Mari Siapkan Permintaan Terakhir

Lagi-lagi soal kematian. Para terpidana mati biasanya diberi kesempatan mengajukan “Permintaan Terakhir” sebelum ia dieksekusi. Boleh apa saja (yang masuk akal) kecuali permintaan agar eksekusi dibatalkan. Biasanya, selain meminta kesempatan bersembahyang atau ritual lain sesuai agamanya, terpidana mati juga ingin dipertemukan dengan keluarga — sekadar untuk salam perpisahan barangkali.

Dua terpidana mati asal Thailand, Namsong Siriliak dan Saelow Praseart, mengajukan beberapa permintaan. Salah satu permintaan unik diajukan oleh Saelow. Ia meminta, kalau sudah dieksekusi dan mati, mayatnya jangan diseret-seret. Sebab kaki kanannya pernah patah sementara ia ingin tubuhnya dikubur secara utuh. Kalau diseret, dia khawatir mayatnya rusak. Permintaan lain sih biasa-biasa saja, termasuk pesan agar beberapa benda seperti perhiasan dan foto-foto dikirim ke Thailand sebagai “warisan” untuk keluarga yang ditinggalkan.

Dibandingkan misteri kematian yang melingkupi semua manusia, para terpidana mati mungkin termasuk yang “beruntung” sebab mereka tanpa harus menunggu firasat sudah tahu kapan bakal tiada. Tinggal menghitung hari dan berbuat yang terbaik di sisa-sisa kehidupan. Dengan tobat yang tulus dan sungguh-sungguh, boleh jadi para terpidana mati itu justru terlapang jalannya menuju surga — sesuai janji Tuhan menerima tobat manusia.

Di sisa hari menunggu ajal yang hampir pasti, para terpidana mati memperoleh cukup kesempatan untuk merenungi hari-hari yang telah dilewati dalam hidupnya, kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, juga cita-cita yang belum tercapai. Ketika regu tembak telah memegang senapan, dan butir-butir peluru melesat menuju dada, sang terpidana akan wafat dengan tenang. Beda dengan yang ditembak mati, sang eksekutor tentu saja diselamatkan dari perasaan membunuh. Karena biasanya, dari 10 orang dalam regu tembak, hanya satu senapan berisi peluru sungguhan — sementara sisanya peluru hampa. Dan tidak seorang penembak pun tahu di senapan yang mana peluru sungguhan itu berada.

Kalau terpidana mati bisa menghitung hari menuju kematian, bagaimana dengan manusia-manusia penunggu kematian seperti kita, yang tak pernah tau kapan ajal menjemput? Tentu saja, betapa sulit mengisi formulir permintaan terakhir sementara kita tak pernah tahu kapan kematian itu tiba. Memang, pada beberapa orang, Tuhan sering memberi tanda-tanda. Entah dengan membuat kita sakit atau menghilangkan kesadaran fisik. Namun waktu sering membuat sang calon mayat terlanjur meninggal sebelum sempat mengajukan permintaan terakhir.

Maka, ambillah kertas dan pensil sekarang. Tulis di sana daftar permintaan terakhir yang akan Anda ajukan. Simpan kertas permintaan itu baik-baik, wujudkan semua yang masih bisa dan sempat diwujudkan, kerjakan semua yang masih bisa dan sempat dikerjakan. Ingat, malaikat pencabut nyawa bisa mengeksekusi kita kapan saja — sebab dalam urusan mati, nasib kita memang lebih kurang sama dengan mereka para terpidana mati. Bedanya, mereka tahu kapan bertemu ajal, dan karena itu sempat banyak-banyak bertobat di akhir hidup. Sementara sebagian di antara kita, yang bahkan sudah uzur, masih berkelakuan seolah-olah diberi kesempatan hidup lebih lama lagi.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

2 tanggapan untuk “Mari Siapkan Permintaan Terakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.