Berlebaran di Pegadaian

LEBARAN memang masih lama. Tapi, kesibukan sudah harus dimulai sejak sekarang. Yang tidak mudik sibuk mendandani rumah; supaya tidak malu-maluin ketika orang bertamu untuk silaturahmi. Yang mudik tentu harus pesan tiket perjalanan jauh-jauh hari; supaya dapat harga lebih murah dan kebagian seat yang nyaman. Semua pasti ada ongkosnya. Kalau tidak bayar di depan, jangan harap bisa pegang tiket sekarang.

Ihwal ongkos itu membuat orang perlu duit segar secepatnya. Beruntunglah mereka yang menabung (dan tabungannya berisi) karena punya cadangan dana yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Bahagia pula orang-orang yang berkelebihan uang sehingga tak perlu pusing. Faktanya, sebagian besar penduduk kita yang merayakan lebaran hidup dengan kondisi keuangan pas-pasan.

Maka, biasanya tak ada pilihan lain. Satu-satunya ”pahlawan” adalah Kantor Pegadaian, yang menjanjikan layanan ”mengatasi masalah tanpa masalah” itu. Di saat menjelang lebaran, periksa saja kantor-kantor gadai; orang antre untuk ”menitip” barang demi mendapat pinjaman uang.

Semua benda berharga (atau setengah berharga) bisa digadaikan. Dari yang kecil-kecil dan praktis seperti perhiasan, sampai benda berat macam mobil atau rumah. Semua dilakukan demi sebuah ritual bernama ”hari raya”. Betapa dahsyatnya.

Konsep ”kembali ke fitrah” dalam perayaan Idul Fitri memang terus bergeser menjadi pesta tahunan. Kegembiraan lebaran adalah kegembiraan pulang kampung massal, berjumpa kerabat dan sanak saudara, makan ketupat, bagi-bagi angpao, bertukar kisah-kisah nostalgia masa kecil, romantisme religi dan sejuta kegembiraan lain yang tak terucapkan. Semakin hari usaha meraih kegembiraan itu lantas menjadi semakin mahal.

Dan untuk itulah konsep pegadaian diciptakan.

Di beberapa daerah urusan menggadaikan barang ini malah jadi bagian dari ritual lebaran. Yang penting ”hari kemenangan” meriah, semua bergembira, selepasnya barulah berpikir bagaimana cara mengembalikan modal; melunasi utang untuk menyelamatkan barang yang dijaminkan di pegadaian.

Selain kantor gadai resmi, ada juga bandar gadai tidak resmi, yang meskipun (biasanya) memasang tarif bunga lebih tinggi, tetap diminati karena kemudahan transaksi dan jumlah pinjaman yang bisa lebih tinggi. Urusan gadai-menggadai tidak resmi ini kerap terjadi di lingkungan kekerabatan yang sudah cukup kental, atau melewati proses saling kenal yang berliku. Toh, bagi bandar, tak ada sedikit pun keraguan, karena nilai pinjaman disesuaikan dengan barang yang digadaikan, sehingga potensi kerugian nyaris tidak ada.

Orang bisa menggadaikan apa pun miliknya selama yang digadaikan ada. Tapi cobalah pikir bagaimana sebagian saudara kita yang lain, yang tak mungkin ke pegadaian, karena memang sudah tak ada lagi barang yang bisa digadaikan?

Padahal, lebaran juga konon dipersembahkan untuk mereka.

Like & Share

One Comment on “Berlebaran di Pegadaian”

  1. mengatakan:bisnis2 diatas bisa jadi bmooing khususnya bisnis periklanan ni soalnya banyak sekali para pengusaha yang akan menggunakan jasanya dan tak hanya satu kali dan mungkin satu orangnya bisa berkali2 agar usahanya bisa dikenal oleh masyarakat luas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.