Ketika Busana Sudah Tak Penting

Apakah arti busana bagi Anda? Pelindung tubuh? Pembungkus badan? Prestise?

Di zaman serba modis seperti sekarang, busana sering jadi ukuran penghargaan terhadap seseorang. Masuklah Anda ke sebuah dealer mobil mewah. Kenakan pakaian lusuh tak beraturan.
Bahkan meskipun saat itu Anda membawa uang yang cukup untuk beli 3 biji mobil sekaligus, Anda bakal terhalang di pos satpam. Bisa dikira gembel, atau orang minta sumbangan.Sebaliknya datanglah sekali lagi. Berpakaianlah yang rapi dengan parfum wangi. Anda akan disambut dengan sukacita, atau setidaknya senyum ramah gadis-gadis di sales counter — meskipun sebenarnya Anda sedang tidak punya sekeping uang pun.

Saya termasuk yang jarang berpakaian rapi — walaupun tidak dalam pengertian lusuh atau jorok. Sehari-hari lebih sering memakai celana jins, kemeja kotak-kotak dan sepatu kets. Tetapi saya termasuk “penurut” karena masih bisa mengubah penampilan menjadi formal untuk suasana yang formal. Artinya, setidakrapinya saya ini, masih ngerti lah tak mungkin pakai kaos oblong untuk sebuah acara di mana semua orang memakai jas dan dasi.

Maka, busana sesungguhnya hanyalah ritual budaya. Di suku tertentu di Irian, pengertian berpakaian rapi adalah memakai koteka. Di Kalimantan, untuk disebut rapi harus pakai baju teluk belanga dan kain tutup kepala. Di Pantai Kuta, berpakaian rapi untuk wanita adalah G-String dan beha. Di mal atau plaza, berpakaian rapi itu adalah celana tiga perempat dengan atasan tanktop ketat.

Saya percaya performa seseorang tidak melulu dipengaruhi oleh pakaiannya. Banyak orang yang, dibungkus busana seperti apa pun, akan tetap tampak baik. Jadi, saya bingung juga, kenapa acara-acara resmi di DPR sana, misalnya, masih harus mewajibkan orang pakai PSL — sehingga karena itulah lantas ada anggaran “Tunjangan Pakaian” yang demikian besar untuk anggota dewan. Kenapa, misalnya, untuk upacara kenegaraan kita tidak boleh datang bersendal jepit dan celana pendek?

Bumi dan peradaban semakin tua. Akan tiba saatnya, kelak, busana sudah bukan urusan penting, sehingga di balik ketelanjangan lahiriah ini kita bebas membungkus tubuh dengan apa saja.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Satu tanggapan untuk “Ketika Busana Sudah Tak Penting

  • 24 Juni 2008 pada 14:56
    Permalink

    kalau menurut saya busana sangat penting, zaman sekarang aza orang yang terlalu buka-bukaan.. padahal misalkan dia seorang muslimah dia pasti tau kalau menutup aurat itu wajib bagi dia yang seorang muslimah… tapi anjuran saya juga buat yang non-muslim agar menutupi bagian2 tubuhnya juga biar g’ terlalu vulgar ‘n g mengundang kejahatan bagi yang melihatnya_ gitu aja dari saya. thank’z……

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.