Golput Nggak Golput yang Penting Pemilu

Besok pagi TPS-TPS dibuka kembali. Surat-surat suara dibagi dan setiap kita diminta masuk ke dalam bilik untuk menentukan pilihan. Golput atau tidak golput, nggak ada urusan, karena toh harus ada yang menjadi presiden.

Saya sebenarnya termasuk golput tulen. Waktu pemilu legislatif, saya tidur nyenyak di rumah daripada antre di TPS. Pemilu pilpres putaran pertama, saya jalan-jalan, singgah ke beberapa TPS untuk sekadar menyaksikan suasana pencoblosan. Besok pagi, saya bahkan belum punya pilihan; akan menggunakan hak suara atau golput (lagi).

Kalau pemilihan kepala daerah, kelak, dibuat langsung juga, maka bayangkan saja betapa repotnya kita ini. Akan ada banyak sekali pemilu. Mulai memilih anggota legislatif, anggota DPD, memilih presiden, memilih gubernur, memilih walikota/bupati. Belum terhitung pemilu untuk memilih lurah dan ketua RT.

Yang lebih cilaka, karena pemilu, maka semua roda kehidupan harus dihentikan sementara. Kalender dibikin merah. Kantor-kantor harus tutup. Pegawai diliburkan. Bahkan kita dilarang bikin kegiatan yang menghimpun massa, karena bisa dianggap kampanye terselubung.

Pemilu juga menguras sangat banyak uang. Untuk menggaji anggota KPU, beserta tetek-bengek fasilitasnya, dari pusat sampai daerah, tak kurang duit triliunan. Mencetak surat suara, membikin kotak suara, bilik-bilik suara berikut operasional petugasnya, beli tinta, membangun website TNP (tabulasi nasional pemilu) — yang kontroversial itu — dan sangat banyak urusan lain… hitunglah sendiri. Dan semua itu harus dibiayai dari kas negara.

Hitung juga dana kampanye para calon, baik yang kemudian terpilih masuk putaran dua maupun yang kandas di putaran pertama. Dari kampanye lapangan sampai iklan media. Biaya carter pesawat, gaji dan fasilitas tim sukses, biaya ini, biaya itu… hitunglah sendiri. Sumber dana kampanye ini sebagian jelas, sebagian (besar) lagi tidak jelas. Sebagian (mungkin) halal… sebagian lagi… entahlah.

Itulah sebabnya, pemilu bukan sekadar pesta demokrasi. Pemilu juga adalah komoditi. Yang laku dijual dan menghasilkan uang. Yang menjadi gantungan hidup banyak orang. Yang kelak, hasilnya, tinggal menjadi catatan dalam lembar-lembar sejarah. Sementara orang-orang yang kita pilih itu, yang hari-hari menjelang coblosan ini ngomong serba baik seolah-olah mereka manusia serba sempurna, akan sibuk dengan urusannya sendiri. Setelah pemilu, kita, rakyat yang diminta memilih ini, segera masuk kotak, dan baru akan dibicarakan kelak 5 tahun lagi, menjelang pemilu berikutnya.

Selamat berlibur (lagi) demi hari yang katanya pesta demokrasi…

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.