Dua Senja Beda Cerita

Dua hari terakhir saya mujur bisa (kembali) menikmati senja. Ketika hari-hari biasa senja kerap terlewat dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, maka dua senja kali ini seolah benar-benar tersuguh di hadapan saya dalam wujud yang luar biasa indah.

Senja pertama mengada ketika menjelang pergantian hari saya nongkrong di Minggu Raya, sebuah kawasan jajan di pusat kota Banjarbaru (hmm… baiklah saya berjanji, soal Minggu Raya ini saya akan cerita di lain waktu). Di tengah perbincangan dengan beberapa kawan, langit perlahan berubah kuning keemasan. Matahari hanya menyisakan sinar hangat dan bias cahaya. Tak lagi utuh sebagai benda bulat yang berpijar.

Saya langsung mengeluarkan kamera saku, mengubah setting untuk scene sunset dan memotret dari kursi tempat saya duduk. Tak banyak objek menarik untuk disiluetkan, sehingga saya hanya mengambil pepohonan sebagai foreground. Dengan begitu warna langit dan cahaya matahari yang masih cukup keras bisa terhalang oleh dahan dan dedaunan.

Hasilnya menurut saya tak begitu memuaskan. Tapi ya mohon dipermaklum, karena ini dipotret sambil iseng. Bukan benar-benar hunting foto seperti ketika panen sunset di Senggigi tempo hari. Toh, inipun cukup membuat saya bersyukur, karena tanpa disengaja, bisa menikmati senja.

Langit emas nan cantik itu akhirnya ditelan gelap malam. Minggu Raya kembali hiruk-pikuk khas tempat nongkrong.

***

Di luar dugaan, keesokan harinya, sebuah urusan membuat saya harus pergi ke kota Marabahan, ibukota Kabupaten Barito Kuala. Sekira 40 menit jalan darat tanpa ngebut dari Banjarmasin. Memang harus pelan-pelan karena jalannya sempit. Untuk menuju kota ini harus menyeberang sungai menggunakan kapal fery kayu yang hanya muat 4 mobil. Menyeberangnya pun tak sampai 5 menit. Ini boleh dibilang saat-saat terakhir menyeberang pakai fery karena sebentar lagi jembatan penghubung Banjarmasin-Marabahan rampung dibangun.

Posting ini tentu tak bercerita banyak soal Marabahan. Nantilah di posting yang lain. Yang saya mau cerita adalah urusan di Marabahan baru selesai saat hari sudah begitu sore. Saya tiba di dermaga ketika tersisa satu fery saja untuk menyeberang. Itu pun harus bergiliran. Maka, cukup banyak waktu untuk duduk-duduk di pinggir sungai sambil… aha… menikmati senja.

Senja di pinggir sungai nuansanya beda dengan di Minggu Raya yang hiruk-pikuk. Lalulintas perahu dan kelotok (perahu mesin khas Banjarmasin) dengan suara mesin diesel-nya yang bising seolah menjadi musik pengiring senja kemarin. Langit agak mendung namun masih menyisakan sedikit lubang untuk cahaya senja. Dari light hole itulah keindahan terpancar.

Saya lagi-lagi mengeluarkan kamera saku, memotret beberapa frame dan duduk termangu melamunkan entah apa. Bau air sungai yang khas membuat saya seperti hendak tidur melelapkan diri di dermaga. Sayang seribu sayang, selain tidur di dermaga pastilah tidak aman, fery yang akan menyeberangkan saya pun telah tiba. Siap mengantar saya ke daratan sebelah sambil ber-say good bye kepada senja yang indah.

Hey… apa kabar senja di tempat Anda?

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

1 Response

  1. ary mengatakan:

    mas,
    wah
    pengagum senja juga ya
    add multiply saya dong mas
    plizz

    asahan.multiply.com

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.