Kupelet Dikau dengan Tubuhku

Lagi-lagi heboh artis jadi simpanan pengusaha. Cerita lama yang, nyatanya, selalu saja menarik. Lebih-lebih menyangkut hidup artis wanita, pemilik kombinasi segala daya tarik; muda, cantik dan terkenal sekaligus. Bermula dari urusan syahwat, ujung-ujungnya jadi ribut soal harta. Dan terungkaplah segala cela.

Hari-hari terakhir ini, setiap pagi ketika sarapan menjelang ke kantor, saya menikmati berita-berita infotainment soal artis Cut Memey yang menggaet hati (juga harta) pengusaha Jackson Perangin-angin. Tak tanggung-tanggung, Jackson merasa dirinya diguna-guna, hingga dengan gampang mengeluarkan uang puluhan juta setiap bulan untuk Cut Memey, ditambah hadiah-hadiah lain berupa rumah dan mobil mewah.

Saya termasuk yang tidak percaya guna-guna, bahkan meskipun Jackson mengaku guna-guna itu berasal dari Kalimantan. Sebagai orang Kalimantan, saya tahu, cerita tentang perdukunan, magic, ilmu-ilmu hitam, pelet maupun pengasih itu, tak lebih dari soal dagangan. Sesuatu yang sungguh dibesar-besarkan.

Ada beberapa logika yang sederhana sekali. Pertama, Cut Memey itu cantik. Sebagai lelaki normal berselera baik, Jackson pastilah dalam kesadaran penuh mengetahui itu. Dengan kesadaran itu pula Jackson akhirnya kepincut, lantas mendekati, dan gayung pun bersambut. Maka terjadilah apa yang akhirnya terjadi; Jackson mabuk cinta, lupa istri dan keluarga, lantas bersedia berkorban harta.

Siapa pun tahu, jatuh cinta itu candu yang memabukkan. Bukankah ada lagu cinta yang menyebut; karena cinta, tai kucing pun rasa cokelat? Itulah yang terjadi pada Jackson. Ia bukan diguna-guna, tapi mabuk dalam jerat candu asmara. Sungguh lelucon bila Jackson kemudian mengatakan ia memberi harta dan kemewahan kepada Cut Memey dalam keadaan tidak sadar, alias di bawah pengaruh perdukunan. Menurut saya, yang benar adalah Jackson menggauli Memey dalam keadaan sadar di bawah pengaruh hawa nafsu.

Kedua, kalau Jackson keluar uang, itu sesungguhnya sesuatu yang biasa dalam dunia perselingkuhan. Ada rupa ada harga. Makin cantik dan terkenal yang diselingkuhi, biayanya tentu semakin tinggi. Menurut saya ini urusan transaksi biasa. Tidak ada hubungannya dengan perdukunan. Bahkan kalau pun ternyata Memey benar-benar minta jasa dukun, maka dia sebenarnya telah dikibulin oleh si dukun.

Ketiga, Jackson sebenarnya melanggar “kode etik” perselingkuhan, ketika dia minta harta yang telah dihadiahkan ke Memey dikembalikan. Ini sungguh cara buruk seorang lelaki. Sebab harta itu tidak dihadiahkan oleh Jackson secara cuma-cuma. Ada timbal balik, take and give, sama-sama menikmati. Memey menikmati harta Jackson, dan Jackson menikmati hahaha Memey. Adil, bukan?

Soal moral? Itu cerita lain lagi…

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

6 tanggapan untuk “Kupelet Dikau dengan Tubuhku

  • 9 Mei 2007 pada 01:11
    Permalink

    absoultely right..
    bahkan untuk berselingkuh pun, dituntut untuk being a gentleman.

    Balas
  • 11 Juni 2007 pada 10:59
    Permalink

    hai memey mending km pelet ak aja b’coz ak sering fantasiin km d kmar mandi ahhhhhhhhhh……..

    Balas
  • 17 Desember 2007 pada 08:29
    Permalink

    PecUn beUd siH Lw?
    NgaCa DoNk?
    INSyaf!!
    Udah Tua!
    Gk Nyadar!!
    Blo0n!

    Balas
  • 28 April 2008 pada 18:13
    Permalink

    ….WAH MAKIN HEBOH AJA DUNIA ARTIS,YA MAU GA MAU TUH NAMANYA JUGA HIDUP MUNGKIN APA YANG DIA DAPAT SELAMA INI KURANG PUAS MAKANYA DIA BERANI MENGAMBIL TINDAKAN SELINGGKUH CARA CEPAT BIAR KAYA,KERJA SEBENTAR HASIL BESAR….YA…HATI2 AJA KLO BERMAIN API,HASILMYA GA AKAN LAMA BISA2 KEBAKAR SENDIRI…

    Balas
  • 14 September 2008 pada 03:18
    Permalink

    wah enak bgt tbuh mu

    Balas
  • 19 Januari 2011 pada 16:45
    Permalink

    tak selamanya selingkuh indah kan..!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.