengendara motor yang lain, ya berlakulah biasa dulu, jangan minta diistimewakan dong. Logika kalian gimana sih mainnya…???

    Selama saya membaca UU lalu lintas, nngak ada tuh aturan bahwa kita harus ngalah sama pengendara Harley (AMERICAN WANNABE), ngalahnya kan harusnya sama polisi, pejabat, ambulans atau orang mati….

    Coba lihat komentar CERDAS-nya pak Edo kontolegit ini:
    “….mereka dengan rombongan yang mungkin lebih dari 20-30 mtor. iring2an itu adalah satu kesatuan yg g bisa pisah, kalau sempat terpisah atau yang paling depan jatuh, maka mereka yg dibelakangnya juga akan jatuh..”

    Lucu buanget kan, gimana coba cara otak dia membangun logika????
    urusan dia main main dengan temannya, mesti ditukar dengan nyawa orang lain kan?
    Kalau mereka nggak mau terpisah, ya jangan ngebut….
    Belajar lah bertenggang rasa dengan temannya satu rombongan yang ketinggal di belakang…. Orang kalian dengan teman satu rombongan aja nggak bisa bertenggang rasa, gimana mau tenggang rasa dengan orang lain..????
    Melihat cara berpikirnya pak Edo ini, jadi maklum saya kalau dia arogan di jalan…..

    Soal legowo atau tidak, seperti yang ditulis pak Brekele:
    sebaiknya kasih jalan aja mas bro…
    “….sepertinya anda susah melihat orang ingin mendahului kendaraan anda,
    memang benar anda sudah bayar pajak atas kendaraan anda, tapi mereka juga membayar pajak atas kendaraan mereka, yang kelihatan disini adalah anda kurang memiliki rasa legowo, sehingga saya yang membaca tulisan anda juga panas terhadap para mogers, akan tetapi setelah saya pikir untuk apa sih menghalang-halangi konvoi itu. kalau mereka jatuh tersenggol mobil bagaimana? apa mau tanggungjawab.? jangan merasa sok bener mas bro. setidaknya anda legowo aja, mereka itu saudara sebangsa anda juga….”

    saya setuju, bahwa kita harus legowo…
    Tapi mungkin perlu dicatat, tentang kelakuan para biker soal pajak:
    Anda harus tahu, bahwa banyak Moge nggak bayar pajak.
    Plat nomer mereka nembak, nyogok….
    Motornya motor selundupan, memanfaatkan banyaknya pejabat korup yang gabung jadi Hog.
    Itulah kenapa banyak dari mereka beraninya keluar kalau rombongan (konvoi para pengecut)
    Jadi mohon jangan dibandingkan antara pajak yang dibayar oleh pengguna kendaraan yang lain…. BEDA BANGET..!!!
    Kita memang saudara sebangsa,
    tapi tugas saudara yang utama adalah mengingatkan, bukan membiarkan. Bangsa ini jadi bejat dan remuk karena selalu memaklumi segala tindakan salah yang dilakukan. Minta ornag untuk legowo, tapi tidak legowo saat dikritik…. itulah penyakit kita…hehehehe

    Saya bukannya membendi para biker, saya hanya prihatin dengan kelakuan mereka ….
    Secara pribadi saya justru kasihan dengan kondisi mereka…..
    udah iklimnya beda, berdandan ala daerah dingin gitu, tapi kakinya pendek pendek, wakakakaka…..

    salam amerika kaki pendek

    markus

    Balas
  • 14 Oktober 2008 pada 10:05 pm
    Permalink

    mas markus, pengalaman saya bawa mobil sekarang ini dimana saja takut. karena apa ? memang perilaku pengguna jalan sekarang ini kebanyakan kurang hati-hati. Srodog sana-sini, maunya nyalip tapi dak mau disalib.( Itu motor-motor kecil dibawah 250cc maupun kendaraan roda 4 lainnya termasuk truk kosong muatan.). KESIMPULANNYA saya harus sabar dan tetap hati2/waspada terhadap pengguna jalan lainnya. yang penting saya selamat sampai tujuan dan tidak perlu dongkol tapi legowo saja. Kedongkolan hati membuat kita bisa emosi tinggi dan sakit stroke lho. SARAN saya bagi pengguna jalan ingin selamat, sehat, tidak usah cari masalah. Biar saja mereka, toh nanti kalau ada masalah khan mereka sendiri yang tanggung. Kita menghindar saja. OKE !

    Balas
  • 21 Oktober 2008 pada 3:29 pm
    Permalink

    Saya adalah penggemar motor gede,karena bentuk dan suaranya yg keren(walaupun saya blm punya),tapi saya tidak simpati thdp pengguna moge yg arogan,ugal2an,saya yakin kita semua harus berpikiran jernih,bhw tidak semua pengendara moge berkelakuan spt itu(arogan dan ugal2an),yg salah itu bkn moge-nya tapi sikap dari pengendara-nya,peace man…

    Balas
  • 22 Oktober 2008 pada 8:35 pm
    Permalink

    Betul mas bakso. Sekarang semuanya pengguna jalan kebanyakan tidak hati-hati. pada ngawur. Itu motor-motor kecil lebih ngawur lagi. Sekarang ini mobil takut sama motor, habis kalau ada apa-apa yang disalahkan mobil. Tapi kadang kala ada pengemudi mobil yang arogan juga. Wah mana yang betul….. Saya dulu sebel juga liat konvoi moge. Tapi setelah saya nyoba naik dan konvoi bersama mereka, ternyata mereka safety ridingnya hebat. Mereka Bukan komplotan, tapi memang pengendara motor yang sudah melalui training rider. Mereka dapat jalan beriingan satu-satu dan hanya butuh sedikit ruang untuk lewat. Yang kadang mereka kesal karena ada pengendara lain yang tidak mau disalip dan tetap ditengah. Jadi siapa yang sombong dan arogan ? Waktu saya naik moge malah pernah di pepet sama mobil.. Edan tenan….

    Balas
  • 9 November 2008 pada 10:51 am
    Permalink

    PEMAKAI JALAN YANG WAJIB DIDAHULUKAN (PRIORITAS) Pasal 65 PP. 43 / 93

    1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas.
    2. Ambulance mengangkut orang sakit.
    3. Kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.
    4. Kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu Negara.
    5. Iring-iringan pengantar jenazah.
    6. Konvoi, Pawai atau kendaraan orang cacat.
    7. Kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.

    Balas
  • 9 November 2008 pada 10:55 am
    Permalink

    Anda bisa menyalip kendaraan yang memang melaju dengan kecepatan rendah. Tapi anda jangan pernah mencoba menyalip kendaraan yang melaju sangat cepat. Kalau ada kendaraan yang berusaha menyalip anda sebaiknya anda beri jalan. Jangan naik motor sambil melihat kanan kiri, hal ini agar anda fokus terhadap suasana jalan.

    Balas
  • 10 November 2008 pada 10:17 pm
    Permalink

    kejadian ini terjadi beberapa bulan yg lalu, ketika saya brg adik dan dua org tmn kelayapan dr surabaya menuju banjar Jawa Barat. kebeutulan naik “moge” (baca motor gendut = vespa)bukan, saya bukan anggota klub vespa.kelayapan naik vespa karena emang punyanya y cm itu.

    ketika masuk wilayah Jabar, sekitar tugu perbatasan siliwangi – diponegoro, rombongan kami berpapasan rombongan HDers berjumlah skitar 15 motor. rombongan mereka menuju arah Jateng, yg dengan arogannya memakai seluruh badan jln yg cm dua lajur melanggar marka garis lurus. bahkan didepan kami, mereka para HDers memepet bapak2 yang naik motor bebek sampai keluar dari badan jln dan hampir jatuh!

    kami berempat reflek ngambil kunci ingris,kunci busi atau apalah yg bisa diambil. adik saya malah lgsg reflek ngangkat helm baja yg dipakenya. kami berempat berfikir “enak bener jalan dua lajur dipake sendiri! melanggar marka lurus pula!!” dengan segala benda keras mengayun ditangan, kami berempat “menghimbau” para HDers untuk lebih bertenggang rasa membagi jln dengan kami. kami berempat cuma mikir klopun harus bentrok, ya bentrok aj. toh mereka dan kami masih sama – sama makan nasi ato roti, tidak makan batu bata, jd buat apa takut.

    akhirnya mereka mau berbagi jln dengan kami. mungkin mereka berpikir daripada moge mereka rusak kena timpuk kami, ato jd tetanus gara – gara bentrok dengan kami yang mirip gembel semua, lebih baik kasih jln. tp ya gitu kasih jlnnya rada g ridho gt, org mereka masih main2in gas sambil beberapa dari mereka ngacungin jari tengah pas bersimpangan dengan kami.

    maaf bukan saya tidak menjunjung rasa persodaraan dilingkungan bikers, tapi saya merasa merekalah para HDers dan mogeers yang telah melukai rasa persodaraan itu.

    Balas
  • 15 November 2008 pada 12:16 am
    Permalink

    KAYAKNYA CERITA BUNG ALIM BOHONG LHO !. CUMA MAU MEMANCING RASA KEBENCIAN KEPADA MOGE BIKERS. Runut aja tulisannya.

    Balas
  • 21 November 2008 pada 2:45 pm
    Permalink

    Hehehe.. sebenernya sih gimana orangnya aja.. saya naik ZXR 750 juga ngga pake aksi2 kayak gitu.
    Kalo ngomong soal arogansi dijalan sih bukan cuma monopoli geng HD doang, geng motor kecil sekelas bebek juga begitu, motor laki apa lagi, wuiii…..
    Pengalaman saya di Bandung papasan berlawanan arah sama rombongan turing anak Thunder. mereka ambil kanan & minta saya minggir. Lha, dikiri saya ada motor gimana mau minggir? karena ngga bisa minggir, begitu papasan mobil saya digetok. Anjrittt… New CRV saya yang saya beli 300 juta digetok cuma gara2 ngga bisa minggir. sayang ada ibu mertua di mobil..
    Masalah arogansi mah bukan cuma geng HD. Kalo soal berisik, bebek yang berisik lebih banyak lagi, hanya karena mereka dari marginal jadi dikasih justifikasi, bukan begitu?
    No offense lho ya…

    Balas
  • 28 November 2008 pada 11:19 pm
    Permalink

    hmmm…saya juga pernah ngalamin kejadian gak enak dengan yang namanya motor gede..

    Pada suatu malam saya lagi ingin pergi malam minggu,ketika sedang jalan di jalan raya bekasi,saya sebagai pengguna motor mengambil jalur sebelah kiri,dan tepat di sebelah kanan saya ada mobil..dan tiba-tiba dibelakagn saya ada suara sirine dan lamput strobo yang kelap-kelip seakan-akan ingin menyambar siapapun di dekatnya..dan apa yang terjadi kemudian…mereka memakasa saya minggir dan memaksa masuk diantara saya dan pengendara motor sebelah saya dan juga sebuah mobil di sebelah kanan saya..
    terpakasa saya minggir dan hampir jatuh bersenggolan dengan motor disebelah saya..dan selanjutnya motor HD itu lewat juga…dan lebih parahnya lagi…mereka hanya berjumlah 3 motor HD..what the F**k this..gila cuma bertiga aja dah arogan gini gimana pas lagi rombongan??ck ckck,sangat disayangkan motor se elegan HD tidak di imbangi dengan sikap tak elegan para pengguna nya…

    soal kondisi panas saat berkendara motor itu saya anggap sebagai konsekuensi..ya kalo mw naik motor ya harus rela kepanasan,kehujanan,kena debu dll..

    jadi saya cuma pengin ngingetin tuan-tuan yang tajir naik motor super boros..tuan-tuan itu kalo lagi lewat di tengah masyarakat itu banyak yang nyumpahin loh…andai kan suara hati ini ada speakernya..pasti suara hati orang-orang pengguna jalan lain akan mengalahkan suara motor HD tuan-tuan sekalian..mohon renungkan itu..

    terima kasih..

    terus bersatu..
    Indonesia terus maju…

    Balas
  • 29 November 2008 pada 10:02 pm
    Permalink

    Sekarang emang banyak orang bawa mobil/motor pada ngawur alias GOBLOG. Maunya menang sendiri. Mau belok main belok aja , kagak itung2 pengendara lainnya. Jalan pelan kalau goblog juga percuma. nggak punya ketrampilan. SIM tembak barangkali. Nanti kalau dah ada kejadian trus saling menyalahkan. OHH Bangsaku, sudah begitukah pergeseran perilaku/moral/rasa saling menghormati. Web inipun punya andil untuk perpecahan bangsa. Budaya kita sudah bergeser kearah egoisme. maaf ya mas windede. Elingo semuanya saja, besok kita bakal mati semua. Gak usah bikin rubutlah. lebih baik diam dan perbaiki diri masing2. AMIN 3X

    Balas
  • 6 Desember 2008 pada 6:41 pm
    Permalink

    hey Bos gua jg sama suka touring apa alasan panas lu bilang karena panas lu bisa gitu ke orang dasar bego alasan bodoh bener hanya orang2 tolol yang seperti itu ga ada istilah buat gua moge fuck

    Balas
  • 6 Desember 2008 pada 6:49 pm
    Permalink

    ga ada urusa motor lu mu gede mu kecil udah d jalan sama rakyat juga lu masuk jalan tol apaan mampus loooooooooooo,,, ini indonesia bung bukan america cara indonesia beda dasar kampungan pengen begaul kaya LA malah malah hahahahhahaha dessssssssssssssssooooo desooooooooooooooooo hahhahahahh moge fuck….

    Balas
  • 9 Desember 2008 pada 8:06 pm
    Permalink

    WIS POKOKE SING NANG WEB IKI NDESO KABEH. GOBLOG KABEH. ISONE MUNG NYALAHKE LIYAN. NGENYEK KARO LIYAN. PADAHAL DEWEKE LUWIH GOBLOOOOOG. MENGKO NEK ONO SING KOMENTAR BERARTI LUWIH GOBLOG MANEH. SETUJU

    Balas
  • 22 Februari 2009 pada 2:02 pm
    Permalink

    Saya pengguna moge……naik moge sebagai hobby dan bukan gaya2an, sok kuasa, sok kaya,buat ke salon/cafe…muter2 ga jelas….namun terlebih karena saya suka sekali naik motor :)…..saya cuci sendiri motor saya,kalo rusak saya betulkan sendiri…
    Di jalan saya selalu mentaati peraturan LL, tidak pernah sekalipun membunyikan sirene/rotator, menendang kendaraan lain, mengacungi orang lain jari tengah, marah2 dijalan…karena saya tidak mau pasion saya di atas motor terkurangi oleh hal tidak terpuji….Prinsip sy di jalan adalah hargai orang lain…
    Penilaian anda bahwa komplotan moge asosial salah BESAR….tidak bisa digeneralisasi spt itu….dewasalah dude! .ini masalah pribadinya (the man behind the gun)….masalah pengendaranya…bukan apa kendaraannya……..
    saya 100% yakin dengan tipikal spt anda yg dengan sengaja menantang tentara,polisi dll…..orang spt anda kalo naik moge pasti sangat2 arogan jauh lebih arogan dari yg pengendara moge yg anda bilang arogan 🙂 …….
    jadilah orang yg wise….toh ga ada salahnya ngalah…ngapain sok jago sok menantang?toh anda tidak tugi apa2…bisa aja mereka terhalang jalan anda yg lambat di jalur cepat….jadi diliat dari 2 sisi man 🙂
    intinya bukan hanya moge….tapi mental bangsa ini memang payah….saya akui memang ada beberapa pengguna moge yg arogan……sy tegur orang spt itu…lha dasar mentalnya payah…tetep aja…..ada jg yg baik kok….sama jug pengendara bebek or mobil….ada yg baik ada yg ugal2an……
    kalo pas sy naik moge liat anda menghalangi saya…..ya sudahlah saya ngalah di belakang anda saja….toh anak smp ini baru dpt SIM ..biarlah jalan dululah anda…..santai aja kok…..kan gitu…ga perlu dengki dng orang lainlah dude…grow up man 🙂

    Balas
  • 10 Maret 2009 pada 11:38 am
    Permalink

    saya cuma mau ngasih sharing aja
    saya juga tidak mau menyalah kan moge atau motor2 apapun..

    sekarang saya bertanya pada anda smua  apa anda tau yang nama nya arogan , nyalip mobil, dengan sirine..

    kadang2 mobil di klakson aja ga mau minggir padahal motor itu bisa menyalip anda saya pikir klo menyalip2 itu wajar aja . apa motor2 itu harus menunggu anda sampai tujuan . saya pikir tujuan motor itu menyalip dengan sirine untuk memberitahu mobil2 kalau ada motor yang mau menyalip mobil anda supaya tidak terjadi apa2.

    mungkin anda masing2 harus intropeksi diri saja..
    masa motor2 harus menunggu anda2 yang naek mobil sampai tujuan..

    trims salam kenal…

    Balas
    • 9 Oktober 2016 pada 11:48 am
      Permalink

      Hrmm that was weird, my comment got eaten. Anyway I desired to say that it is good to comprehend that someone else also mentioned this as I exeepirnced trouble finding exactly exactly the same information elsewhere. This was the first spot that told me the answer. Thanks.

      Balas
  • 5 April 2009 pada 7:18 pm
    Permalink

    betul juga komentar mas gilang itu. maaf ya selama ini saya suka panas ati kalau disalip. apalagi disalip moge. Maapin saya ya mas n bro semua.

    Balas
  • 15 April 2009 pada 9:29 pm
    Permalink

    Aku dah bosan naek mobil, bosan naek motor gede. Sekarang aku ngonthel sepeda wae. Sehat mas. Mau disalip ya silahkan, wong jalanku juga santai. Dak perlu emosi

    Balas
  • 15 Juni 2009 pada 2:07 am
    Permalink

    aku gak pernah kesal sama rombongan moge
    kecuali membaca di surat kabar kompas
    tentang bgm komplotan moge yg kelakuannya kasar seperti preman

    tapi kejadian beberapa hari yang lalu, barulah merasakan sendiri brengseknya komplotan moge

    ketika membawa ibu saya ke dokter dengan mobil
    sabtu pagi,
    tiba-tiba dari belakang terdengar sirene

    yang bikin kaget adalah, terdengar suara seperti suara meledak
    rupanya salah satu pengendara moge menarik gas dengan keras
    ibu saya kaget, saya juga agak kaget

    padahal saya sudah berjalan di pinggir
    sabtu pagi, jalanan belum begitu rame

    untung saya tidak membawa anak saya yg kecil
    mungkin anak saya bisa kaget dan trauma dengan suara gas yg luar biasa mengejutkan tsb

    sungguh memalukan manusia2 pengendara moge ini
    kalau tidak bisa menahan emosi, mungkin sudah saya tabrak dan ajak bergumul di jalan, biarpun badan saya tidak besar

    capek d tinggal di republik rimba ini
    pheww

    Balas
  • 30 Juli 2009 pada 5:42 pm
    Permalink

    Saya komentar hal ini dari sisi keamanan berkendara saja yah.. (SAFETY RIDING), Yah itu intinya bagi semua pengguna jalan umum, baik kendaraan roda 2 (motor) atau roda 4 (mobil).
    Jika anda sudah mempelajari safety riding maka anda akan mengerti mengapa “perjalanan yang berkelompok (konvoi)” juga mandapat prioritas. Prioritas yang anda berikan kepada mereka, sebenarnya prioritas juga bagi anda, yaitu menjaga keselamatan anda dalam perjalanan anda (itu hal yang paling utamakan..? ). Jangan ilfill jika bertemu dengan konvoi kendaraan.
    Saya sangat tidak setuju dengan cara memblok/menghalangi “konvoi” (Respon negatif) seperti yang dilakukan penulis dengan alasan “Sama2 pengguna jalan & sama2 memiliki hak & sama2 membayar pajak”. Lebih baik anda mengutamakan keselamatan anda dengan memberikan jalan (apa salahnya seh..? / respon positif) yang penting anda juga selamat hingga tujuan dan hati tenang (gak perlu marah2 buang2 energi). Memberikan jalan dapat dengan cara memberikan sein kekiri ataupun dengan tangan anda dapat memberikan kode agar mereka melewati anda (dengan respon ini maka mereka akan lebih merespon anda dengan memberikan salam ataupun acungan jempol keatas ) Sirene & strobo yang mereka gunakan tidak semata2 untuk arogansi, tapi juga untuk keamanan/keselamatan mereka dan pengguna jalan lainnya. Sebaiknya anda juga mengikuti perkumpulan otomotif sehingga anda akan lebih mengerti mengenai “safety riding” Jadi sudut pandang anda mengenai hal ini dapat anda telaah dari berbagai sisi. Saya juga tidak setuju jika ada arogansi dalam perjalanan kelompok/konvoi, walaupun dengan alasan apapun, untuk itu saya himbau bagi para pengguna jalan agar selalu mengutamakan safety dari pada keegoisan anda masing2, boleh saja anda tidak suka dengan kelompok konvoi saat bertemu mereka, namun tetaplah anda mengutamakan keselamatan anda. Jika anda bertemu dengan kelompok konvoi, jika searah dan kecepatan mereka lebih cepat dari anda lebih baik anda memberikan jalan, lain soal jika anda lebih cepat, berarti konvoi tidak akan melewati anda. Jangan menghalang-halangi laju konvoi dengan cara apapun, apalagi konvoi aparatur negara. coba saja anda menghalang-halangi konvoi TENTARA (seperti yang dilakukan penulis) sehingga dilempari botol aqua ( bangga banget neh penulis menghalangi konvoi tentara, kalo konvoi PANSER TENTARA berani gak yah..? ) ingat, hal ini BERBAHAYA bagi keselamatan anda. Jika bertemu secara berpapasan cukup memberikan kode dengan menyalakan lampu ataupun Dim, ini menunjukan existensi anda dijalan sebagai lawan arahnya, sehingga terlihat oleh road captain konvoi. Jika mereka memaksa masuk lebih baik anda sedikit menepi memberikan ruang bagi mereka ( Ingat BERBAHAYA bagi keselamatan anda jika anda tetap ngotot tidak memberikan ruang ).
    Jangan anda semua mengeritik tindakan group konvoi yang pernah anda temui, instropeksi saja dulu, sudah benar dan taatkah anda dijalanan..?lengkapkah alat keselamatan yang anda gunakan..? sudah lengkapkah surat2 yang anda bawa..? Saya yakin 90% pengguna kendaraan bermotor memiliki SURAT IJIN MENGEMUDI dengan cara nembak, jadi anda tidak mengerti peraturan lalulintas dan juga mengenai keselamatan dijalan, karena anda tidak pernah mengikuti ujiannya. Mending penulis membahas soal2 ini dari pada masalah group harley tsb.
    Jangan2 penulis juga SIMnya Nembak..he..he..
    Demikian sedikit opini saya, silahkan ditambahkan, Buat penulis, lebih baik anda terapkan safety riding dulu baru membahas masalah ini, masa nyopir mobil sambil potrat potret………..

    Balas
  • 10 Mei 2010 pada 4:01 pm
    Permalink

    Kita tonton saja semua tingkah laku para CLUB MOTOR…siapa tau mereka memang lagi mengejar waktu untuk kepentingan umum atau pribadi .jangan sampai kita jadi korban kecelakaan lalulintas..apa lagi lawan kita CLUB MOTOR bisa berabe,,,bisa-bisa kita korban tapi kita jadi tersangka…bisa saja kita di tuduh karna telah menghalangi jalanya orang-orang penting(siapa kuat dia yang menang),,,Tapi saya mau tau seberapa pentingkah mereka…siapa tau diantara kendaraan yang mereka lewati ada kendaraan butut yang membawa orang sekarat atau mau melahirkan?,,,TERIMA KASIH

    Balas
  • 30 Januari 2011 pada 8:58 pm
    Permalink

    beberapa pengendara motor harley sekitar  jam setengah 10 pagi hr ini (30/01/2011) melintasi gatot subroto arah slipi, mrk tanpa pengawalan polisi, mrk menyalakan strobe dan sirene yg meraung-raung mirip mobil jenazah, polisi lalu lintas di jln gk bisa berbuat apa2 hanya bengong “diberakin dan dikencingin pengendara harley”, hrsnya mrk di tilang berdasarkan UU, krn kendaraan yg diperbolehkan menggunakan strobe dan sirine diatur UU, harapan saya kepada Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Royke Lumowa mohon agar dimasa mendatang hal ini tdk terjadi, sangat mencoreng citra kepolisian.
    <!–

    –>

    <!—-> 

    Balas
  • 22 Februari 2011 pada 3:57 pm
    Permalink

    mau kasih cooment aj yg setidaknya berimbanglah,,soal arogansi moge(dominan harley) saya juga punya moge tapi bacgroundnya bkn buat norak2an atau arogan just hobby ya,,masalahnya kembali ke subjeknya org itu sih menurut saya,,kan bisa juga komunitas becakers atau angkoters yg bikin kesel org krn gak mau ngalah atau egois atau juga konvoi aparat,,,semua relatiflah,,,mungkin krn moge jarang diantara jutaan bebekers makanya stereotip moge arogan muncul,,,untuk moge sendiri mari dong kita sendiri yg buat opini jadi baik bukan org lain bro2 skalian,,,apapun statusnya apapun yg dibawa semua mau senang semua gak mau macet semua mau dihargai,,,kalian ngertilah,,peace brp,,salam damai..GBU ALL

    Balas
  • 31 Maret 2012 pada 12:04 am
    Permalink

    Gak semua pengendara moge gitu kok bro mereka ngebut atau nyerobot lampu merah Karena mereka gak boleh jalan lambat moge,terutama Harley n sebangsanya yg ber cc 800 keatas, minimal cruise speed harus 80-100kmh,krna dibwah itu mesin bisa overheat,makanya mereka suka ngebut,/pake patwal
    itu aku dikasi ngerasain sendiri dan dikasi tau polisi patwal yg biasa pake electra glide kan HD g pake radiator,jdi kalo mesin 1200cc ‘dipaksa’ jalan 40-60kmh (jalan kota), sama aja kyk duduk diatas kompor,kaki kanan (deket knalpot) akan sangat panas,lom lg getaran mesin berat

    Balas
  • 19 Agustus 2012 pada 1:35 am
    Permalink

    selamat malam brother..
    saya cuma mau menyampaikan pendapat saya..

    perkenalkan saya seorang yang suka touring terutama menggunakan roda dua..
    dulu saya pernah gabung di club motor bebek..
    lanjut gabung ke club motor laki..
    dan sekarang sedang bermimpi untuk pidah ke club motor besar..
    disamping itu saya juga sering bepergian menggunakan mobil pribadi tanpa stobo dan sirine (read: mobil biasa) & motor standart tanpa embel2 or asesoris touring..
    dan perlu diingat saya sangat taat pada peraturan lalu lintas..

    saya disini akan komen sebagai anak motor dan masyarakat biasa..
    karena saya memang tergolong keduanya..

    1. sebagai anak motor saya menyayangkan club2 motor yang arogan jalan..
    yg perlu anda tau, arogansi TIDAK HANYA ada di club moge..
    kenapa saya bilang menyayangkan ‘club motor” bukan menyayangkan HANYA club moge?? karena saya tau persis kalau club bebek, matic or motor laki pun juga sering yang arogan klo mereka touring..
    saya melihat dengan mata kepala sendiri sob..
    jam terbang saya di club motor juga udah tinggi..
    maka dari itu kita tidak bisa menyalahkan hanya di club motor gede saja..

    2. sebagian club memang ada yg safety riding ada juga yang tidak..
    maka kita tidak bisa HANYA mengkambinghitamkan club motor gede..

    3. sewaktu saya mengendarai mobil pribadi or motor standart saya juga sering sekali berpapasan dengan club motor yg sedang touring baik moge maupun motor laki or bebek..
    yang perlu digaris bawahi : saya pun memberi jalan pada mereka ketika lewat..
    mereka pun memberi respon dengan mengacungkan jempol..
    karena saya juga bikers saya tau arti dari mengacungkan jempol tersebut (read: say thanks for giving them apportunity to pass the road)
    di lain sisi ketika saya touring dan saya melihat banyak sekali kendaraan yang memberi jalan, perasaan saya pun senang dan membalas dengan memberi jempol..
    toh saya tidak pernah memaksa untuk meminta diberi jalan..
    saya juga bayar pajak, jadi sama2 punya HAK untuk menggunakan jalan..
    maka saya juga menghormati sesama pengguna jalan

    4. karena saya orang Indonesia yg taat peraturan juga, saya juga selalu memberi jalan ketika ada rombongan resmi baik itu ambulance, mobil pejabat or presiden..
    saya menyayangkan anda (read: yg punya blog) yang dengan mantapnya menghalang2i mereka yg akan lewat..
    pertanyaan saya: apakah alasan anda berbuat demikian?? apakah alasan anda itu cukup kuat untuk berbuat demikian?
    klo anda memang punya masalah pribadi dengan mereka (read: benci) gara2 banyak kalangan atas yg korupsi, saya tekankan itu sudah LAIN cerita bro..
    ga ada sangkut pautnya kalau mereka menyewa patwal buat lewat di jalan raya..
    saya pun juga sangat benci dengan pejabat2 yg bisanya hanya korupsi..
    ingat, saya juga orang biasa sob..
    maka saya merasakan hal itu sama seperti yg lain..
    tp bukan berarti dengan menghalang2i mobil plat merah di jalan itu sudah menyelesaikan masalah..
    saya pikir anda yg terlalu childish..
    maaf disini saya bukan cari masalah, tp saya hanya mengutarakan pendapat dengan melihat semuanya tanpa memihak mana yg benar dan mana yg salah..

    semoga anda sekalian bisa merefleksi setelah melihat kejadian tersebut dari dua belah pihak..
    kalau salah satu pihak merasa diuntungkan pasti pihak yg lain juga akan diuntungkan..
    hukum timbal balik itu berlaku sob..

    maka dari itu tidak ada salahnya untuk LEGOWO memberi jalan kepada rombongan touring, mobil pejabat dll; daripada anda sok menantang dan akhirnya kendaraan dan anda sendiri terkena dampak kemarahan dari bikers, mau apa kita? minta ganti rugi? (mereka pasti sudah ngaciiirrr bro)
    klo patwal yg lewat?? tau2 kita dipenjara gara2 diduga teroris yg melancarkan aksinya dengan menghalangi jalan lalu membunuh mereka
     
    kalian tau, yang ada malah kita yg rugi dan sakit hati..
    maka dari itu ga ada salahnya mengalah..
    itung2 menambah pahala buat kita pribadi..
    daripada marah2 ga jelas karena ulah bikers yg terpicu karena ulah kita juga..
    ato marah2 karena patwal yg mengusir anda dari jalan karena anda sendiri malah melawan dengan tidak minggir2..
    kan sama2 dosa..
    malah kita yg kena dosanya sob..

    ingat, damai tu indah brother..
    mau jadi apa kita sebagai sesama warga Indonesia kalau salah2an terus dan selalu mencari kambing hitam???
    mending kita introspeksi diri masing2..
    hal yang kecil bisa membawa dampak yang besar dikemudian hari sob..
    mending kita menabur kebaikan maka esok kita akan menuai kebaikan juga..
    ingat, jaga hati dan kesabaran sangat penting sob..
    jangan mudah terprovokasi oleh hal sepele..

    #keepliveinpeace 

    Balas
  • 18 Juni 2014 pada 10:52 pm
    Permalink

    jangan karena rombongan di jadikan alasan untuk berbuat arogan. cobain liat anak v*spa, mereka pernah ngadain touring, yg diikuti ribuan peserta dari seluruh negeri bahkan ada dari luar negeri juga. tapi mereka tidak pernah arogan, memblokade jalan melanggar lampu merah dan tidak berjalan beriringan. mereka jalan satu persatu dan berbaur dengan pengendara lain, mereka tidak takut nyasar atau ketinggalan. toh masih dinegeri sendiri kenapa takut ketinggalan. apakah kareng anak moge motornya mahal jadi pingin diistimewakan…

    Balas
  • Pingback: Elanto, Motor Gede, dan Sepeda Kayuh | ayatayatadit

  • 4 November 2015 pada 11:09 am
    Permalink

    Om tante… Dah pernah liat blum??? Moge di MASSA?? Ayo lewat lampung,, hihihi di tnggu yaaaahhh..

    Balas
  • 13 November 2015 pada 8:55 am
    Permalink

    gak ada yang lebih sopan dari VESPA….
    SALAM MESIN KANAN….
    KIKKK….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *