Cetak Artikel Ini
“Blending Religion” ala Eden
Ditulis 30/12/05, Kategori Esai, General, Kontemplasi.Salam Eden,
Hai, aku tak tersembunyi lagi
Beginilah aku yang kini sudah beralamat
Salam New Age anak-anakku
Berilah kasih pada Ayahmu di sini
Ruh Kudus, the Holy Spirit berkaca-kaca haru menanti anak-anaknya menyapa
Hallo, sayangku, Aku menantimu!
Aku sedang mendamaikan dunia
Aku ingin menghentikan kekerasan agama
Maka kuajarkan Perenialisme
Bilakah dunia sejuk dan menggairahkan kembali
Dari kebenaran-kebenaran abadi yang berkata-kata
Seperti ituah perenialisme yang kusampaikan
Malaikat Jibril
Begitulah Lia Aminuddin, yang belakangan populer sebagai Lia Eden, menyampai salam pembuka di website-nya. Wanita kontroversial ini kembali jadi berita setelah Kerajaan Tuhan miliknya dikepung massa. Belakangan, Lia bersama pengikutnya harus dievakuasi. Sang Jibril pun digiring ke kantor polisi.
Eksplorasi terhadap eksistensi Tuhan memang tak pernah berhenti. Sejak bumi mengada dan manusia menjejak kaki, akal memang terus mencari. Sejarah kemudian mencatat begitu banyak peristiwa yang menoreh kisah-kisah tentang agama. Yang gaib berhenti gaib ketika hijab (dianggap) terbuka. Misteri tentang Tuhan dibongkar dengan teori dan kode-kode rahasia. Toh, pencarian tak kunjung selesai – mungkin hingga kelak terkubur bersama habisnya zaman dan peradaban.
Obsesi keber-Tuhan-an yang sedemikian dahsyat membuat tak sedikit manusia larut dalam candu pikirannya sendiri. Ketika seseorang mengaku sebagai Tuhan, atau titisan malaikat, atau juga mengklaim diri sebagai rasul, yang terjadi mungkin justru kemabukan alam pikiran. Betapa misteriusnya Tuhan sehingga akal manusia pun bisa goyah memikirkannya.
Tetapi Tuhan merawat kemisteriusan diri-Nya sehingga seolah sudah menjadi kodrati ketika kemisteriusan itu justru menciptakan kelucuan-kelucuan yang sulit masuk di akal sederhana sekalipun. Bagaimana mungkin sekumpulan orang bisa percaya bahwa ada Malaikat Jibril wujud dalam sesosok manusia.
Lia Eden memang unik. Betapapun ia dan ajarannya kontroversial, wanita asal Makassar ini seperti tengah melakonkan adegan satire yang seharusnya membuat para pemeluk agama introspeksi. Di tengah ketegangan perbedaan yang awet selama berabad-abad, Lia justru melakukan proses penggabungan agama. Ia menciptakan sebuah “perdamaian” dengan resep blending religion. Dalam salah satu bagian di halaman websitenya, Lia mengucap “fatwa”: “Salamilah saudara-saudaramu dengan sepenuh hatimu, datangilah mereka dan berdoalah kepada Tuhan yang Maha Esa bersama mereka.”
Pesan-pesan damai yang positif itu memang menarik. Tetapi Lia harus sadar bahwa ia hidup dalam sebuah realita di mana mengaku sebagai malaikat adalah gila. Apalagi klaim seperti itu kemudian dilanjutkan dengan prosesi pembentukan agama baru, penobatan sebagai “hakim Tuhan”, juga penciptaan ritual-ritual yang setengah dipaksakan. Pasti menjadi masalah karena di tengah ajakan agar semua pemeluk agama berdamai, Lia justru membuat agama baru yang bisa memicu rusaknya perdamaian.
Hebatnya, teologi ala Eden berhasil juga menjaring penganut. Kerajaan Tuhan miliknya tetap berpenghuni sampai akhirnya dibubarkan massa. Paling tidak, sejarah kembali mencatat bahwa misteri tentang Tuhan memang sesuatu yang tak pernah tuntas. Manusia terus mencari, bahkan dengan cara-cara yang dianggap gila.



TUHAN ITU CUMAN SATU DAN JIBRIL ITU ADALAH PENYAMPAI WAHYU KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD S.A.W DAN TUHANNYA HANYA ALLAH
EDEN ITU AGAMA APA SIH MASA TUHAN NYA MANUSIA ELO BEGO APA TOLOL ?DAN GUE GAK TAKUT YG NAMA NYA ORANG KAFIR KAYAK LOE !ITU EDEN APA EDAN EH SETAN GUNDUL MAJU LOE SMUA GUE GAK TAKUT HANYA ALLAH YG KU TAKUTI& ALLAH SATU SATUNYA TUHAN .ALLAH TELAH MENYIAPKAN API YG PALING PANAS UNTUK ORANG NON MUSLIM/KAFIR
eh lia eden gila…
sampai jumpa di neraka ye.. sama pengikut lo,ntar lo disana reunian deh sambil makan pizza hut ama minum coca cola dingin kan enak tuh disana pas banget sama hawa nye yang panas.
eh …..lo klo mo bikin agama yang “idep” kenapa? kyanya orang seperti lo harus dan wajib masuk neraka yang ke 9 klo ada?…dasar orang gila fanatik agama.