Hunting Foto yang Tak Kunjung Jadi

Sekadar Catatan Mudik Lebaran (4)

…catatan sebelumnya

Laut dan gunung adalah tempat favorit saya. Di Kalimantan, dari tempat tinggal, saya harus menempuh jalan darat dengan mobil selama lebih kurang 2 jam untuk bertemu laut. Gunung? Hanya setengah jam, namun itu pun bukan sebenar-benarnya gunung karena sesungguhnya hanya perbukitan biasa.

Di Sumbawa, saya menemukan gunung dan laut sekaligus secara bersamaan. Sore dan pagi adalah waktu yang sangat baik untuk hunting foto. Sayangnya, setelah empat hari di sini, saya tak kunjung sempat menyalurkan hobi fotografi. Foto-foto hanya saya dapatkan karena kebetulan saja.

Tengoklah lanskap laut dan perbukitan di atas. Itu foto saya jepret dalam perjalanan dari dermaga Kayangan ke Poto Tano. Bukit-bukit itu berjejer di sepanjang perjalanan. Keterbatasan lensa kamera membuat saya harus mengakali pemotretan dengan sequel frame. Dengan bantuan Photoshop, sedikitnya 7 foto sequel itu saya gabung menjadi sebuah lanskap yang menarik. (klik pada foto untuk melihat dalam ukuran lebih besar).

Dalam proses penggabungan foto memang ada sedikit masalah. Yakni sambungan setiap frame tidak balance. Penyebabnya adalah; pertama, saya memotret tidak menggunakan tripod, sehingga moving kamera hanya berdasarkan feeling. Kedua, saya memotret di atas ferry yang sedang berjalan. Sehingga sudut setiap frame pasti berubah mengikuti pergerakan ferry.

Saya ingat dulu pernah memotret dengan cara seperti ini ketika mendaki puncak gunung Kerinci di Jambi tahun 1999. Waktu itu, nyaris tak ada masalah dalam penggabungan foto kecuali posisi awan yang berubah. Maklum, jeda shuter antar-frame yang hanya beberapa detik sudah cukup memberi kesempatan kepada awan untuk bergeser.

Untungnya, sekarang teknologi digital sudah sangat baik. Meskipun sudut gambar sedikit berubah, editing di Photosop lumayan membantu. Termasuk memperbaiki tone langit dan laut yang pada frame awal lebih gelap daripada frame berikutnya.

Menjelang tiba di Poto Tano, saya menemukan lagi sebuah objek menarik. Yakni perkampungan nelayan di kaki bukit tak jauh dari dermaga. Saya tak sempat bertanya apa nama kampung itu. Tapi membayangkan mereka tinggal di sana betapa asyiknya. Setiap rumah menghadap laut dan membelakangi bukit. Bukankah itu adalah view yang paling banyak dicari?

Keluar dari ferry, perjalanan dari Poto Tano menuju kota Sumbawa Besar adalah perjalanan penuh objek menarik. Sepanjang sisi kiri jalan adalah pantai, mirip seperti jalur Pantura bila kita dari Jakarta menuju Jawa (emangnya Jakarta bukan Jawa? hehehe). Saya harus merelakan semua objek itu terlewatkan karena saya mengemudi sendiri. Kalau setiap objek menarik harus singgah, kapan sampai di tempat tujuan?

Saya sih meniatkan untuk khusus seharian hunting foto, karena memang banyak objek menarik di sini. Hanya saja, sampai hari ini rencana itu belum kesampaian. Saya hanya sempat jalan-jalan ke pantai dekat kota Sumbawa Besar dan memotret serpihan karang laut yang basah terkena gelombang. Saya potret tanpa flash dengan menggunakan modus makro.

Mudah-mudahan sore ini sempat jalan-jalan untuk meng-capture lebih banyak foto. Pada saatnya foto-foto itu akan saya upload di Galeri Foto Windede, khusus untuk Anda.

(4 Syawal 1426, …dari kampung Raberas, Sumbawa Besar Nusa Tenggara Barat)

[bersambung ke Ditutup dengan “Ngudit” dan “Nesek”]

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

6 Responses

  1. Jajay Wahyono mengatakan:

    Kalau mau bikin foto Merapi dari jalur tenggara dan Timur (jalur tidak begitu terkenal) silahkan ke Solo, aku sering bikin dokumentasi Merapi. Aku kenal juga beberapa ‘pegawai gunung’, relawan, kontak udara kontak darat radio amatir, pos pendakian, dll. AKu juga kenal sungai-sungainya. Aku antar dengan senang hati. Kebetulan aku juga menyenangi aktifitas ini selain main sepak bola.

  2. thegrameza mengatakan:

    sebagai warga sumbawa yang lagi mrntau, bagi sya sumbawa te2p is the best

  3. yudistira mengatakan:

    tana SAMAWA NONDA DUA………pang ate ta,tp sayang untuk sebuah kota yang bisa dikatakan berkembang saja masih meragukan.be apa boat ade tokal pang kursi gera nan gina????????le lalo ngeluet/ngkakadu ngeluet?

  4. ade mengatakan:

    lamen no to satonang de ada ketokal nan,roa kelupa diri.tu beleng ke no to beleng sama2 susah seh.padahal tuk kabalong desa darat kita si

  1. 20 Oktober 2006

    […] Arsip « Hunting Foto yang Tak Kunjung Jadi Berjumpa Negeri Senja di Senggigi » […]

  2. 21 Oktober 2006

    […] Arsip « Sapi, Semeri dan “Topat Petikal” Hunting Foto yang Tak Kunjung Jadi » […]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...
  1. […] Arsip « Hunting Foto yang Tak Kunjung Jadi Berjumpa Negeri Senja di Senggigi » […]

  2. […] Arsip « Sapi, Semeri dan “Topat Petikal” Hunting Foto yang Tak Kunjung Jadi » […]