Wakil Rakyat yang Sok Ngurusi

Ada berita menarik dari Surabaya. Anggota DPRD periode 2004-2009 di kota itu sudah genap sebulan bekerja. Namun, selama sebulan ini, apa yang sudah mereka kerjakan?

Ternyata, tak ada satu pun yang berhubungan dengan rakyat. Kesibukan mereka antara lain membahas rencana-rencana peningkatan SDM diri mereka sendiri. Ada yang mengusulkan kursus internet, kursus bahasa Inggris, juga keterampilan ini-itu… tentu saja dengan rancangan anggaran belanja yang harus diambil dari uang rakyat. Puluhan anggota dewan tersebut ternyata masih harus dibikin pintar dulu sebelum bekerja. Yang jadi pertanyaan, kenapa untuk belajar internet dan bahasa Inggris, harus jadi anggota dewan dulu? Tidakkah itu semua adalah urusan pribadi. Lantas modal apa yang mereka bawa untuk duduk di parlemen, kecuali sekadar dukungan politik saat pemilu?

Model anggota dewan seperti ini, sesungguhnya, tidak hanya terjadi di Surabaya saja. Hampir di seluruh gedung wakil rakyat di Indonesia ada peristiwa-peristiwa aneh seperti ini. Bahkan juga di gedung parlemen paling besar di Senayan sana. Wakil rakyat kita terkuras waktunya untuk mengurusi diri sendiri, sehingga tak ada cukup waktu lagi mengurusi rakyat. Ah, lagi pula, bukankah “mewakili kepentingan rakyat” itu memang hanya jadi alasan belaka!

Tengoklah kerja rutin anggota dewan; masuk kantor, ambil honor, bersidang, ambil honor, rapat panmus, ambil honor, rapat pansus, ambil honor, rapat paripurna, ambil honor, kunjungan kerja, ambil honor…. bahkan saat reses (cuti) pun mereka masih pula menerima apa yang disebut sebagai “uang reses”. Ketika mengesahkan sesuatu dan palu diketok diikuti koor “setujuuuuu”, ada lagi “uang ketok”. Pendek kata, segala yang dikerjakan wakil rakyat itu urusannya adalah urusan duit.

Lantas, masihkah wakil rakyat diperlukan? Toh untuk memilih presiden pun kita sudah tak perlu diwakili lagi. Biarlah rakyat mengurus dirinya sendiri, ndak perlu wakil yang sok ngurusi padahal tidak ngurusi. Menurut saya wakil rakyat tetap diperlukan. Tetapi tak harus sebanyak sekarang. Mungkin setiap kota jumlahnya cukup 3 sampai 5 orang; sekadar jadi tong sampah untuk uneg-uneg rakyat. Kalau Anda bukan wakil rakyat, saya kok yakin Anda setubuh…., eh, …. setuju…

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.