Bermainlah… Anak-anak!

Dunia anak adalah dunia bermain. Karena itu bahagialah para orangtua yang tinggal di kota di mana anak-anaknya punya tempat bermain yang cukup. Di kampung saya sini, mencari tempat untuk anak-anak bermain adalah sebuah persoalan.

Itulah mengapa saya dan istri kerap harus berdikskusi panjang ketika hendak memutuskan, ke mana anak-anak dibawa saat akhir pekan. Maklum, tak banyak pilihan. Bermain di rumah adalah pekerjaan mereka sehari-hari, sehingga tentu bukan pilihan berakhir pekan yang menarik. Mencari pantai? Selain jauh, tak ada pantai yang bagus di sini. Ke hutan? Wah… sudah lama habis ditebangi. Bukit-bukit pun tak lagi sejuk. Kalau pun ada bagian alami yang masih terjaga di Kalimantan, letaknya pasti bukan di area yang terjangkau dengan mudah, apalagi untuk sekadar wadah santai keluarga dengan anak-anak yang masih balita seperti kami.

Maka, berkunjung ke arena permainan adalah pilihan yang paling sering diambil. Sayangnya, hanya ada dua arena bermain, yang, karena setiap akhir pekan jadi tempat kunjungan tetap, akhirnya anak-anak kami mulai bosan. Semua permainan sudah mereka coba, hingga akhirnya mentok sampai titik jenuh.

Seperti akhir pekan kemarin. Minggu pagi yang cerah, mau ke mana? Setelah menghadiri dua undangan perkawinan, saya seperti biasa mengajak anak-istri keliling kota. Mau mampir ke tempat permainan biasa, rasanya malas juga. Sudah terlalu sering. Hingga akhirnya kami bertemu dengan arena permainan dadakan di salah satu halaman sekolah di Banjarmasin.

Arena bermain model ini biasanya berpindah-pindah. Dari satu kawasan ke kawasan lain. Dari kota satu ke kota lain. Kadang-kadang dilengkapi pula dengan pameran produk dan pasar malam, atau juga atraksi sirkus. Saya sangat sering melihat mereka buka arena, tapi tak pernah terpikir membawa anak ke sana. Hingga akhirnya siang kemarin, istri bergumam… “kayaknya menarik juga kalo kita coba.”

Surprise, kedua anak saya ternyata suka. Yeah, namanya juga anak-anak ya hehehe. Kali pertama mereka mencoba naik kuda putar yang digerakkan dengan generator bersuara super nyaring. Putarannya pun kelewat kencang sehingga istri saya yang menemani sampai puyeng hanya dalam beberapa putaran. Operatornya tampak sibuk di samping mesin, maklum kecepatan putaran diatur secara manual.

Safa, putera sulung saya sempat tak mau turun. Mungkin karena ini pengalaman pertama dia naik kuda putar. Setelah dibujuk, ia akhirnya bersedia diturunkan dengan syarat berlanjut ke permainan lain. Sempat hendak naik kereta api listrik, tapi urung karena beberapa operatornya tampak sibuk mengurusi listrik yang mengaliri kereta itu. Bukan soal kesibukan itu yang membuat kami membatalkan niat. Tapi, karena listriknya ternyata sedikit bermasalah dan “nyetrum” ke bodi kereta. Wahhaa… siapa yang mau anaknya naik kereta listrik yang dialiri listrik sampai ke bodi kereta hehehe.

Dua anak saya akhirnya diceburkan ke arena mandi bola. Permainan yang sebelumnya cukup biasa mereka coba di arena bermain langganan. Beberapa menit di permainan ini hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Cukup untuk hari ini. Kita lanjut lagi pekan depan.

***

Bagi anak, dunia bermain adalah hak asasi. Setiap anak berhak untuk menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain. Sayangnya kebanyakan penyelenggara negara tak cukup peduli dengan urusan ini. Padahal mereka adalah juga orangtua yang punya anak atau bahkan cucu. Tengoklah betapa banyak kota dengan permukiman padat hanya menyediakan fasilitas umum untuk orang dewasa. Tidak untuk anak-anak.

Yeah, masalahnya, dalam beberapa hal anak-anak kita sekarang juga bisa menghabiskan waktu di rumah dengan cukup bermain play station. Kegiatan mengasyikkan tanpa harus berinteraksi dengan orang lain, yang dalam banyak kasus, akhirnya melahirkan anak-anak cerdas namun dengan kepekaan sosial yang buruk.

Bagaimana dengan anak-anak Anda?

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.