Bangga Jadi Orang Indonesia?

Inilah Indonesia. Negeri yang, meminjam istilah Jusuf Kalla, paling sering dihina oleh penduduknya sendiri. Bukan karena penduduknya tidak sopan. Tapi karena hinaan itu lebih banyak merupakan kenyataan.

Di Aceh, pasca damai RI-GAM, hanya 56 persen warga Tanah Rencong yang bangga menjadi bagian dari Indonesia. Selebihnya tidak. Paling kurang, itulah hasil survei LSI yang di-publish kemarin. Menurut LSI, warga Aceh yang mengidentifikasi diri sebagai Indonesia bahkan hanya 45,6 persen. Sisanya lebih senang tampil dengan identitas Aceh atau agama.

Dalam beberapa kesempatan ke luar negeri saya sering mengaku sebagai orang Kalimantan. “I am from Kalimantan.” Setelah ditanya di manakah gerangan Kalimantan itu, barulah saya jawab Indonesia. Bukan karena saya tidak bangga jadi orang Indonesia. Tapi karena (barangkali) saya “lebih bangga” jadi orang Kalimantan.

Rasa bangga (atau tidak bangga) menjadi penduduk negeri memang tidak selalu berhubungan dengan kadar nasionalisme seseorang. Menurut saya nasionalisme tak bisa diukur dari sekadar ungkapan. Cinta Tanah Air adalah sesuatu yang real, bukan cita-cita atau janji. Nasionalisme diukur dari perbuatan – apa faedah hidupmu untuk bangsamu.

Tengoklah penjahat-penjahat negara yang berkedok suci itu. Mereka dalam keseharian tampil bersahaja, menjunjung tinggi simbol-simbol negara, bicara tentang kebangkitan nasional dan kesejahteraan masyarakat, mengurai visi masa depan bangsa yang lebih baik. Tapi di balik topeng kebaikan itu mereka korupsi, menjarah kekayaan negeri untuk urusan perut sendiri. Nasionalisme mereka tipu-tipu, sungguh, tipu-tipu! Merekalah, orang-orang sok nasionalis itu, yang sesungguhnya merusak dan menggerogoti kewibawaan republik ini. Membuat orang Indonesia malu menjadi Indonesia.

Apakah yang pantas dibanggakan dari negeri yang rangking korupsinya masih di tiga besar dunia? Para pemimpinnya sibuk berkelahi? Hukumnya mudah dibeli? Wakil rakyatnya lebih banyak menipu daripada bekerja? Korupsi telah menjadi budaya, dimaklumi karena biasa, tak bisa diberantas karena yang mau memberantas terlibat juga!

Tentu ada motif sejarah kalau sampai hari ini, sebagian warga Aceh tidak bangga menjadi Indonesia. Tetapi cobalah bertanya kepada penduduk Indonesia di sudut yang lain. Masihkah mereka bangga – dengan sebenar-benarnya bangga?

Saya sendiri, masih dan akan terus bangga menjadi Indonesia – sebatas dalam pengertian karena Tuhan memang memutuskan saya menjadi bagian dari republik carut marut ini.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

3 tanggapan untuk “Bangga Jadi Orang Indonesia?

  • 11 Desember 2006 pada 17:05
    Permalink

    Aku nggak bangga jadi orang indonesia

    Balas
  • 13 Desember 2007 pada 09:17
    Permalink

    dasar gebleg mah goblog

    Balas
  • 2 Oktober 2009 pada 16:11
    Permalink

    gw bangga kok jadi indonesia,, klo kita liat segala sesuatu dari semua yang negativ yah ga akn pernah bangga..
    sama kaya lu selalu liat diri lu dengan semua kejelekan lu, lu pasti ngutuk Tuhan karena lu diciptakan seperti itu, tapi liat lah positif nya.
    kalo lu bilang Indonesia sering di hina -dan memang kenyataan nya seperti itu- yang harus lu pikirin bukan gimana orang ngubah bangsa ini, tapi apa yang bisa lu kasih buat bangsa ini..
     
    semangat perjuangan para pahlawan kita ga gampang loh, jadi dukung mereka yah atas kemerdekaan ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.