Mexicana Banana… Es Krim Tanpa Pisang

Kemarin saya kembali mencicipi es krim, setelah sekian lama tak pernah menyentuh makanan dingin-manis-lembut itu. Itu pun karena disuguhi gratisan. “Kami lagi promo nih, Anda cobain ya… ada banyak pilihan kok,” orang di hadapan saya, manajer sebuah hotel, menyodorkan kertas menu.

Maka, macam-macam jenis es krim tinggal dipilih. Namanya aneh-aneh, dengan bahan yang aneh-aneh pula. Ada yang dicampur potongan nenas, ditaburi keju dan cairan cokelat, kepingan biskuit, irisan belimbing atau pisang. Kalau dulu es krim biasanya disuguhkan di gelas kaca atau plastik, atau “gelas krupuk” yang bisa dikunyah itu, es krim aneka jenis ini disuguhkan di atas piring atau mangkuk.

Sebagai orang yang sangat tidak faham es krim, saya lantas memilih berdasarkan pertimbangan nama saja; Mexicana Banana. Asumsi saya, mungkin pisangnya diimpor dari Meksiko hehehe. Padahal ada nama-nama lain yang juga menarik. Misalnya Ice Cream Galore, Ice Cream Bonanza, Ice Cream Mocha, Ice Cream Goreng, Ice Cream Bakar. Dua yang terakhir ini saya penasaran juga, apa benar ada proses “digoreng” dan “dibakar” dalam pembuatannya. Tapi, karena saya ini penggemar pisang, saya terlanjur memilih Mexicana Banana.

Dalam hitungan menit Mexicana Banana sudah tersodor di atas meja. Saya cicipi…. wuihhh… manisnya membuat saya tersentak. Saya korek-korek tumpukan cairan warna krem itu, tetap tak menemukan pisang; yang dominan justru taburan cokelat dan bubuk gula. Jadi, maksudnya banana itu apa sih? Bahkan sisa-sisa rasa pisang pun tak ada! Saya akhirnya terhenti di sendokan ke dua.

“Gimana pak, rasanya?” manajer hotel bertanya — mungkin sambil berharap ada pujian dari saya. “Sangat lezat… hanya memang terlalu manis untuk lidah saya.” Saya terlalu sulit membohongi lidah, terutama untuk memaksa menghabiskan es krim itu. Meski merasa bersalah, dengan cuek saya biarkan saja es krim itu teronggok dan akhirnya mencair.

Saya sebenarnya termasuk pemakan segala jenis makanan. Tetapi, seperti orang lain juga, tentu lidah kita punya selera yang berbeda-beda. Pedas bagi saya belum tentu pedas di lidah Anda. Manis yang saya rasa mungkin malah hambar di lidah orang lain. Itulah sebabnya tak pernah ada resep baku dalam buku-buku pelajaran memasak. Bahkan dengan bahan, campuran bumbu dan teknis mengolah yang sama, rasa makanan bisa menjadi berbeda. Taste sebuah makanan (konon) lebih ditentukan oleh taste orang yang memasaknya.

Oh iya. Jangan tertawakan saya soal es krim ini ya. Saya memang orang kampung, biasa lahap makan bakwan dan pisang goreng. Sesekali memang mencoba steak atau pizza, tapi demi lidah dan semua saraf perasa di mulut saya; nasi kuning dan lontong sayur tetap lebih istimewa.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.