Ditutup dengan “Ngudit” dan “Nesek”

Sekadar Catatan Mudik Lebaran (5-habis)

…catatan sebelumnya

Perjalanan mudik harus berakhir. Hari ini, dari Sumbawa, saya bertolak ke Mataram, kembali lewat jalan darat dan mengemudi sendiri – meninggalkan pulau eksotik yang pastilah mengoleh-olehi segenggam kenangan. Catatan bersambung yang ala kadarnya ini adalah salah satu kenangan itu.

Sejak awal catatan ini memang bukanlah reportase layaknya jurnal-jurnal perjalanan. Ini cuma keisengan di sela-sela waktu luang – yang ternyata juga tidak banyak. Sebelum berangkat mudik, saya terpikir betapa membosankan libur lebaran di sebuah kampung di ujung Indonesia. Saya harus cari sesuatu untuk mainan sekaligus killing time. Syukurlah, mainan itu saya temukan.

Saya sendiri tidak membuat planing apa pun, seperti layaknya, katakanlah, pekerjaan reportase di sebuah ruang kerja redaksi. Catatan-catatan yang saya buat ditemukan secara tidak sengaja dalam perjalanan. Entah menarik entah tidak, ya… beginilah adanya.

Kemarin, misalnya, saya menemukan warga yang tengah melinting rokok dari daun lontar. Beberapa kali sebenarnya saya melihat pria-pria Sumbawa merokok dengan batangan panjang daun lontar ini. Tapi baru sekali melihat mereka membuatnya. Ternyata, menarik juga.

Daun lontar yang paling nikmat untuk ngudit (bahasa Sumbawa, artinya merokok) konon adalah daun muda yang dikeringkan. Mula-mula daun lontar dibersihkan dari bulu-bulu halus yang menempel di bagian bawah daun. Kemudian dipotong sepanjang kira-kira 20 cm dan lebar tiga jari. Potongan tersebut kemudian dilipat dua, lantas dicekungkan untuk diisi beberapa jumput tembakau. Lipatan ini kemudian dilinting, dan rokok pun jadilah.

Tak ada tembakau khusus, yang penting dapat aromanya. Karena di sini tembakau memang hadir sebagai pelengkap saja. Lagi pula kebiasaan merokok daun lontar ini tentu bukan karena alasan citarasa. Tetapi karena mereka memang tak mampu beli rokok kemasan yang paling murah sekalipun. Konon, asap rokok daun lontar lebih keras dari rokok kemasan. Entah pula soal kandungan nikotin dan lain-lain. Toh, mereka tampak sehat-sehat saja.

***
Oh iya. Saya juga kembali ke kampung Semeri, setelah dapat kabar bahwa banyak keluarga di kampung itu memiliki kebisaaan membuat kain tenun khas Sumbawa, dalam bahasa setempat disebut nesek. Saya ingin sekali melihat. Ini kampung memang unik, berada di kaki perbukitan yang tandus dan panas. Penduduk yang laki-laki lebih banyak bekerja di ladang. Yang wanita menghabiskan waktu di rumah untuk menenun.

Kain yang ditenun adalah bahan sarung. Peralatan tenun dibuat dengan sangat sederhana, berukuran lebar tak lebih dari setengah meter, ya kira-kira sejangkauan lengan orang dewasa. Selain menggunakan kayu-kayu dan bambu, mereka juga memakai lidi untuk menganyam benang sebelum dirapatkan.

Pekerjaan manual tentu saja selalu memakan waktu. Untuk memproduksi 1 kain sarung diperlukan waktu minimal 15 hari. Itu kalau setiap hari yang dikerjakan cuma nesek saja, tidak kerja yang lain. Kalau dikerjakan dengan santai tanpa tenggat, atau sekadar mengisi waktu senggang ibu-ibu di rumah, satu kain bisa baru selesai dalam tempo 2 bulan.

Harga dari tangan pertama berkisar di angka 250 ribu sampai 350 ribu. Padahal, di toko-toko sovenir di Sumbawa maupun Mataram, kain tenun Sumbawa ini berharga di atas 750 ribu sampai 1,5 juta. Itulah yang membuat para pengrajin setengah ogah-ogahan. Mereka punya keahlian menenun, tapi tak ada jalan untuk memasarkan dengan harga yang baik. Pekerjaan nesek setiap hari itu dibayar murah. Yang kaya justru para pemasar. Yeah, hukum ekonomi memang kerap begitu. Orang di hulu selalu jadi bulan-bulanan orang hilir.

Saya dapat capture menarik di tempat nesek ini. Ibu penenun itu bekerja di depan sebuah jendela menghadap ke persawahan. [Ya… bahkan orang kampung pun mengerti estetika dalam bekerja, sehingga aneh juga ada orang betah kerja menghadap dinding kantor setiap hari hehehe]. Matahari pagi membuat cahaya jatuh di tangan dan wajahnya. Saya potret dengan low speed untuk mendapatkan tone asli sekaligus berharap efek gerak yang menarik. Saya suka sekali dengan hasil fotonya, dan karena itu saya upload juga di situs Fotografer.Net.

***
Begitulah. Perjalanan harus diakhiri karena libur memang tak mungkin setiap hari. Betapa nikmat hidup para pengembara, yang setiap hari melakukan perjalanan karena buat mereka itulah pekerjaan.

Hmmm… kayaknya lebih nikmat lagi pengembara yang berduit sehingga bisa traveling sepanjang waktu, memotret dan menulis catatan perjalanan setiap hari.

(5 Syawal 1426, last day di kampung Raberas, Sumbawa Besar Nusa Tenggara Barat)

TAMAT

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.