Membincang Senja (Lagi)

Senja paling menakjubkan bisa kita temukan di setiap pantai. Tentu saja yang menghadap arah matahari terbenam. Keluasan samudera dengan garis horison di kejauhan adalah titik nol di mana matahari akan terjatuh di cakrawala dalam posisi paling rendah. Air dari garis pantai sampai ke titik horison merupakan permadani emas yang terhampar, seakan memberi kita jalan untuk berlari mengejar matahari.

Senja di pantai adalah juga romantisme yang tak tertandingi. Orang berpasang-pasangan duduk di pasir putih mendendang lagu-lagu cinta dengan debur ombak sebagai iringan musik. Warna-warna ajaib datang silih berganti di langit dari atas kepala hingga ujung pandangan mata. Janji-janji terucapkan sekaligus menghambur – entah asli atau palsu… sebab semilir angin pantai memang sangat mudah membuat kata-kata menguap.

Begitu dahsyatnya senja, nelayan dan orang-orang pantai pun tak pernah bosan menikmati. Mereka memang baru melaut ketika gelap telah menyelimuti bumi. Tapi jala dan perahu telah ditongkrongi sejak petang belum menjelang. Duduk di sisi cadik; menghadap laut, dengan sebilah rokok di tangan, sambil sedikit melamun.

Nelayan-nelayan itu saya jumpai hampir di sepanjang Pantai Senggigi. Dalam suasana sunset, mereka duduk santai di perahu menyaksikan detik demi detik tenggelamnya matahari. Mungkin semacam ritual untuk hasil kerja yang lebih baik. Sesuatu yang mereka lakukan setiap hari.

Turis-turis membayar paket perjalanan yang mahal untuk berjumpa senja di pantai. Di keluasan samudera dan langit itu, mereka bergumam dalam hati; andai potongan-potongan senja bisa dibawa pulang, pastilah banyak pembelinya. Para pedagang senja tinggal mencari lokasi untuk membuat Pasar Senja – tanpa sedikit pun khawatir menyaingi pedagang di Pasar Pagi dan Pasar Malam.

Senja di pantai juga terasa lebih panjang. Mungkin karena langit menyentuh bumi tanpa halangan, sehingga senja menjadi tambah menarik bahkan ketika matahari sudah benar-benar tenggelam. Bias sinar dari balik horison menyeruak ke seluruh ruang langit yang juga tampak lebih lebar.

Hmm… senja memang menyimpan banyak cerita.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.