Selamat Datang, OMB…

Selama ini ada istilah OKB, untuk orang yang tiba-tiba berduit dan tampak kaya mendadak. Selain menjadi sangat konsumtif, OKB (yang berasosiasi negatif ini) biasanya juga demonstratif; cenderung memperlihatkan kekayaannya secara berlebihan. Sudah lumrah bila bekas orang miskin yang menjadi kaya selalu menjadi gunjingan. Yang digunjingi biasaya ihwal asal muasal kekayaan. Kalau bukan dapat lotre, ketiban warisan entah dari mana, atau korupsi.

Tapi OKB sudah jadi istilah basi. Sekarang ada lagi OMB, alias Orang Miskin Baru. Ini komunitas yang tidak terbentuk dengan sendirinya. Tetapi ”dibentuk” sedemikian rupa oleh institusi bernama pemerintah. Ya, dengan program kompensasi BBM yang lagi ramai sekarang, pemerintah kita telah sukses menciptakan komunitas-komunitas OMB di seluruh penjuru republik ini.

Bayangkan saja, setiap hari ada saja warga yang protes karena tak kebagian KKB, kartu sakti untuk memperoleh Subsidi Tunai Langsung (SLT) senilai 100 ribu rupiah sebulan. Protes masyarakat ini tentu saja karena mereka merasa miskin tapi tak dianggap miskin. Buktinya, nggak kebagian SLT.

Lha… peradaban semakin maju, tapi rakyat kita masih harus rebutan dianggap miskin. Mereka rela mengurus ke RT, ke kelurahan, ke kecamatan, demi mendapat stempel sebagai orang miskin. Dan pemerintah, sebagai institusi yang ikut bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat kita, justru membuka peluang untuk proses ”pemiskinan” secara massal ini.

Yang lebih celaka, sebagian masyarakat strata menengah, yang sehari-hari sudah bisa hidup (meski seadanya), juga ikut-ikutan lomba menjadi miskin ini. Maklum, biar kata cuma 100 ribu sebulan, dengan pembagian yang dirapel sekali 300 ribu itu, peminatnya tidak sedikit. Duit 300 ribu, hari gini… siapa yang nggak mau!!!

Inikah yang disebut-sebut SBY-JK sebagai proses mensejahterakan rakyat itu? Inikah angin perubahan yang mereka bawa ke mana-mana saat kampanye pilpres setahun yang lalu?

Rakyat miskin Indonesia pastilah senang dapat uang 300 ribu. Apalagi memperolehnya tak perlu bekerja penuh keringat. Cukup antre sambil menempel cap miskin di jidat masing-masing. Tapi sadarkah pemerintah, bahwa semakin banyak saja rakyat kita yang menjadi OMB, malas, tumpul kreativitasnya dan berlomba-lomba menjadi penengadah? Orang yang tadinya malu disebut kere, sekarang malah berusaha mencari legitimasi ke-kere-annya.

Mungkin benar, kemiskinan telah menjadi satu-satunya kekayaan Indonesia hari ini.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.