Komplotan Moge, Apa Kalian Asosial?

Di banyak milis sedang ramai diskusi soal kelakuan pengendara motor gede (moge), yang dinilai kerap arogan di jalan raya. Seolah jalan publik menjadi milik mereka dan karena itu bisa ngebut suka-suka sambil menyuruh (sering juga memaksa) pengguna jalan lain minggir sepinggir-pinggirnya. Soal ini malah jadi berita serius yang cukup di-blow up di detik.com beberapa hari terakhir.

Saya termasuk yang sering gerah dengan komplotan moge ini. Kalau konvoinya sudah lewat, kendaraan lain pasti harus minggir. Bukan saja dengan sirine, tetapi juga memainkan gas motor mereka yang super bising itu. Dalam beberapa hal saya lantas mikir, ini orang-orang kok asosial sekali. Padahal, mereka adalah orang-orang berduit dan sebagian lagi berpendidikan. (Soalnya ’kan ada juga yang berduit tapi bodoh, lantas jadi kampungan hehehe…)

Tapi kalau kita tuduh asosial, maka para pemilik kendaraan mahal ini pasti membantah. Sebab dalam aksinya mereka memang bukan sekadar mengacaukan lalulintas, tetapi juga (kadang-kadang) bikin aksi sosial seperti bagi sembako kepada rakyat miskin. Artinya, kalau di jalan raya tampak arogan, di tempat gelaran aksi sosial itu mereka adalah orang-orang yang berhati lembut.

Saya lebih memandang masalah ini dalam konteks rasa keadilan bagi masyarakat. Orang-orang berduit pengguna motor gede itu, betapa pun, bukanlah kelas istimewa di republik ini. Okelah sebagian dari mereka adalah pejabat dan pengusaha, tapi tetap tak ada hubungannya antara status sosial itu dengan kegiatan hobi mereka. Silakan lakukan hobi, apapun itu. Tapi jangan sampai mengganggu orang lain.

Saya beberapa kali harus berurusan dengan konvoi moge. Di jalan raya, meskipun kadang suka ngebut juga, saya tetap mengukur kenyamanan orang lain dalam berkendara. Nah, suatu hari, di belakang saya sirine meraung tanda ada sesuatu. Tadinya saya mau minggir karena berpikir itu sirine ambulans atau pemadam. Ah, ternyata komplotan moge. Maka, saya tetap melaju di lajur yang adalah hak saya.

Komplotan moge itu marah karena mereka tak bisa menyalip. Lampu dikedip-kedipkan, gas dimainkan dengan kasar dan klakson berbunyi berkali-kali. Saya tetap di lajur saya, tak mau minggir karena jalan lumayan padat. Mereka merapat ke mobil saya, menunjuk-nunjuk, menuding dan ngoceh entah dengan omelan jenis apa. Ketika ada sedikit celah untuk menyalip, mereka bergiliran mencuri jalan. Salah seorang di antaranya memberi hadiah acungan jari tengah. Saya tak melakukan apa-apa. Hanya mengeluarkan kamera dan, sambil tetap mengemudi, memotret kelakuan mereka. Mereka tentu tak melihat saya karena kaca mobil saya lumayan gelap.

Di banyak kesempatan yang lain, saya selalu bersengaja tidak memberi jalan kepada konvoi beginian. Sekadar ingin memberi perlawanan bahwa mereka bukanlah kelompok istimewa, meskipun di dalamnya ada perwira polisi – yang karena itu membuat petugas lalulintas bukan saja tak berani ambil sikap, tapi malah ikut mengatur memberi pengawalan.

Saya juga sering menghalang-halangi jalan untuk rombongan gubernur atau walikota, atau siapapun dengan konvoi mobil pelat merah, ketika mereka hendak mendapat jalan lempang di tengah kemacetan lalulintas. Sebagai pejabat publik menurut saya tidaklah tepat mereka diistimewakan di jalan raya. Justru seharusnya mereka memikirkan bagaimana supaya jalan tidak macet dan warga bisa berkendara dengan nyaman. Bukannya malah dikawal, menyuruh minggir pengguna jalan lain, dan mereka melenggang nyaman meninggalkan sisa kemacetan yang semakin parah.

Saya hanya mau minggir kalau yang ada di belakang dan meminta jalan adalah ambulans atau pemadam, sebab mereka memang perlu ngebut untuk mengejar kedaruratan. Saya juga bersedia minggir kalau pengendara di belakang saya memang lebih laju sementara saya punya kesempatan untuk minggir; jalan tidak macet dan cukup ruang untuk menepi. Saya sedapat mungkin akan menghalang-halangi manusia-manusia arogan yang hendak berlaku semaunya di ruang publik.

Suatu hari, di belakang saya sedang ada konvoi truk tentara yang baru pulang dari apel/upacara (entah peringatan apa saya lupa). Anda tahu sendiri, tentara kita kalau sudah ngumpul begitu juga akan jadi raja yang super arogan. Ngebutnya luar biasa dan ada sepeda motor yang hampir saja terserempet. Sampai di belakang saya, dengan sengaja saya halang-halangi. Mereka mau menyalip dari kanan, saya geser mobil ke kanan. Mau ambil lajur kiri, saya geser ke kiri. Saya diklakson panjaaaang sekali. Sampai akhirnya mereka berhasil menyalip dan puluhan pasukan di bak belakang melempari mobil saya dengan botol air mineral. Hehehehe… untung nggak sampai ditembak!

Yeah, tingkah polah orang-orang di republik ini super lengkap. Pejabat yang hidup bergelimang harta dari duit rakyat itu diperlakukan istimewa, sampai-sampai dulu sempat heboh ada mobil Wapres nyelonong di jalur Bus Way. Orang-orang kaya merasa mereka penduduk kelas satu yang harus diperlakukan VIP di mana pun. Berpamer harta pakai motor gede, muter-muter kota sambil buang-buang BBM.

Hmm… republik ini memang sedang sakit.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.