Kalau pengantin kebanyakan lazim disebut sebagai “Raja Sehari”, maka yang tampak di Brunei Darussalam hari ini tadi adalah raja diraja sebenar-benarnya raja…

Dialah, Pangeran Al Muhtadee Billah, sang Putera Mahkota Raja Brunei Sultan Hassanal Bolkiah, yang melangsungkan pernikahan super-mewah di negeri kecil di ujung pulau Kalimantan itu. Bak kisah-kisah dongeng kerajaan, Muhtadee meminang permaisuri cantik bernama Dayangku Sarah binti Pengiran Salleh Ab Rahaman.

Pernikahan agung yang disebut-sebut termewah di Asia itu berlangsung di gedung istana, yang di dalamnya terdapat 1.788 kamar saking besarnya. Sebagai bagian dari gegap-gempita, kedua mempelai diarak keliling kota naik kereta kuda, diiringi 103 limusin, kendaraan kerajaan dan prajurit istana. Sungguh sebuah perhelatan yang selama ini hanya dimaklumi dalam legenda-legenda kerajaan zaman dulu.

Pangeran Al Muhtadee adalah seorang pemuda gagah lulusan politik dan hukum internasional Oxford. Pada tahun 1998, Hassanal Bolkiah menetapkannya sebagai pewaris tahta kerajaan. Sementara mempelai wanita adalah gadis 17 tahun, anak seorang pegawai istana di Kementrian Kesehatan. Artinya, ini bukan sekadar pernikahan anak raja, tetapi pesta si calon raja.

Perkawinan, bagi siapa pun, adalah hari istimewa. Lebih-lebih bagi keluarga bangsawan. Lepas dari budaya feodal yang sulit dihindari di negara kerajaan, toh rakyat Brunei memberi apresiasi positif terhadap perkawinan Sang Putera Mahkota. Di saat seperti inilah rakyat berkhayal, kelak, dua anak muda ini yang akan menjadi raja dan ratu sanjungan mereka.

Bagi Brunei Darussalam, yang sering digelari negeri impian (karena kecil tapi kaya), menggelar pesta mewah demi kebahagiaan putera mahkota tidaklah menjadi soal. Rakyatnya justru bersuka cita dan larut dalam pesta. Budaya-budaya lama dimunculkan, termasuk pakaian-pakaian kebesaran kerajaan. Tak ada yang aneh, semua serba wajar.

Begitu dahsyatnya perilaku kaum bangsawan, sampai-sampai hampir semua pernikahan digelar seperti sebuah kerajaan. Tengoklah pesta perkawinan tetangga, saudara, atau Anda sendiri. Selalu saja pengantinnya didandani dengan pakaian raja! Pelaminan dibuat seperti sebuah istana, lengkap dengan dayang-dayang di kiri-kanan.

Yeah. Mungkin sudah kodrat kaum non bangsawan ingin merasakan duduk di singgasana bak raja, meski hanya pura-pura dan sehari pula!