PON dan Kawin Silang

Selamat bertanding para atlet PON XVI. Palembang sekarang penuh sesak dengan manusia. Semua berlomba untuk menjadi juara.

Tapi, apa iya kita punya mental juara? Toh, Olimpiade yang baru saja berakhir di Athena hanya mencatat Indonesia di peringkat 48, dengan 1 biji medali emas, 1 biji medali perak dan 2 biji perunggu! Turun 11 peringkat dibandingkan Olimpiade Sydney tahun 2000, dan jauh lebih terpuruk lagi bila dibandingkan dengan prestasi olimpiade-olimpiade sebelumnya.

Saya kadang-kadang berpikir, betapa bodohnya negara ini mengirim atlet-atlet yang mereka sendiri tidak yakin bakal jadi juara. Buang-buang duit yang tidak sedikit karena hanya jadi spesialis atlet penggembira. Itu pun dengan didampingi ofisial yang jumlahnya kadang-kadang lebih banyak dari atletnya.

Kita memang bukan bangsa olahragawan. Sepakbola kita saja tak pernah naik kelas dari Piala Asia — itu pun dengan catatan masih jadi penggembira juga. Prestasi olahraga kita jauh lebih buruk dibandingkan negara-negara sekelas Uzbekistan, Moroko, Kenya, Kazakhstan.

Konon, satu-satunya penyebab kegagalan Indonesia di bidang olahraga adalah karena fisik orang Indonesia jauh di bawah fisik orang-orang di negara lain. Atlet kita badannya pendek-pendek, tidak selincah atlet negara lain. Ketika main bola lawan China, pemain bola kita sudah ngos-ngosan di babak awal, sementara pemain China terus berlari… berlari… berlari… ke sana kemari… tanpa tampak lelah. Hasilnya? Sebelum pertandingan usai, bahkan sebelum pertandingan itu digelar, Indonesia sudah yakin kalah! Hahahaha… kalah kok yakin!

Ihwal kekalahan fisik ini, seorang kawan punya ide gila. Dia bilang, kalau mau fisik atlet kita bagus, maka harus ada program kawin silang. Kumpulkan gadis-gadis pilihan asli Indonesia, lantas kirim ke negara-negara yang fisik penduduknya dikenal tinggi, kuat dan sehat. Di negara itu, gadis-gadis Indonesia ini dikawin-silangkan dengan penduduk setempat (yang harus pilihan juga)… sampai halim… eh, hamil dan melahirkan.

“Anak-anak hasil kawin silang itu, dirawat baik-baik, niscaya 20 tahun yang akan datang kita punya anak-anak muda berfisik kuat dan tidak letoy seperti kebanyakan atlet kita saat ini.”

Gimana. Berani coba?

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.