Chiyo, Sayuri, Geisha…

Kalau untuk The Da Vinci Code saya penasaran menunggu filmnya karena sudah lebih dulu baca novelnya, maka Memoirs of a Geisha sungguh berbeda. Kisah tradisi Jepang karya Arthur Golden ini menyeret ketertarikan saya justru (lebih dulu) dari filmnya. Padahal, sebagai novel, Memoirs of Geisha sudah lama terbit dan telah pula diterjemahkan lebih dari 30 bahasa. Hmm… saya saja yang ketinggalan kereta.

Masalahnya sih sederhana; beberapa kali melihat novel ini di toko buku, saya tak begitu tertarik. Sampai hari ini bahkan belum ada satu pun buku berlatar belakang Jepang yang saya miliki. Hingga akhirnya suatu hari pertengahan Januari lalu saya sedang di Jakarta dan berniat ke bioskop. Maklum, di kampung saya sini nggak ada bioskop, hehehe. Waktu itu, studio yang memutar Memoirs of a Geisha penuh. Hanya tersisa beberapa kursi di row paling depan. Pasti tidak menyenangkan. Saya pun beralih ke studio sebelah menonton film yang lain.

Keesokan harinya, di sela padatnya sejumlah acara di Jakarta, saya singgah ke bioskop lagi maunya sih untuk nonton Geisha. Dahsyat… lagi-lagi tak kebagian tempat. Saya jadi mikir, kayaknya film ini asyik juga. Waktu akhirnya memaksa saya memendam hasrat untuk ke bioskop lagi – karena harus pulang ke Banjarmasin.

Beberapa hari kemudian saya ke Balikpapan. Selesai sebuah urusan, menyempatkan diri menengok keluarga di Samarinda. Ahaa… kebetulan, di Samarinda ada bioskop. Dan sedang memutar Geisha juga. Sayangnya waktu sangat mepet karena hari mulai gelap. Setelah memacu mobil luarbiasa ngebutnya, saya tiba di Samarinda ketika security di depan pintu masuk bioskop bilang bahwa bioskop sudah tutup. Lagi-lagi, impian nonton Geisha tertunda.

Saya yakin bisa nonton Geisha ketika pekan lalu harus ke Surabaya. Dan keyakinan itu akhirnya terbukti. Malah dengan bonus tambahan nonton film Fearless yang dibintangi Jet Li (bayangkan, habis nonton di studio 3 langsung lari ke studio 1 untuk nonton lagi hehehehe…).

Mungkin karena sudah diputar cukup lama, waktu itu tak semua kursi penonton terisi.

***

Rob Marshall menyutradarai Memoirs of a Geisha dengan sangat baik. Salah satu keberhasilan luar biasa di film ini adalah penonton tetap merasakan identitas Jepang meski para pemerannya adalah artis China, dan dialognya menggunakan bahasa Inggris – tentu Inggris cadel beraksen mandarin.

Mungkin juga karena peran Chiyo, seorang gadis cilik Jepang yang menjadi pembantu Geisha – dan akhirnya ketika dewasa menjadi Geisha ternama, dimainkan oleh aktris cilik Jepang bernama Suzaka Oghu. Karakter Chiyo yang sangat kuat di awal-awal cerita begitu mengesankan hingga akhirnya ketika dewasa diperankan Zhang Ziyi – dan Chiyo berganti nama menjadi Sayuri.

Zhang Ziyi, dengan mata ber-soft lens biru, memerankan tokoh Sayuri dengan sangat baik – setidaknya untuk ukuran penikmat (bukan pengamat lho ya…) film seperti saya. Sayuri menjadi Geisha paling dipuja – sekaligus juga mengantarkan penonton pada pemahaman sesungguhnya; bahwa Geisha bukanlah pelacur. Geisha adalah artis dengan keterampilan berkesenian yang, pada masa itu, menjadi ikon hiburan para borjuis di Jepang.

Alur cerita mengantarkan Sayuri sebagai Geisha sejati, yang ketika pecah perang dunia ke II tidak ikut menjadi pelacur melayani tentara Amerika. Meski begitu, pesona kecantikan Sayuri telah membuat kepincut orang-orang Barat. Toh, Sayuri tetap memautkan hati pada cinta masa kecilnya, seorang pria dewasa dengan panggilan “Sang Ketua” (diperankan Ken Watanabe), yang pernah mencuri hati Chiyo dengan semangkuk es manis ketika Sayuri kecil tengah gundah-gulana.

Pergulatan idealisme Sayuri sebagai Geisha begitu terasa ketika film ini menggambarkan bagaimana citra Geisha menjadi buruk karena sejumlah wanita Jepang melacurkan diri dengan dandanan ala Geisha. Padahal Geisha tidak seburuk itu. Geisha memang menghibur dengan sensualitasnya. Tetapi mereka tidak menjual tubuh sebagai pelacur. Di film ini bahkan diceritakan bagaimana proses “pelepasan keperawanan” seorang Geisha dilelang secara tertutup dan sangat hati-hati, penuh liku dan melewati proses yang begitu sakral — hingga seorang Geisha justru menjadi semakin “berharga” ketika keperawanannya diambil oleh orang dengan tawaran tertinggi.

***

Tidak semua film berlatar sejarah selalu menarik. Saya beberapa kali “ketipu” karena nonton film yang seolah berisi sejarah, ternyata cuma mempertontonkan adegan perang. Memoirs of a Geisha lebih dari sekadar sejarah. Penulis cerita ini menyisipkan misi untuk mengembalikan Geisha sebagai sosok yang derajatnya bukan saja tidak seburuk pelacur, tetapi juga lebih suci dari wanita mana pun di lingkungannya. Itulah mengapa sebagian besar wanita Jepang pada masa itu ingin menjadi Geisha.

Menonton film tentu tak seperti membaca buku. Pasti ada detil cerita yang tertinggal. Karena itu, setelah terbius oleh filmnya, saya pasti bersegera membaca buku Memoirs of a Geisha.

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

8 Responses

  1. APRILIA NUR mengatakan:

    kisah hidupmu memberi aku kekuatan untuk bertahan

  2. syl mengatakan:

    benar-benar geisha sejati yang meraih sukses karena usaha yang hebat
    benar-benar membuat orang berdecak kagum

  3. fira mengatakan:

    Ass,wah asik juga pak ulasannya saya pernah nonton dirumah saudara film ini tapi gak sampai habis.Tapi memang inti dari memoirs of a geisha ini adalah wanita geisha bukan wanita sembarang…seperti dugaan banyak orang ya pak sipp good. I like it. Wasalam.

  4. diana sanreza mengatakan:

    seru b9t filmnya
    gue ska b9t
    and y9 pLing kRen adLh rOMANTIS b9t
    ketua’y waLaupun tUa tP gaNten9 b9t
    sayuri’y jGa cAntik b9t

  5. seba mengatakan:

    Filmnya bagus & insipiring. Teknik pengelolaan film beda dengan film pada umumnya. Tetapi jika sudah membaca novelnya, maka mungkin kita mengharapkan untuk dibuat film seri, karena filmnya sangat minim unsur perasaan & pemikiran dari tokoh utama, yang mana justru menjadi dominan pada novelnya. Di samping itu pada novelnya, Sayuri lebih ditonjolkan sebagai gadis yang cerdas dalam conversation dengan clientnya, berbeda dengan filmnya yang lebih menonjolkan kecantikan dan keanggunan.

    Menurut saya filmnya bagus, walau agak membosankan di awalnya. Tetapi novelnya jauh lebih bagus, deep impact emotionally & kaya pelajaran kehidupan yang biasa ditemui dalam pergaulan sehari-hari.

  6. dini mengatakan:

    AKU INGIN MENJADI SAYURI NITTA_ chiyo san

  7. dwi mengatakan:

    huahuahua…
    saya belum sempat nonton nih film, tapi sepertinya sangat menarik sekali.

  8. rienda mengatakan:

    film ini rame bgt..
    sbnrnya bukan ramenya sii.. tapi nilai dari inti film ini
    film ini memperlihatkan bahwa tidak semua geisha itu berkonotasi negative
    karna jika kita ingat geisha, maka lsg mncul di otak kita bahwa geisha adalh seorang wanita penghibur (wanita nakal)
    padhl sbtlny, geisha itu tdk sprti itu..
    so.. nton ajj dee..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.